Memahami Cara Kerja Investasi

Sesi 2 dari seri belajar investasi ala wartadana, yaitu untuk nyari tahu gimana cara kerja investasi?

Baca Juga : Belajar Memahami Investasi Dengan Logis

Ohya di sesi 1, saya lupa ngoceh mengapa saya memutuskan untuk buatin artikel khusus investasi seperti ini.

Makanya di pengantar artikel sekarang, ijinkanlah saya curhat sebentar 🙂

Kalo mau langsung baca cara kerja investasi, klik di sini.

Alasan saya bikin artikel soal investasi adalah :

  • Saya prihatin dengan artikel yang muncul sepanjang bulan ini, artikel tentang penipuan yang terbongkar atau artikel tentang investasi ilegal yang dibanderol oleh OJK.
  • Saya sedih memikirkan orang-orang yang ngabisin tabungannya untuk berinvestasi dengan cara yang salah dan terpaksa berkabung atas hilangnya uang itu.
  • Saya kesal karena banyak orang di luar sana, yang memanfaatkan sifat dasar manusia yang serakah untuk menguras hasil kerja keras orang lain. Tega banget!
  • Tapi yang paling terasa tonjokannya adalah saya sebel sama media-media di luar sana yang masih saja membuat artikel click bait tentang investor muda yang sudah punya harta milyaran.

Erghh!

Nggak tahukah mereka, kalo artikel-artikel tentang orang kaya yang diterbitkannya, justru membuat orang-orang biasa berhalunasi dan percaya bahwa dirinya cukup istimewa untuk itu?

Mending kalo orang-orang benaran menjadikannya sebagai motivasi untuk bermimpi jadi tajir melintir. 

Tau sendiri kebanyakan orang, doyannya yang gampang-gampang, ketimbang membaca mending nonton video, ketimbang belajar mending dengerin intisari dari sobatnya, ketimbang menabung mending investasi bodong biar cepet kaya!

Tanpa membuang waktumu lebih lama, silahkan scroll ke bawah.

Karena kali ini saya akan bahas :

  • gimana sih caranya berinvestasi,
  • cara dapetin keuntungan dalam berinvestasi,
  • untuk tahu apakah kamu telah layak berinvestasi atau belum.

Stay tune! Penting banget!

 

1. Cara Kerja Investasi

Di seri 1 tentang memahami investasi, sudah disampaikan bahwa investasi merupakan aktivitas pembelian aset yang tidak untuk digunakan saat ini, melainkan di kemudian hari guna menciptakan nilai yang lebih besar.

Dari kalimat ini disimpulkan bahwa untuk berinvestasi ada 3 komponen yang perlu kita perhatikan :

  • Modal alias uang untuk melakukan pembelian aset.
  • Keuntungan yang diharapkan sewaktu melakukan penjualan (tentunya disertai dengan potensi risiko yang terukur).
  • Waktu yang dibutuhkan untuk menunggu agar pembelian ini bekerja dengan baik dan nilainya bertambah sesuai dengan keuntungan yang kamu harapin.

 

Jadi kamu barulah berinvestasi saat kamu menempatkan sejumlah uang tanpa berharap untuk menikmatinya di saat itu juga.

Kamu barulah dikatakan berinvestasi saat kamu menempatkan sejumlah uang untuk bekerja dengan caranya sendiri dan baru akan memetik hasilnya bertahun-tahun ke depan.

Tapi di jaman serba cepat begini, investasi yang jangka panjang sangatlah membosankan. Ya kan?

Makanya banyak opsi investasi yang tersedia untuk jangka pendek atau jangka menengah.

  • Investasi jangka pendek, dengan rentang waktu 1-3 tahun seperti reksadana terproteksi atau emas batangan.
  • Investasi jangka menengah, dengan rentang waktu 3-5 tahun seperti reksadana atau obligasi.
  • Investasi jangka panjang, dengan rentang waktu di atas 5 tahun seperti properti atau saham.

 

Ingat bahwa : Kamu nggak bisa mengontrol hasil akhir dari sebuah investasi!

Ingat hal ini saat kamu memutuskan untuk berinvestasi.

Ada penyerahan diri pada masa depan, kala kamu menanamkan uangmu. Kamu percayakan pada masa depan untuk diaturnya sedemikian rupa.

Kamu hanya berperan untuk entry di modal tertentu dan di waktu tertentu.

Sisanya adalah sesuai perhitungan finansialmu, sesuai instingmu, sesuai hokimu, sesuai analisa grafikmu, sesuai apapunlah itu yang membuatmu memutuskan untuk masuk!

Syukur-syukur dalam prosesnya, cuan baik dan melewati ekspekstasi.

Tapi kalopun cuan-nya biasa-biasa saja, ada 2 komponan lain yang dapat kamu atur untuk memberikan hasil yang kamu inginkan :

  • Pokok investasi yang dibesarkan agar cuan-nya lebih maksimal, atau
  • Tenor investasi dipanjangkan agar cuan-nya jauh lebih maksimal lagi.

 

Apa Beda Tabungan dan Investasi ?

Bagaimana membedakan apakah uangmu harus disimpan sebagai tabungan? Ataukah uangmu harus diinvestasikan?

  1. Tabungan fungsinya adalah menyimpan uang, bukan untuk membiakkan uang layaknya investasi.
  2. Tabungan nggak punya komponen risiko, beda dari investasi yang berisiko.
  3. Tabungan bersifat likuid – dapat kamu tarik kapan saja, berbeda dengan investasi yang mesti memperhitungan banyak faktor (lama penjualan, harga penjualan).

Jadi belum tepat apabila angka dana daruratmu belum memadai, namun kamu telah entry berinvestasi.

Tapi bukan berarti salah! Insting orang beda-beda kan!

Secara logika sih, karena investasi mengandung komponen risiko maka saat kamu menanamkan tabunganmu sebagai investasi, kamu akan berada di posisi yang kurang menguntungkan.

Contoh :

Uang di tabungan hanyalah dana darurat yang kamu putuskan untuk dipake buat belanja saham XXXX. Secara historikal, kenaikan harganya ciamik dan pengurus perusahaan sering banget muncul di TV.

Entry. Harga bagus dan naik senantiasa. YESS!

Hingga di bulan kedua, kamu mendadak ada keperluan yang urgent. Mesti operasi gigi dalam yang posisinya miring dan nggak ditanggung oleh asuransi perusahaan pula.

Padahal gigi udah sakit banget, gusi sampai ngilu hingga membuat tidur nggak nyenyak.

Satu-satunya jalan adalah dengan menjual kembali investasimu. Syukurnya untung!

Yeay! Dapat untung dari investasi, bisa berobat dan gigi sembuh!

Itu kan di KONDISI ideal.

Hidupmu lagi berjalan di fase ‘bebek tanpa b’ dan harga saham favoritmu tersebut mendadak jeblok. Turun melulu.

Gigimu sakit luar biasa. Asuransi kantor nggak cover pula! Mau jualanpun sudah rugi 20 %.

Hati nggak terima, masa cut loss rugi di 20 %???

Pokok investasi yang kecil itu malah tersunat oleh keputusan investasi yang belum tepat. Pilihan lainnya adalah minjam uang atau gesek kartu kredit.

Sama-sama ngutang dan mesti dibayar. Padahal keuangan juga lagi pas-pasan aja nih.

Gimana dong?

 

2. Cuan Investasi

Sepakat ya bahwa untuk berinvestasi adalah dengan menanamkan sejumlah uang untuk ditunggu dalam kurun waktu tertentu hingga menghasilkan untung yang kamu mau.

Maka kini kamu akan belajar 2 cara untuk menikmati hasil investasi yang sudah kamu lakukan, yaitu :

a. Capital Gain

Capital gain adalah kenaikan dari modal yang kamu setorkan. 

Konsepnya : modal Rp 1.000 yang kamu masukkan tahun 2010 pasti berubah menjadi lebih dari Rp 1.000 di tahun 2019.

Modalmu akan naik.

Syukur-syukur angkanya lebih besar dari inflasi harga beras yang rata-rata 9 % per tahun.

Taroklah, saat kamu masukin modal Rp 1.000 di tahun 2010 kini investasimu berubah menjadi Rp 1.900 di tahun 2019.

Yang artinya naik 90 % selama 9 tahun atau 10 % rata-rata per tahun.

Yeay! Bisa menghajar inflasi tuh!

Pertanyaan yang timbul adalah : saat di tahun 2019 di harga Rp 1.900, apakah kamu akan melakukan penjualan?

Karena skenarionya akan berubah tergantung keputusanmu!

Let’s say – kamu memutuskan jual.

Artinya kamu telah merealisasikan profitmu. Artinya angka 90 % itu menjadi nyata, karena hasilnya sudah masuk ke rekeningmu.

Beda cerita – saat kamu memutuskan untuk tahan, dimana ada kemungkinan berikut :

  1. Harga kembali naik menjadi Rp 2.000 dan kamu jual -> realisasi profitmu bertambah dari 90 % menjadi 100 %.
  2. Harga turun pula hingga Rp 1.500 sementara kamu kepepet mesti jual -> realisasi profitmu hanya 50 % dari potensi 90 % yang dicapai sebelumnya.
  3. Harga turun hingga 1.500 dan kamu tahan -> ulangi lagi fase 1

See?

Begitulah cara untuk menikmati keuntungan investasimu jika kamu sumber keuntunganmu adalah capital gain.

Kamu wajib merealisasikan penjualan aset untuk menikmati profitmu.

Keuntungan seperti ini dapat kamu terima saat kamu berinvestasi dalam bentuk :

  • Emas
  • Properti
  • Saham

 

b. Interest / Kupon

Interest adalah bunga, sementara coupon adalah kupon.

Konsepnya sama seperti menyimpan uang dalam bentuk deposito bank, dimana kamu akan menerima bunga setiap bulannya secara teratur atau dalam 3 bulan sekali.

Dengan opsi kupon, dari angka investasimu akan diterima kupon atau bunga sejumlah tertentu sesuai dengan gambaran yang diberikan di awal.

Jadi nggak perlu mikir A-B-C, bunga atau kupon akan selalu masuk ke rekening. 

Keuntungan seperti ini dapat kamu terima saat kamu berinvestasi dalam bentuk :

 

Analogi cara menikmati hasil investasi : membeli rumah kos.

Capital gain adalah untung saat kamu membeli rumah di harga Rp 500 juta dan menjualnya 5 tahun kemudian di harga Rp 800 juta.

Interest / coupon adalah untung yang kamu dapetin setiap bulannya dari penghasilan rumah kos. Kalo ada 3 kamar dengan harga 1 juta per kamar, maka untungmu adalah 3 juta per bulan.

Dalam kasus membeli rumah kos, kamu bisa dapetin 2 keuntungan ini sekaligus. Karena rumah masih bisa dikos-kan dan rumah masih bisa dijual kemudian hari.

Tapi nggak semua investasi bisa dinikmati dengan kedua cara ini.

Seperti emas yang nggak bisa ngasih penghasilan bulanan secara rutin sehingga hanya dinikmati capital gain-nya saja.

Atau pembiayaan peer to peer yang angka modalmu nggak akan naik atau turun tapi dapetin bunga bulanan yang rutin.

Walopun ada juga jenis investasi yang bisa kamu nikmati capital gain dan kuponnya, seperti membeli obligasi negara atau membeli saham yang membagikan deviden setiap tahunnya.

 

3. Sudah Layak Investasi, Belum?

Nah, setelah mengerti apa sih itu investasi, gimana cara kerjanya dan keuntungan yang bikin ngidam, tentu kamu perlu tahu kapan sih waktu yang tepat untuk melakukannya?

Apakah boleh berinvestasi hari ini? Apakah boleh berinvestasi besok? Atau bahkan tahun depan?

Jawabannya liberal seperti biasa, boleh dong!

Tapi pertanyaan intinya adalah : apakah kamu siap dan layak untuk melakukan investasi?

Dari pengalaman saya sendiri, yang pernah entry investasi di posisi salah, dimana lagi-lagi karena artikel di internet saya pun meng-convert tabungan menjadi investasi, yang bikin kalang kabut saat butuh uang, maka ada 3 ciri yang nunjukin saat kamu sudah layak berinvestasi.

a. Hidup Sudah On Budget

Nggak mestilah 100 % sesuai budget. Tapi seenggaknya kamu tahu komponen pemasukan dan pengeluaranmu.

Kamu bisa mengontrol dirimu sendiri.

  • Kamu bisa memaksa dirimu untuk berhemat waktu harbolnas terjadi setiap bulannya, mulai dari 1-1 hingga 12-12. Ya kan?
  • Kamu bisa memaksa dirimu makan catering setiap siang daripada makan di luaran. Ya kan?
  • Kamu bisa memaksa dirimu untuk menyetorkan tabungan terlebih dahulu setelah gajian. Ya kan?

Saat kamu sudah bisa mengatur keuanganmu sendiri, wajarlah untuk berinvestasi.

Tetapi saat kamu saja masih keteteran mengurusin keuangan setiap bulannya dan hidup mepet mepet dari bulan ke bulan, investasi bukan solusi bagimu.

 

b. Punya Dana Darurat

Kalo kamu sudah on budget, pastinya kamu sudah menyisihkan beberapa Rupiah di rekeningmu. Dam sebagai orang awam kita selalu katakan uang di rekening sebagai tabungan.

Tapi saat belajar personal finance, istilah tabungan itu nggak terpake.

Seorang individu mesti punya :

  • Rekening biaya hidup bulanan (agar gak kecampur).
  • Rekening menampung dana darurat (tabungan). Yang fungsinya untuk meng-cover saat keadaan mendadak memburuk. Idealnya sih 6 bulan dari biaya hidupmu.
  • Rekening menampung investasi (jangka pendek hingga jangka panjang). Rekening inilah yang sering kita sebut tabungan. Karena sifatnya masih duduk di tempat belum dialokasikan ke instrumen investasi manapun.

Saat dana daruratmu sudah tersedia dan dapat diakses kapan saja, maka kamu sudah siap untuk berinvestasi.

Tetapi, bukan dana darurat tersebut yang diinvestasikan, melainkan tabungan yang tersisa.

Sebab tujuan awal berinvestasi adalah untuk menghajar inflasi. Tapi saat uangmu nggak ada dan kamu kelaparan, apa sih artinya inflasi?

Baca Juga : Menyisihkan Dana Darurat

 

c. Punya Tujuan Finansial

Penting banget bagi kamu untuk tahu apa sih keinginanmu, apa sih tujuanmu, apa sih fokusmu dalam hidup. Sebab ketiga hal ini akan jadi kiblat yang kamu tuju.

Ada yang nggak punya tujuan tapi menjadi kaya karena keluarganya.

Banyak orang yang nggak punya keinginan karena pelit tapi mampu menjadi kaya.

Tapi, kecil kemungkinan orang yang nggak punya keinginan atau tujuan atau fokus untuk menjadi kaya. Boro-boro!

Sebab tanpa keinginan atau tujuan atau fokus, mustahillah kamu bisa hidup sesuai budget apalagi sampai ngumpulin dana darurat.

Baca Juga : Konsep Smart Goal Finansial

***

Bukan berarti kalo kamu nggak punya ketiga hal di atas, maka kamu nggak layak berinvestasi ya…

Jika bagimu, keuanganmu memadai, lanjutkan!

Tapi. tolonglah jangan berinvestasi hanya bermodalkan nekad dan keinginan cepat kaya.

Apalagi saat kamu tahu tabunganmu masi terbatas, dana daruratmu adalah sisa plafond kartu kredit dan kamu masih sering kebablasan belanja.

One step at a time darling. One step.

————–

Akhirnya selesai juga sesi 2 kali ini tentang cara kerja investasi dan silahkan check out artikel sebelumnya maupun artikel lanjutannya.

Setelah membacanya keputusan tetap ada di tanganmu.

Mau maju, yuk mari! Mikir-mikir dahulu, silahkan! Mau mundur, please jangan!

LINK DI WARTADANA :

Terima kasih sudah main ke wartadana.com.

REFERENSI FINANSIAL KAUM MILLENNIALS

Masih bingung perihal cara kerja investasi, silahkan berkomentar di bawah!

Summary
Article Name
BELAJAR INVESTASI 02 : MEMAHAMI CARA KERJA INVESTASI
Description
Sedang mencoba untuk berinvestasi? Silahkan cari tahu terlebih dahulu cara kerja investasi melalui artikel wartadana ini!
Author
Publisher Name
www.wartadana.com
-

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *