Prinsip Mengatur Keuangan Pribadi Bagi Millennials

Mengatur keuangan pribadi? Apakah mungkin?

Saya juga pernah bertanya gimana bisa sih orang mengatur gaji bulanannya agar cukup?

Sementara saya kayak nggak cukup-cukup.

  • Heran kok orang lain ganti gadget melulu, sementara blackberry sebiji aja saya nggak kebeli?
  • Kesel mau makan aja mikir panjang soal budget.
  • Bla-bla-bla, semuanya soal pengeluaran yang selalu lebih besar dari pemasukan.

Kalo nggak ngerti caranya, mengatur keuangan pribadi itu hampir mustahil untuk dilakukan.

Apalagi saat nggak tahu mau mulai dari mana.

Saya butuh waktu hampir sepuluh tahun lamanya belajar untuk mengotak-atik keuangan supaya nggak melarat melulu.

Dari pengalaman 10 tahun tersebut, berikut adalah 6 prinsip mengatur keuangan pribadi yang saya pake karena nggak ribet dan mudah diterapin.

Kalo mau tahu keep scrolling ya

 

Ini Jaman Semua Orang Jualan

Dan jualan alias dagang jaman sekarang adalah cara cari uang yang paling gampang.

Nggak mesti kayak dulu, orang yang jago bicara dan tebel muka yang jualan. Sekarang siapa yang punya HP bisa jualan.

Cukup masuk ke grup WA dan post. Cukup masuk grup Facebook dan post. Percayalah, selama tekun nge-post pembeli akan datang (cepat atau lambat).

Sekarang masalahnya calon pembeli yang bingung dapatin pada begitu banyak tawaran dan produk.

Padahal rencana awal adalah kepengen uang stay dengan tenang di rekening.

Tapi balik lagi, karena ini jaman orang pada jualan, maka selalu ada barang baru untuk dibeli / dicoba.

Satu atau dua tahun hidup kayak gini sih masih normal. Toh masih belajar cara mengatur keuangan bulanan.

Pasti akan kebablasan.

  • Tapi masa sih mau dibiarin berkelanjutan?
  • Masa harus selalu melarat setiap bulan?
  • Mau jadi fakir tabungan terus menerus?

Karena orang akan tetap jualan.

Sehingga secara nggak langsung pembeli juga mudah banget mau belanja apapun.

Dan adalah jaman dimana kalo kamu nggak mikir dengan cermat, maka uang bakalan selalu keluar.

Ini efek dari mudahnya hidup. Dan secara nggak langsung, enak kok.

Sekarang solusi yang perlu dibutuhkan adalah gimana untuk mengatur keuangan dengan bijak.

  • Selama kamu pengen belanja dan punya budget, maka silahkan beli.
  • Tapi kalo budget terbatas, maka tundalah dahulu.

 

Mengapa Belajar Mengatur Cash Flow Pribadi ?

Bagi kamu yang berada dalam usia produktif, penting banget untuk belajar mengelola keuangan pribadi sedini mungkin.

Kenapa?

  1. Kemampuan mencari uang itu terbatas, sementara keinginan nggak terbatas. Jadi untuk menyeimbangkan hal ini, kamu perlu belajar cara mengatur keuangan pribadi.
  2. Orang muda pasti punya keinginan untuk bisa hidup bebas. Sehingga perlu belajar cara mengatur keuangan bulanan agar bisa bebas setiap saat (nanti saya akan bahas detil di bawah).
  3. Kamu punya masa depan sehingga kamu harus buat target keuangan pribadi demi masa depan tersebut.

Sekarang balik lagi kalo hidup masih pas-pasan, gimana mau mikirin masa depan?

Boro-boro mau memenuhi keinginan, nggak ngutang seumur hidup aja sudah prestasi besar.

Sehingga penting untuk mengubah cara mengelola keuangan demi masa depan dirimu sendiri.

Baca Juga : Pentingnya Mengatur Keuangan Sedari Muda

 

Keinginan Untuk Hidup Bebas

Kamu nggak lahir di jaman penjajahan yang mau nggak mau harus menurut pada keadaan. Nggeh aja.

Berterimakasihlah pada internet, karena kamu dapetin portal informasi tanpa batas.

  • Kamu nggak harus jadi sama kayak orang tuamu
  • Nggak perlu dengerin ocehan nggak berkualitas dari sodara.
  • Bisa verifikasi saran apapun dari temanmu.

Internet memberi akses terhadap informasi paling paten di planet ini.

Dan informasi ini ngasih tahu bahwa ada orang di luar sana yang bisa :

  • mengejar mimpi tanpa ampun,
  • mulai apapun dari nol,
  • menjadi dirimu sendiri tanpa khawatir akan pendapat orang lain.

Bener nggak? Bayangin baca deskripsi di atas sambilan dengerin lagu Iwa K – Bebas.

***

Jadi sudah siap untuk cari tahu prinsip mengatur keuangan pribadi demi masa depanmu?

 

1. Memiliki Tujuan Finansial

Klise emang.

Memiliki tujuan selalu jadi awal untuk memulai sesuatu.

Termasuk dalam mengatur keuangan pribadi masing-masing.

Punya tujuan finansial adalah hal pertama yang harus kamu miliki sebelum mulai merencanakan keuangan pribadi.

Misalnya nih kamu kepengen upgrade smartphone, dari merk X ke merk I.

Untuk memenuhi keinginan ini, kamu perlu hitung tabungan yang ada dibandingkan dengan harga smartphone incaran.

Setelah tahu angkanya, baru didapatkan nilai tabungan bulanan yang mesti kamu simpan selama berapa bulan.

Itu analogi sederhananya.

Tetapi untuk belajar mengelola keuangan pribadi, nggak cukup dengan menyelesaikan masalah yang muncul di depan mata.

Kamu perlu tujuan jangka panjang yang bisa disebut sebagai mimpi finansial. 

 

Punya Mimpi Finansial

Mimpi ini yang akan menghasilkan tujuan. Tujuan yang akan jadi bingkai goal kemana kamu fokus menendang bola.

Pertama kali belajar mengatur keuangan, saya sebel banget dengarin istilah tujuan finansial ini.

Terdengar kayak tujuan di acara MLM, nggak banget deh.

Emang kenapa kalo saya mau nabung supaya punya uang saja? Kenapa saya harus buatin tujuan finansial segala?

Karena saya keras kepala, saya nggak mau buka lagi situs-situs keuangan itu. Saya gunakan cara saya sendiri. Saya berhemat demi nabung. Titik.

Coba tebak, dengan pola pikir seperti itu berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk mengumpulkan tabungan sesuai dengan target saya?

Butuh waktu 4 tahun untuk menabung sesuai target saya, yang mestinya bisa selesai dalam waktu 1 tahun. Pfffftt!

 

Berani Memiliki Tujuan Finansial

Berkaca dari sana, barulah saya mengerti bahwa tujuan itu penting.

Kamu nggak bisa bilang :

Gua mau nabung segini, tanpa dilanjutin dengan tujuan spesifik akan digunakan untuk apa tabungan tersebut.

Kamu mesti berani ngomong:

  • Nabung 50 juta untuk modal usaha laundry.
  • Nyimpan 100 juta buat DP rumah.

Apapun tujuan kamu, boleh boleh aja.

Karena untuk mengakui apa yang kamu inginkan, butuh keberanian yang besar.

Lebih nyaman nggak perlu ngasih tau orang apa yang kamu inginkan, karena kalo nggak tercapai nggak mesti ngerasa malu terhadap mereka.

Tapi coba dibalikin deh!

Seharusnya perasaan malu tersebut bukan terhadap orang lain. Malu itu ke diri sendiri. Masa sih hidup sendiri nggak mau diperjuangkan?

Just saying loh!

Jadi sekarang putar musik favorit yang bikin semangat, buka aplikasi notes di smartphone dan mulailah bermimpi.

Ketikkan saja dulu apa yang terbayang.

  • membeli rumah impinan 3 tahun ke depan, atau
  • travelling ke Korea 2 tahun lagi, atau
  • melanjutkan pendidikan di tahun depan.

Ketikkan saja dulu.

Setelah selesai nanti, tentukan seberapa penting, seberapa urgent, seberapa inginnya kamu akan tujuan-tujuan finansial yang sudah diketik tadi.

Dream!

 

2. Memahami Pengeluaranmu

Banyak orang nggak pernah sadar berapa penghasilannya.

Mereka tahu angka gajinya berapa. Tapi pas belanja, mereka nggak punya gambaran tentang budget yang boleh dibelanjakan.

Ada juga yang maksa belanja dengan pembenaran nggak realistis : bayar pas bonusan atau pas THR nanti.

Padahal dalam mengatur keuangan pribadi, kamu harus realistis.

  1. Berapa penghasilan bulanan? Penghasilan bersih bulanan. Jangan hitung bonus karena sifatnya belum pasti. Jangan hitung THR, karena perlu digunakan buat Hari Raya.
  2. Berapa % pengeluaran dari penghasilan?
  3. Berapa angka tabungan bulanan untuk mendukung tujuan finansial di poin 1?

Semuanya kan perlu angka, bukan cuap-cuap doang.

Dengan tahu uang kamu larinya kemana saja, kamu tahu fokus sasaran tembak sewaktu berhemat.

  1. Tuliskan angka penghasilan bulanan yang pasti.
  2. List semua pengeluaran-pengeluaran rutin.
  3. Bikin angka tabungan minimal per bulan untuk mendukung tujuan finansial.

Apakah Gaji – Pengeluaran ≥ Tabungan?

  • Kalo iya, kamu bisa menabung rutin tanpa mengubah struktur pengeluaranmu;
  • Kalo enggak, kamu mesti bersedia berkorban mengurangi pengeluaran, agar ada spare untuk tabungan.

Caranya adalah dengan mengurangi biaya yang kamu rasa nggak perlu secara bertahap, bukan menghapuskan langsung pengeluaran tersebut.

Melakukan perubahan keuangan secara drastis bikin perubahan nggak akan bertahan lama. 

 

Your Tribe Will Get Your Vibe

Sebagai contoh : budget kebanyakan buat makanan.

Padahal basicnya, biaya untuk makan nggak harus mahal.

Tapi karena digabungin dengan kegiatan bersosialisasi bersama teman, maka kadang biayanya jadi bengkak.

Kalo begini, bolanya akan ditendang kembali ke kamu.

  • Bersedia mengurangi waktu nongkrong?
  • Sanggup nggak gaul demi tujuan finansialmu?

Ingat bahwa : teman yang baik akan mencoba memahami kamu.

Jadi kalo opsinya adalah untuk berhenti hang-out sementara waktu, jangan segan untuk melakukannya.

Saat ada teman yang nggak ngerti tujuan finansialmu, maka ini adalah waktu yang tepat untuk bersih-bersihin teman.

Karena teman akan tetap mengerti. Bukannya menjadikan momen ini untuk mengucilkan kamu. No way!

 

3. Nabung Dulu, Baru Jajan

Banyak orang yang menabung saldo yang tersisa di akhir bulan.

Padahal semua buku dan saran dari ahli keuangan bilang bahwa kamu harus menyimpan dahulu barulah jajan.

Mungkin akan lebih mudah menyimpan apa yang tersisa. Tapi, cara kayak gini nggak akan pernah berhasil.

Karena kamu menomorduakan tabungan.

Maka saat kamu sudah tahu mau nabung berapa setiap bulannya, langsung sisihkan. Nggak perlu nunggu akhir bulan.

Makanya kamu butuh :

  1. Rekening tabungan yang terpisah dari rekening gaji.
  2. Tabungan yang mesin ATM-nya nggak tersebar dimana-mana. (Kalo setiap kali tarik uang kena biaya Rp 3.000 atau Rp 4.000, kamu pasti akan mikir panjang waktu mau narik uang. 15 kali narik saja bisa beli pulsa sebulanan.)
  3. Rekening bebas biaya administrasi bulanan.

Sebagai bonus, kamu bisa buka rekening tabungan yang sistemnya setoran rutin bulanan / tabungan berjangka.

(Biasanya akan kena penalty jika berhenti sebelum jatuh temponya, sehingga waktu mau berhenti itu kamu akan mikir ulang)

Menyimpan apa yang tersisa di akhir bulan bukanlah menabung, karena besar kemungkinan nggak ada lagi uang yang tersisa di rekening.

Belajar menabung emang bikin dongkol.

Tapi apapun yang kamu lakukan, kalo hal itu bikin keter, capek, frustasi, maka artinya kamu sudah berada di jalur yang tepat.

Emang terdengar klise banget.

Jadi tabungan wajib dipaksain di awal, sebelum kamu jajan-jajan yang lain. Deal?

 

4. Evaluasi Keuangan Bulanan

Rencana itu nggak pernah tepat 100 %.

Boro-boro 100 %.

50 % saja yang jalan dari rencana, sudah patut dapat applause.

Sehingga di tengah jalan, kamu perlu proses yang namanya menilai keuangan pribadi.

Menilai kembali keuangan kamu, termasuk rencana tabungan vs realisasi tabungannya.

Kemungkinan besar kamu nggak bisa nabung 100 % sesuai rencana.

Bisa jadi bulan ini 100 %, tapi bulan depan 50 %, atau dua bulan lagi malah 0 %. Di sinilah kamu butuh evaluasi.

Dan tahap evaluasi ini nggak ribet kok.

  • Bandingkan rencana dengan apa yang terjadi.
  • Fokus pada berapa besar budget yang masih bocor.
  • Mikirin gimana cara mengurangi kebocoran itu.
Saran saya adalah saat rencana nggak terealisasi dengan baik, jangan menyesal terlalu lama. Akui aja, sempat khilaf lalu move on. Kembali berjuang. 

 

5. Berkomitmen

Komitmen itu kunci semua masalah.

Tapi sekaligus komitmen adalah hal yang paling susah dipenuhi. Karena kalo nggak ada komitmen, rencana nggak akan berjalan.

Pernah baca quotes berikut :

You can’t always stay motivated, you need to be discipline.
  • Nggak mungkin setiap hari kamu kepikiran akan tujuan finansialmu.
  • Bullshitlah bisa fokus pada sepanjang waktu.
  • Nggak normallah kalo kamu keingat untuk berhemat setiap kali mau belanja.

Makanya kamu belajar memegang komitmen dengan cara disiplin. 

Tanpa komitmen, mudah banget ngikutin arus. Dan mengikuti arus itu menyenangkan.

  • nggak capek mikirin uang
  • nggak perlu nyusahin diri 
  • nggak harus keras sama diri sendiri
  • bisa jadi kayak orang kebanyakan

Tetapi kalo bisa menyetir hidup kamu sendiri, jangan pilih untuk menjadi orang kurang secara finansial.

Percaya deh, punya uang itu jauh lebih menyenangkan daripada nggak punya uang.
pinterest.com

 

6. Belajar Finansial Terus

Belajar finansial emang terdengar membosankan.

Kebayang membaca artikel panjang yang tulisannya padat dengan bahasa kayak buku cetak sekolah dulu?

Saya juga nggak doyan. Makanya saya cari sumber literasi finansial yang menyenangkan di mata saya.

Dan itu juga yang bikin saya kepengen nulis blog yang bikin belajar finansial nggak terasa kayak belajar.

Balik lagi soal mengatur keuangan. Karena internet adalah portal informasi, kamu bisa temukan banyak solusi di sana.

Kepengen berhemat?

  • Ada begitu banyak aplikasi berhemat di luar sana
  • Aplikasi yang ngasih cash back
  • Aplikasi dengan promo menarik

Kepengen menabung?

  • Menabung secara konvensional?
  • Menyimpan pake skema syariah?
  • Menabung sekaligus membantu orang?

Kepengen investasi?

Apapun itu, informasinya ada di internet.

 

Informasi Gratis & Komplit

Ingat : ini jaman orang jualan.

Dan canggihnya jaman sekarang, sebelum mereka jualan mereka akan kasih free trial dulu.

Mereka akan ngajarin pembeli tentang ilmu yang dasar secara gratis. Pas pembelinya pintar, baru disodorin ilmu berbayar.

Kamu sebagai orang yang kepengen belajar mengelola keuangan pribadi, tinggal obrak-abrik internet.

Sehingga yang kamu butuhkan cuman keinginan untuk belajar.

Karena akan selalu muncul cara-cara baru, jalan pintas baru, atau metode baru yang lebih menguntungkan kamu.

Membaca tulisan-tulisan tentang pengelolaan keuangan pribadi akan ngasih kamu cara pandang yang baru.

Tanpa belajar lewat bacaan atau media apapun itu, progress mengelola keuangan pribadi bakalan lambat.

Karena dengan sistem otodidak, kamu habisin terlalu banyak energi buat coba-coba, yang biasanya mesti dilakukan berkali-kali hingga menemukan cara yang tepat.

Nah, kalo sekarang sudah ada cara pandang, tips dan trik, cara yang sudah berhasil dilakukan orang, kenapa kamu nggak pelajari dari sana dan kembangkan sesuai dengan gayamu?

Tanpa harus ngabisin waktu nyoba cara-cara yang nggak tepat.

***

Okei, segini dulu tentang prinsip mengatur keuangan pribadi. Semoga 6 prinsip ini masuk akal bagimu.

Sampai jumpa di artikel lain.

Baca Juga :

LINK DI WARTADANA :

Terima kasih sudah main ke wartadana.com

REFERENSI PERENCANAAN KEUANGAN PRIBADI MILENIAL

Apa prinsipmu dalam mengatur keuangan pribadi?

Summary
Article Name
MENGATUR KEUANGAN PRIBADI - 6 Prinsip Mengelola Keuangan
Description
Klik 6 Prinsip Mengatur Keuangan Pribadi dengan mudah, logis dan nggak bertele-tele. Jangan habisin waktu dengan artikel berat penuh jargon ekonomi.
Author
Publisher Name
www.wartadana.com
-

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *