Mengelola Keuangan Pribadi Bebas Ribet

Banyak dari kita percaya bahwa mengelola keuangan pribadi adalah aktivitas yang bikin ribet hidup sendiri. Sehingga belum dimulai saja, udah kerasa malasnya.

Padahal nggak sama sekali. Selama kita paham konsep yang tepat, mengelola keuangan pribadi pas baru pertama kali bekerja nggak akan sesulit yang kita bayangin.

Nah, kali ini wartadana akan share cara mengatur keuangan pribadi bebas ribet plus :

  1. Alasan mengapa perlu mengatur keuangan pribadi?
  2. 8 konsep pengelolaan keuangan pribadi
  3. Template budget keuangan pribadi

Yok keep scrolling.

 

Muda Itu Cuman Sekali

Ini prinsip hidup kita semua. Alasan untuk menikmati masa muda dan kepengen semua hal yang bikin senang aja.

Apalagi pas baru pertama kali bekerja dan baru rasain gimana enaknya punya gaji bulanan.

Nggak masalah kok mau menikmati hidup. Justru saya setuju banget : bahwa hidup harus dinikmati. Tapi, selain menikmati hidup kita juga harus mulai bikin fondasi demi masa depan.

Memang benar muda itu cuman sekali. Tapi lebih benar lagi kalo muda itu nggak selamanya.

Jadi saat masih mudalah kita bangun sesuatu yang kokoh, supaya saat nanti nggak bisa menghasilkan uang kita tetaplah bertahan hidup dengan kualitas yang layak.

Please jangan ikut ketawa dengan lelucon bodoh di sosial media yang menertawakan kemiskinan sendiri.

It is totally bullshit. Nggak ada enaknya hidup miskin. Nggak ada lucunya hidup susah. Nggak ada logikanya kita ketawa saat kita nggak punya uang.

Percayalah broke joke itu dibuat oleh orang-orang yang nggak pernah ngalamin hidup susah seharipun. Susah itu nggak lucu. Miskin itu bukan lelucon.

 

Awal Mulai Bekerja

Semua orang punya momen hidup pas-pasan dalam hidupnya. Terutama saat pertama kali meniti karir.

  • Ngelihatin rekening yang uangnya ditarik melulu.
  • Tabungan nggak juga nambah.
  • Hutang nggak juga kurang.
  • Gaji nggak juga cukup.

Gaji serasa kayak uang receh sementara ada banyak banget keinginan yang harus selalu dikesampingkan hanya karena “belum ada budget-nya”.

Mengelola keuangan pribadi terasa susaaahhhh bangettttttt.

Salah-salah ngatur, malah nambah hutang.

Percayalah, di awal karirnya hampir semua orang mengalami hal seperti itu. Tapi bukan berarti karena pernah susah, kita harus susah terus menerus.

Itulah alasan mengapa kita perlu belajar konsep mengatur budget, supaya bisa nemuin celah untuk mengatur uang dan bukannya diatur uang.

 

Mengapa Perlu Mengelola Keuangan Pribadi?

Ada dua tipe orang yaitu :

  1. Jago nyari uang jadi nggak perlu ngatur uang.
  2. Nggak jago nyari uang sehingga harus ngatur uang.

Prinsipnya cuman dua kalimat ini.

Kerja keras nyari uang atau kerja keras hemat uang.

Di masa awal karir, jangankan mau protes atau misuh-misuh cari penghasilan tambahan, keterima kerja saja sudah senang.

Sehingga di awal bekerja dibanding sibuk cari penghasilan tambahan, kita mesti fokus untuk mengatur keuangan pribadi. Karena mengatur uang lebih mudah daripada nambah penghasilan.

Mengelola keuangan pribadi itu hanya melibatkan diri kita sendiri. Jadi selama mampu mengontrol diri, maka 50 % prosesnya sudah berhasil.

Beda halnya dengan mencari uang tambahan yang melibatkan banyak pihak. Sehingga besar kemungkinan kita nggak akan dapatin uang tambahan dengan cepat.

Jadi mari mulai dari apa yang mudah untuk kita lakukan.

Analoginya sama kayak perusahaan yang melakukan efisiensi saat mengalami kesulitan finansial.

Keep scrolling, kita akan bahas 8 konsep mengelola keuangan pribadi saat pertama kali bekerja.

 

1. Biaya Bekerja Jangan Diganggu

Ingat : apapun kondisinya selalu amankan pekerjaan kita terlebih dahulu.

Karena siklus dasarnya adalah bekerja untuk mendapatkan uang. Uang dipakai untuk membiayai hidup. Kemudian hidup dipakai untuk bekerja lagi dan menghasilkan uang lagi.

Jadi saat kita nggak bekerja, kita akan kehilangan sumber penghasilan. Dan ujung-ujungnya yang susah adalah kita sendiri, karena penghasilan adalah modal dasar hidup.

Maka dari gaji yang kita terima, yang pertama kali kita sisihkan adalah porsi biaya bekerja seperti :

  • uang transportasi,
  • uang makan siang,
  • uang sumbangan sosial,
  • uang ngopi & berteman,
  • uang penampilan,
  • atau uang tidak terduga.

Tujuan mengamankan biaya bekerja adalah untuk menjaga agar kehadiran dan performa kita nggak terganggu.

Untuk mempermudahnya, komponen biaya kerja dibagi dalam 4 kategori yaitu :

A. Konsumsi

Konsumsi mencakup sarapan, makan siang dan jajan-jajan lainnya.

Tujuan menjaga budget konsumsi agar kita gak kekurangan nutrisi sehingga tubuh tetap sehat.

Saya sering banget jumpa dengan orang yang pengen hemat sehingga menomorduakan budget konsumsinya.

Catatan 1 : kita bakalan tinggal puluhan tahun di badan ini. Jadi jagalah dari muda. 

Badan itu sama kayak rumah. Begitu sakit biaya perawatannya sangat mahal. Makanya lebih baik kita fokus memelihara kesehatan.

Dalam hal konsumsi kita bisa pakai cara yang sesuai dengan budget, misalnya katering bulanan (karena katering bulanan lebih murah daripada makan di luar).

Atau saat budget terbatas, membawa bontot bikinan sendiri juga bisa dilakukan.

Cara mengatur budget konsumsi akan balik ke kita masing-masing. Selama konsumsi kita terjangkau dan bergizi, maka pilihan kita sudah tepat.

 

B. Tranportasi

Banyak opsi transportasi yang bisa kita pilih. Baik membawa kendaraan sendiri atau naik kendaraan umum.

Terserah mana yang fleksibel dan yang biayanya lebih murah. Plus tergantung tingkat kenyamanan kita.

Jika pake kendaraan pribadi semisal sepeda motor, kita mesti menyisihkan uang untuk :

  • investasi beli motor di awal, atau
  • cicilan motor setiap bulannya,
  • biaya bahan bakar rutin, dan
  • biaya maintenance.

Sementara untuk angkutan umum kita mesti cadangkan uang untuk ongkos pulang pergi ngantor selama sebulan terlebih dahulu.

 

C. Penampilan

Soal penampilan, berikut adalah 2 poin saya :

Catatan 2 : Penampilan itu penting.

Jangan dengerin omongan bahwa penampilan bukan segalanya.

That is bullshit.

Di jaman begini, orang-orang yang berinteraksi dengan kita akan menghakimi pertama kali berdasarkan penampilan.

Sehingga pastikan kita selalu tampil layak, bersih dan rapi. Nggak perlu mahal atau kece badai, cukup tampil layak dan rapi di awal karir kita.

Catatan 3 : Jangan gaya di atas kemampuan.

Ini adalah jebakan batman pertama. Saat pertama kali kerja, kita akan jadi orang yang paling ndeso di kantor. Dengan gaya paling murah dibanding senior yang lain.

Mereka sudah setengah jalan berkarir, sehingga pastinya lebih mapan dengan salary lebih besar. Hindari jadi copy cat mereka dan ngikutin style penampilan mereka.

Karena gaji kita pastinya belum cukup untuk gaya di atas kemampuan kita.

Selebihnya kembali ke diri kita masing-masing.

Selama masih masuk akal, silahkan gunakan budget penampilan. Tapi kalo sampai 50 % gaji difungsikan sebagai biaya penampilan, maka ada yang salah dengan cara pengaturan kita.

 

D. Sosial

Catatan 4 : Jika kita mau upgrade pekerjaan atau penghasilan, networking itu penting.

Jadi selalu sisihkan budget untuk bersosial.

Sifat bersosial adalah untuk berteman dengan orang yang tepat dan menjaga hubungan tersebut.

Budgetnya lebih fleksibel dibandingkan biaya bekerja lainnya, karena balik lagi ke kita masing-masing. Atur sendiri sanggupnya di angka berapa.

Contoh biaya sosial :

  • Sumbangan di kantor,
  • Acara komunitas,
  • Atau sekedar kuota internet untuk update LinkedIn.

Kita tinggal cocokkan budget dengan cara networking yang kita pilih.

 

2. Biaya Hidup Mesti Aman

Biaya hidup ini adalah kebutuhan pokok di luar aspek bekerja. Misalnya :

  • Tempat tinggal atau biaya kos,
  • Uang makan malam sepulang kerja,
  • Uang pulsa dan internet,
  • Setoran ke orang tua,

Yang ditulis sebagai biaya hidup adalah biaya pokoknya. Dan komponen biaya pokok setiap orang pasti beda.

Ada yang langsung masukin iuran BPJS ke dalam biaya pokoknya. Ada juga yang langsung masukin biaya asuransi dalam biaya pokoknya.

Kunci biaya pokok hidup adalah uang yang harus kita keluarin supaya hidup kita (di luar waktu bekerja) bisa jalan dengan normal.

Jadi biaya hidup:

  • uang konsumsi buat makan malam atau makan saat weekend,
  • uang pulsa buat komunikasi dengan teman,
  • uang internet buat selalu update di sosial media,
  • uang kost kalo kita nge-kost,
  • uang setoran buat ngebantuin orangtua,
  • uang sabun dan sampo dan peralatan mandi,
  • atau uang-uang apa saja yang keluar buat hidup kita sehari-hari.

 

Memahami Komponen Biaya Hidup

Untuk tahu apa komponen biaya kita, cara paling mudah adalah dengan menuliskannya. Jadi buat catatan rutin (baik di atas kertas atau di apps). Nggak usah ribet, cukup catat dengan konsisten.

Saya ngerti, bikin repot.

Tapi tanpa ditulisin kita nggak akan pernah tahu apa sih biaya pokok kita sebenarnya. Sehingga kadang ada biaya yang nggak perlu, tapi kita keluarkan terus menerus.

Dengan menuliskan biaya-biaya kita, mudah untuk melihat jenis biayanya. Apakah biaya yang harus dikeluarin, atau biaya karena kita nggak bisa menahan diri?

Saat sudah ada list-nya kita akan coret alias menghemat semua pengeluaran yang nggak penting.

Percaya deh, menuliskan biaya-biaya yang keluar akan ngasih tau seberapa bocor atau seberapa bagus pengaturan keuangan kita.

 

3. Kawal Biaya Entertainment

Jaman begini siapapun butuh hiburan. Sehingga kita nggak bisa menyingkirkan biaya hiburan dari budget kita.

Catatan 5 : Hiburan masa kini nggak harus mahal. 

Ini bukan jaman kakek nenek kita dimana tivi hitam putih masih langka atau jajanan kue gabin mesti dibeli satu kaleng besar. Semuanya mahal dan mesti beli partai besar.

Di luar sana ada banyak opsi hiburan yang terjangkau banget. Sehingga nggak layak untuk menghilangkan atau menekan budget hiburan.

Yang ada justru bikin kita ngerasa frustasi karena nggak bisa menikmati hidup.

Catatan 6 : Siklus bekerja adalah mencari uang untuk hidup.

Jadi sebagai kompensasi capeknya mencari uang, kita perlu ngasih hiburan yang layak bagi diri sendiri.

 

Biaya Have Fun Beda-Beda

  • Orang yang hobi DIY akan menghibur dirinya dengan membeli bahan-bahan craft.
  • Orang yang hobi nonton akan menghibur dirinya dengan tiket bioskop setiap weekend.
  • Orang yang hobi mancing akan menghibur dirinya dengan beli alat pancingan yang bagus.
  • Orang yang hobi gowes akan menghibur dirinya dengan beli peralatan sepedaan.

Hiburan itu bisa berupa hobi, bisa berupa pelarian sejenak dari rutinitas atau sekedar olahraga.

Jadi nggak harus liburan ke pulau tropis atau staycation di hotel bintang 4.

Catatan 7 : Hidup yang nggak kita nikmati akan bikin kita depresi.

Ini pengalaman nyata saya : selalu hemat dan nggak mau have fun.

Ujung-ujungnya saya stres sendiri, ngapain capek-capek kerja seharian kalo ujung-ujungnya nggak bisa dinikmati saat ini?

Mau dinikmati pas tua? Emang yakin bakalan hidup tahun depan?

Catatan 8 : Kita nggak perlu dengerin atau ikutin cara siapapun.

Selalu keluarin budget hanya untuk apa yang kita mau. Sehingga penting untuk memahami diri sendiri dan mengerti apa yang kita mau.

Please, jangan habisin waktu untuk ngikutin orang lain, atau dengerin saran orang lain tentang gimana cara untuk have fun.

Lakukan apa yang membuatmu senang. Titik.

Catatan 9 : Sebelum nyenengin orang lain, senengin diri sendiri.

Jadi jangan merasa bersalah saat belanja atau menyenangkan diri sendiri.

Selama kita sudah susun budget-nya, maka silahkan dinikmati.

Kuncinya adalah jangan terlalu berlebihan atau ikut-ikut gaya orang lain untuk have fun dan jangan terlalu kikir pada diri sendiri.

 

4. Punya Tujuan Finansial

Akhirnya sampai juga pada konsep yang text book. 

Percaya deh : di awal perkenalan saya dengan ilmu mengatur keuangan, saya benci banget dengan kata-kata tujuan finansial.

Erghhh, I hate it so much. Kalo ada orang ngomongin tujuan finansial, langsung saya block. Saking nggak sukanya.

Tapi waktu nunjukin bahwa tujuan finansial itu ternyata penting, nggak sekedar akal bulus dari perencana keuangan saja.

Tujuan finansial untuk memberi kita arah mau kemana kita sebenarnya.

Analoginya seperti ini :

Saat kita ngomong ke diri sendiri mau nabung Rp 100 ribu sebulan, tapi nggak tahu mau nabung sampai kapan dan tujuannya apa, ketika sewaktu-waktu ketemu dengan sesuatu yang distracting (pengalihan), kita akan menomorduakan tabungan tersebut.

Saya mau nabung 100 ribu bulan ini. Titik.

Seminggu kemudian ada promo harbolnas dan karena kita punya 100 ribu yang cuman kepengen ditabung, maka lebih baik belanja barang incaran (karena lagi promo lohh diskon 70 % – kapan lagi?).

The power of Tujuan Finansial

Percayalah saat kita punya tujuan keuangan, bahkan harbolnas sekalipun nggak akan menggoyahkan tujuan itu. Contohnya :

Saya mau nabung 100 ribu bulan ini untuk menyisihkan dana darurat 1 juta. Dana darurat untuk jaga-jaga kalo sewaktu-waktu saya sakit dan perlu beli obat.

Bayangin saat kita benaran sakit dan nggak mampu beli obat. Mungkin sakit nambah parah dan kerjaan terganggu. Mungkin sakit makin keras dan kita game over. 

Sekarang tanya ke diri sendiri : lebih layak belanja deal harbolnas atau kena risiko game over alias mati muda karena nggak mampu beli obat saat sakit.

Karena kita perlu lakukan proses cuci otak kayak gini pada pikiran sendiri. Supaya kita bisa keter dengan akibat kalo tujuan finansial kita nggak tercapai.

Catatan 10 : Menabung itu bertujuan mempersiapkan diri kita untuk banyak kemungkinan.

Jadi kita bisa lebay saat ngomong :

  • Saya mau nabung untuk punya dana cadangan. Jadi kalo mendadak dipecat saya masih bisa hidup sampai dapat kerjaan baru.
  • Saya mau nabung untuk modal buka usaha. Kalo saya terus kerja sama orang, kapan saya bisa hidup layak?
  • Saya mau nabung dengan tujuan untuk DP rumah. Kalo nggak punya rumah, pas tua saya mau tinggal dimana? Uang darimana buat bayar sewa rumah kalo sudah pensiun?
  • Saya mau nabung untuk modal jalan-jalan. Masa nggak kepengen naik pesawat sekali seumur hidup?

Kita bisa buat tujuan finansial apa saja, mau jangka pendek atau jangka panjang.

Catatan 11 : Selama punya tujuan, kita punya arah yang tepat dan nggak akan mudah ngikut arus.

Maka kita perlu lebay-lebaykan kondisi saat tujuan kita nggak tercapai, jadi kita akan lebih berhati-hati dalam bertindak.

 

5. Punya Dana Darurat

Tabungan darurat adalah tabungan dasar, yang idealnya 6 kali dari biaya hidup per bulan.

Misalnya kita punya biaya hidup nett termasuk hutang (kalau ada) 2 juta per bulan, maka idealnya kita memiliki tabungan darurat 12 juta.

Tujuannya dana darurat adalah untuk cover kondisi-kondisi nggak wajar. Misalnya saat kerjaan lagi susah dan gaji dipotong setengah. Atau saat kita terkena PHK.

Jadi dengan punya dana darurat kita masih bisa bertahan hidup dengan layak sambil mencari pekerjaan selanjutnya.

Di artikel mempersiapkan dana darurat ini, saya tulisin bahwa ada 2 pendekatan dana darurat  yaitu :

  • Dana darurat jangka pendek
  • Dana darurat jangka panjang

Bedanya adalah dana darurat jangka pendek ini untuk cover hal-hal yang lebih kecil. Contohnya kayak di atas : butuh uang untuk beli obat herbal, atau perlu uang untuk ganti ban yang bocor.

Sementara dana darurat jangka panjang untuk cover kondisi saat kehilangan pekerjaan atau sakit menahun.

Kembali sebentar pada poin ke-4 tentang tujuan finansial. Saat kita nggak tau atau belum punya gambaran tujuan finansial, silahkan gunakan dana darurat sebagai tujuan finansial tersebut.

Let’s say :

  • Saya mau nabung 100 ribu per bulan untuk menyisihkan dana darurat jangka pendek 1 juta.
  • Saya mau nabung 1 juta per bulan untuk menyisihkan dana darurat 6 kali dari biaya hidup bulanan.
Catatan 12 : Ingat selalu bahwa dana darurat bukanlah tabungan.

Memang sifatnya adalah uang yang kita simpan. Tetapi uang ini mungkin terpakai hingga habis. Mungkin juga nggak kepake.

Kalo nggak kepake syukur, bisa jadi dana tabungan kita. Kalo kepake, semoga nggak mengganggu tabungan kita.

Catatan 13 : Dana darurat jangan dipake sebelum masa darurat.

Bijaklah menentukan kapan mau pake dana darurat.

Jadi silahkan pikir panjang, apakah layak menggunakan dana darurat untuk jalan-jalan atau untuk sekedar ganti gadget karena bosan?

 

6. Buka Tabungan Berjangka

Kita nggak usah muluk-muluk dan yakin bahwa kita sangatlah mampu berkomitmen untuk menabung.

Bullsh*t.

Semua orang yang baru mulai kerja nggak akan bisa menabung rutin kecuali orangnya super pelit atau dapatin pelajaran finansial yang tepat dari keluarganya.

Jadi jangan berasumsi bahwa punya satu rekening tabungan adalah cukup.

Percayalah, risiko tabungan tercampur dengan uang sehari-hari sangatlah besar. Plus semakin mudah uang diakses, akan semakin cepat uang itu habis.

Jadi catatan 14 : Pertimbangkan untuk buka tabungan berjangka.

Tabungan berjangka adalah tabungan cicilan di bank. Jadi konsepnya kita mencicil tabungan sejumlah tertentu pada bank.

Kita bisa pilih tenor simpanan dan nominal simpanan. Rata-rata bank bikin tenor simpanan dari 6 bulan ke atas dan nominal minimal sebesar Rp 100 ribu.

Bedanya tabungan berjangka dan tabungan biasa adalah tabungan berjangka itu sifatnya wajib. Saat kita kelewat nggak nabung, kita akan kena hukuman berupa penalty.

Biasanya penalty ini besar dan untuk menghindarinya kita akan berupaya tepat waktu mencicil tabungan berjangka tersebut.

Semakin rutin kita menabung di tabungan berjangka, semakin terbiasa kita menabung. Apalagi saat kita melihat sendiri hasil tabungan tersebut.

Coba deh nabung Rp 300 ribu tanpa berhenti selama 3 tahun. Tebak, uangnya sudah terkumpul berapa? Sepuluh juta delapan ratus ribu.

Angka yang ‘lumayan’ banget yang nggak kalo nggak disimpan, nggak akan keliatan juga uangnya kemana.

Catatan 15 : switching.

Misalnya kita punya cicilan handphone Rp 300 ribu yang mau habis bulan depan, maka mulai alihkan 300 ribu itu ke tabungan berjangka.

Jangan hitung lunasnya 300 ribu itu sebagai tambahan budget have fun. Tapi hitung 300 ribu itu tetap sebagai kewajiban dan tabung uangnya.

Catatan 16 : hemat pengeluaran dan alihkan menjadi tabungan berjangka.

Hal ini bisa dilakukan saat kita ketemu budget yang bisa dikurangi, sehingga uangnya bisa disisihkan dan dimasukkan sebagai tabungan berjangka.

Coba saja tabungan berjangka pendek seperti 6 bulan. Kita akan terkejut ngeliatin hasilnya.

 

7. Belajar Berinvestasi

Investasi bertujuan untuk meningkatkan nilai uang kita.

Saat kita sudah mencapai angka atau titik tertentu, pertimbangkan untuk belajar investasi.

Silahkan klik artikel dasar Investasi ala wartadana :

Tapi ingat bahwa kita baru boleh berinvestasi setelah dana darurat sudah tersedia.

Katakanlah kita sudah punya tabungan di angka yang bagi kita cukup. Angkanya bervariasi, bisa jadi belasan juta, puluhan juta atau ratusan juta bagi kita.

Maka sudah tiba saatnya untuk mempraktekkan hasil belajar investasi tersebut. Di luar sana ada banyak pilihan investasi.

Yang jelas berinvestasi itu adalah untuk jangka panjang.

Jadi sewaktu investasi hasilnya baru akan dipetik 3 atau 5 atau 10 tahun ke depan. Nggak mungkin menikmati hasil investasi dalam waktu 1 atau 2 bulan.

 

8. Uji Coba

Coba terus menerus.

Bulan ini kita coba hemat di aspek makanan dan jajan. Kita ngasih budget berapa ratus ribu untuk dibelanjain buat makanan dan ngejalanin satu bulan dengan strict.

Bulan depan dicoba lagi, dengan nyimpan uang dari berhemat uang have fun.

Sampai kita temukan budget yang emang bisa dibuang sama sekali.

Budget keuangan pribadi adalah percobaan demi percobaan buat nemuin porsi yang pas buat ngabisin uang kita.

Coba terus sampai ketemu titik dimana kita  bisa hidup nyaman dengan uang yang nggak berlebihan.

Dengan nyoba-nyoba sambilan belajar mengenal diri sendiri.

Pengalaman saya pribadi : Sejauh ini saya bisa ngurangi uang transportasi dan uang penampilan. Dan masih struggle ngurangin budget makanan karena saya doyan makan.

Bisa jadi kita akan ketemu :

  • hei, gua bisa kurangin nih uang pulsa gua, lumayan buat ditabung’.
  • ‘hei, gua bisa kurangin uang belanja baju nih, bisa gua tabung buat beli emas nanti’.
  • ‘duh, sudah dikurangin malah nggak efektif’.

Semua itu wajar.

Sehingga balik kembali pada diri kita sendiri. Bulan depan mau dicoba lagi apa nggak? Atau menyerah?

Template Mengelola Keuangan

Jika kamu tertarik untuk mulai mengatur keuangan, silahkan download 2 lembar template mengatur keuangan saat pertama kali bekerja di link ini.

Cara isinya fleksibel sesuai dengan gaya masing-masing. Dan jika repot untuk download dan print, silahkan gunakan aps atau cukup kertas putih doang.

Mengelola Keuangan Pribadi

Mengelola keuangan pribadi itu bukan kerjaan yang sekali pukul langsung jadi.

Mengatur budget itu kayak lagi main puzzle 1.000 pcs. Semuanya ukuran kecil dan dalam keadaan kacau sementara mesti muat di board-nya.

Sama kayak semua biaya-biaya kecil yang mesti muat dalam gaji kita.

Susah-susah gampang.

Ada yang memang teguh pendiriannya, yang dengan mudah membuat budget dan nyimpan uang. Namun ada juga yang masih mondar-mandir dan tetap kesusahan ngatur uang.

Yang jelas setelah kita tahu konsepnya dan mau mencoba, kita sudah selangkah lebih maju.

Listening to Stone Sour – Looking through the glass

Baca Juga :

Link Wartadana :

Terima kasih sudah main ke wartadana.com

REFERENSI FINANSIAL KAUM MILLENNIALS

Ada konsep mengelola keuangan pribadi yang paten? Please share di bawah.

Summary
Article Name
8 KONSEP MENGELOLA KEUANGAN PRIBADI PERTAMA KALI BEKERJA
Description
8 konsep mengelola keuangan pribadi untuk yang baru pertama kali bekerja. Step by step yang masuk akal, nggak ribet dan mudah dilakukan.
Author
Publisher Name
www.wartadana.com
-

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *