Similar Posts

5 Comments

  1. Astagaaa ini bener banget huhuhuhuuu :””)
    aku baru akhir feb 2020 kemarin nyoba invest di P2P Am*rtha, ku udah baca2 sihh sebenernya terkait how they work, dan cara jualan mereka yg ‘social impact’ bikin aku tergerak (apalagi ada kawanku sendiri yg dy pernah invest di P2P ini dan sukses pengembalian 100% dengan bunga yg lumayan).

    Tbh aku baru melek finansial 2 tahun ini, dan investasi jg di beberapa platform: saham, SBR, ama deposito. Long story short, akhirnya aku naruh 10jt untuk modalin 2 mitra usaha di P2P itu (beda area, beda bidang usaha). Trussss malah kebentur ama korona ini, sampe sekarang cicilan pengembaliannya bener2 macet yang….. liat mereka gagal bayar mulu di tiap minggunya tuh agak miris nyesek gitu… (bahkan belum ada 10% biaya pokok yg kembali) :”
    Asli jadi pembelajaran sih buatku ini… emang belajar dari pengalaman tuh kadang mahal harganya :'(

    1. Hi Mbak Tiara,
      Iyah Mbak. Harga belajar itu emang mahal banget.
      Tapi seenggaknya uda nyobain Mbak, jadi next time bakalan lebih prudent dalam milih instrumen investasi.
      Makasih ya Mbak sudah nulis pengalamannya di sini, jadi pembaca yang lain bisa baca pengalaman Mbak dan lebih hati-hati sebelum investasi.
      🙂

  2. Kalau saya punya pengalaman sebaliknya dengan P2P. Punya akun di beberapa P2P tapi yang paling nyaman KoinWorks. Bunga 20% seperti artikel diatas itu memang risiko defaultnya besar. Credit scoring di KoinWorks yang paling unggul makanya itu juga perlu dijadikan acuan sebelum masukkin dana.

    Saya beri pinjaman di KoinWorks dengan total bunga 19.5% rentang waktunya 16 bulan, dan sejauh ini fine-fine saja.

    Bulan lalu malah coba pinjaman lain yaitu KoinRobo yang bisa dipilih karakter usahanya langsung. Walau, bunga yang ditawarkan juga turun dibanding penawaran P2P biasa. Ada di kisaran 7 – 9% saja.

    Itu sharing saya, hehe. Tapi memang, yang likuid dan efisien itu reksadana atau saham.

    1. Hi Mas Hanuraga.
      Saya setuju kalo P2P itu diversifikasi yang baik. Seneng juga dengar pengalaman investasi kamu yang lancar dan nyaman sebagai investor P2P.
      Bisa jadi bahan pertimbangan buat calon investor P2P lainnya.

      Nanti kalo ada progress pinjaman KoinRobo yang berdasarkan karakter usaha, boleh tuh bantu update di sini. Biar ada pembaca lain yang dapat insight langsung dari investor P2P langsung.

      Poinnya artikel ini adalah nggak nyaranin investor pemula untuk langsung investasi di P2P.

      Saya juga setuju bahwa saham dan reksadana emang lebih likuid dibanding P2P. Tapi semua investasi punya risiko dan mekanisme investasinya masing-masing. Jadi balik ke investornya, selera dan gaya investasi mereka seperti apa.

      Terima kasih sudah sharing di sini. 🙂

  3. Sebetulnya p2p juga pada akhirnya akan untungkan bank karena ujug-ujugnya makin nambah lagi calon-calon debitur cuma yah lewat ‘calo’ (kasarnya sih gitu)

    Kemudian bank sendiri sudah mulai berinvestasi secara masif di p2p seperti Mandiri, standartd charterd dan koinworks yang kini memberi fasilitas rekening virtual dan reksadana pasar uang yang bisa diotomatisasi. Sehingga dana recehan bisa masuk tanpa harus diajukan pengguna koinworks

    Saat ini Amartha akan jadi p2p kedua yang diuji serupa dengan Mandiri.

    Sementara itu, BCA dengan CCV sebagai perusaahan Ventura juga bakal menambahkan fitur rekening virtual untuk p2p Akseleran. Dan RDPU Trim kas 2 dengan mitra tanamduit (tapi harus diajukan dulu oleh pengguna Akseleran)

    Saya sendiri sudah jadi pengguna Akseleran sejak 2018 akhir sampai sekarang. Memang betul ada beberapa debitur yang pembayarannya macet tapi dana pokoknya akhirnya masuk juga setelah tunggu sampai 93 hari. (Karena di Akseleran memang harus menunggu sampai 90 hari dan ini sudah ada regulasinya di OJK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *