7 PERTANYAAN BAGI DIRI SENDIRI SAAT KEBELET BELANJA

KEBELET BELANJA

Act I :


Berdiri di depan sebuah outlet fashion kelas internasional dan memandangi serta menyentuh setiap potong pakaian, tas, sepatu hingga aksesoris yang tersedia adalah kepuasan yang luar biasa.

Saya mengakui hal tersebut, karena saya juga doyan ngeliat-liat setiap pajangan yang ada di gerai-gerai mall.

Setiap helai pakaian disentuh, setiap potong sepatu dicobakan ke kaki, setiap tas disandangkan ke bahu dan berkaca mengamati dengan tenang. ‘Wow, this is nice’.

Act II :

Looking at the price tag. Membatin dalam hati. “F*ck. This is crazy.” “Mak, mau diet berapa tahun gua?” “Gosh, this price is killing me.”

Tapi karena cermin sudah nunjukin betapa bagus pakaian itu di badan kita, betapa pas potongan sepatunya dengan bentuk kaki kita, betapa keren penampilan kita dengan tas itu, maka dilema di dalam hati ini berlanjut menjadi perang.

Perang antara otak yang sadar bahwa kita belum dapat membeli barang tersebut, versus otak yang sudah kena pengaruh hati ‘Gua nggak akan ketemu barang sebagus ini lagi’.

Act III :

Balik ke kamu. Beli apa kagak?

7 PERTANYAN WAKTU KEBELET BELANJA

 

MENEKAN NAFSU BELANJA

Ada orang-orang yang mampu mengontrol dirinya untuk menahan diri. Mereka akan berpikir panjang dan dalam, demi mengeluarkan Rupiah demi Rupiah dari dompetnya.

Mereka akan menjaga agar uang nggak keluar dengan mudah dari rekening mereka.

Walopun kadang, bagi orang-orang ini batasan antara hemat dan kikir adalah sangat super tipis. But it’s okay, they can save a hell lot of money.

Trus gimana kalo kita masuk ke geng satu lagi? Geng yang super mudah mengobral Rupiah-Rupiah dari kantongnya.

Saya pernah mengenal orang-orang di geng ini, yang dengan mudah selalu menemukan sesuatu untuk dibeli. Saya kagum banget.

Dan ini bukan sarkasme, karena saya benar-benar kagum dengan cara mereka berpikir, bahwa semua hal harus mereka miliki. Jadi mereka rela mengorbankan uang yang mereka punya.

Masalahnya sekarang adalah yang kita butuhkan bukanlah membuang Rupiah dalam sekali kedipan.

Yang kita butuhkan adalah menahan setiap Rupiah yang kita miliki dalam kantong dan rekening kita. Kenapa? Buat apa?

Karena lebih baik punya uang daripada punya barang. It’s that simple.

Kapanpun kamu butuh barang apapun, kalo kamu punya uang barang itu akan tersedia.

Kapanpun kamu butuh uang, barangmu akan tetap jadi barang.

So yeah! Kita mesti berpikir ulang mengenai keputusan untuk membeli sesuatu. Bahkan yang harganya murah sekalipun.

Berikut adalah 7 pertanyaan yang mesti kita tanyain kepada diri sendiri sewaktu lagi kebelet belanja, untuk membuat keputusan belanja yang paling baik.

 

1. Butuh apa nggak?

Coba tunjuk tangan, siapapun yang merasa bahwa mereka pernah beli barang yang nggak kepake?

Artinya bukan berarti barang itu nggak berguna, hanya saja nggak kepake.

Entah nggak pernah ada momen untuk menggunakannya, nggak applicable dalam hidup kita atau sebenarnya nggak guna buat kita.

Saya tunjuk tangan paling tinggi. Suer deh, sebelum saya belajar berhemat saya adalah orang boros yang super aneh.

Saya bisa beli printilan-printilan yang bikin saya nggak habis pikir saat ini. Buat apa?

Saya punya satu kotak peralatan craft yang sudah bertahun-tahun nggak pernah saya sentuh. Saya punya beberapa helai pakaian yang nggak pernah sekalipun saya kenakan. Saya punya band olahraga yang nggak pernah sekalipun saya pakai.

Dan list-nya akan menjadi panjang sekali dan random.

Poinnya adalah saat saya melihat barang-barang tersebut, suhu tubuh saya mendadak panas.

Saya mendadak kepengen banget dan berpikir bahwa ‘Hey, I really need this thing’.

Semua dari kita akan sampai di momen itu. Dan dibanding langsung melakukan pembelian di waktu yang sama, mending tutup layar online shop-nya dan nyari udara segar dulu.

Coba pikirin panjang lebar, kamu butuh nggak barang itu?

Kalo jawabanmu tidak, ya sudah. Stop!

Kalo jawabanmu iya, pindah ke pertanyaan selanjutnya.

 

2. Bakalan kepake apa nggak?

Okay, sepertinya saya emang butuh pensil baru itu. Okay, sepertinya saya emang butuh sepatu lari yang baru. Okay, sepertinya saya emang butuh barang ini.

Baiklah kalo kamu merasa bahwa kamu butuh, tapi apakah barang ini akan kepake?

Contohnya mau beli sepatu lari, sudah tahu sepatu yang sekarang masih bagus, kapan kepake-nya sepatu baru itu?

‘Iya, tapi ini lagi diskon. Nggak akan semurah ini lagi nanti.’

Tapi kamu mungkin nggak akan ganti sepatu tahun ini. Jadi mau dianggurin gitu saja selama setahunan?

‘Kan bisa gonta ganti.’

Lha, emangnya kamu lari tiap hari? #lariseminggusekali

Dan saya berharap dari diskusi singkat ini kamu sadar bahwa kita akan selalu jumpa dengan barang yang kita butuhkan, tapi nggak akan kepake.

Contoh paling sederhana bagi saya adalah payung.

Semua orang tahu kalo di musim hujan kita butuh payung. Tapi saya sudah lupa kapan terakhir kali saya pake payung, karena ribet banget bawain sebatang payung kemana-mana, jadi basah dikit nggak masalah deh.

Emang butuh, tapi kalo dilihatin dari karakter kita barang itu nggak akan kepake, mending jangan dibeli, ketimbang jadi pajangan di gudang. Sakitt.

 

3. Mahal nggak sih?

Kemahalan nggak sih harganya? Kamu selalu punya pilihan untuk ngecek ke toko sebelah, ngeliatin market place lainnya, Atau nyari yang tahu harganya di mesin pencari.

Jaman sekarang belanja kemahalan itu adalah dosa yang kita buat sendiri.

Dan tanpa mendiskreditkan siapapun, saya sering lihat di market place online masih ada pembeli yang belanja di toko yang harga barangnya mahal banget.

Saya kadang kaget, setelah bandingin harga dan ngeliatin masih ada pembeli yang rela bayar harga 2 kali lipat dibanding harga normal.

Kok bisa?

Alasannya cuman satu. Bagi dia harganya normal. Karena dia nggak ngecek, dia nggak tahu harga pasaran dan dia nggak mau repot.

Padahal kalo dia mau mainin jarinya sedikit aja, akan selalu ada penjual yang harganya masuk akal dan terjangkau.

7 PERTANYAAN SAAT KEBELET BELANJA

Sebelum kamu belanja, selalu pastikan kalo harga barang yang akan kamu beli itu sudah yang terbaik, entah dari diskonnya, dari cashback-nya, dari layanan penjual, atau dari perbandingan dengan penjual lain.

BACA JUGA : TUTORIAL MUDAH BIKIN AKUN OVO

 

4. Ada toko lain yang jual lebih murah?

Dalam proses bandingin harga, kita akan cari tahu ada nggak toko yang menjual barang serupa dengan harga lebih murah?

Akan selalu ada perbedaan di setiap penjual. Mungkin secara merata margin mereka sama, tetapi mereka akan naikin harga di satu produk dan jual murah di produk lain.

Tugas kita adalah membandingkan dan dapetin harga paling murah. Kalo emang ada dua toko, ya split saja belanjanya, dengan catatan ongkirnya free.

Apapun yang masuk akal dah. Karena kita menghemat uang kita sendiri loh…

Pokoknya jangan capek untuk nanya ke diri sendiri, toko lain bakalan lebih murah nggak ya?

 

5. Ada barang substitute yang lebih murah?

Taroklah barang yang kita mau dan butuhkan dan akan kepake itu adalah barang yang cukup mahal.

Okay, coba mikir ada nggak barang substitute yang harganya lebih murah? Ada nggak merk lain yang kualitasnya mirip tapi lebih terjangkau?

Beda merk nggak masalah. Toh yang kita butuhkan adalah fungsi dan kualitasnya.

Jangan capek untuk selalu cari tahu produk pesaing yang harganya lebih miring. #nyimpanuang

 

6. Gua masih ada sisa uang buat beli ini?

Duh, masih ada nggak budget buat belanja ini?

Ini poin pentingnya. Jangan sampai nggak ada budget tapi dipaksain, disisipin sampai meledak budget kita.

Karena barang-barang yang kita mau, kita butuhkan dan akan kita pake itu akan terus diproduksi pabrik.

Nggak beli hari ini, besok pabriknya masih beroperasi, penjualnya masih mau jualan dan ekspedisi masih mau mengirimkan buat kita.

Jangan maksa belanja.  Kalo nggak mampu, maksudnya budget kita udah ketat banget ya kita ngalah saja.

Toh barang itu bakalan tetap ada. Hari ini besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan.

It will always be there. Nungguin kita punya uang. Nungguin budget kita cukup untuk membeli ‘mereka’ (barang itu).

 

7. Bakalan nyesal nggak gua beli ini?

Yap, this is the tricky one.

Nyesal nggak sih gua beli ini?

Karena nyesal itu adalah perasaan terburuk yang pernah diciptakan di bumi ini. Menurut saya.

Saya paling takut nyesal. Saya nggak takut kecewa, nggak takut sedih, nggak takut patah hati atau apapun. Saya paling takut nyesal.

Karena nyesal itu kayak bilang sama diri sendiri. ‘Kenapa saya nggak dengarin kata kamu?’

Yep! Kita mesti tanyain kepada diri kita sendiri, bakalan nyesal nggak gua beli ini? Apakah nggak nyesal saya nanti setelah belanja ini?

Kalo jawabanmu adalah anggukan, artinya ada kemungkinan kamu menyesal, maka segera lari dari toko tersebut, segera tutup layar online shop di smartphone.

 

Nah, saya tahu kadang kebelet belanja bisa muncul begitu saja. Mereka datang dengan dorongan yang kuat.

The force is strong with them.

Tapi, coba deh pikir baik-baik sebelum membeli apapun itu. Karena sebagai cewek, mayoritas kita belanjain uang untuk sesuatu yang nggak akan jadi uang ke depannya.

Maksudnya belanja-belanja konsumsi kita adalah untuk menghabiskan uang tanpa ngasih tambahan nilai uang bagi kita.

Kalo gitu kenapa nggak kita tahan diri dan #nyimpanuang?

Pekanbaru, 21 Mei 2018 17.55

PS : #girlsliftothergirlsup

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!


Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *