Hindari Investasi Peer to Peer 

Terutama bagi kamu yang masih pemula dalam dunia investasi usahakanlah untuk hindari investasi peer to peer.

Yok, keep scrolling, kita akan bahas :

  • Pengertian Investasi Peer to Peer
  • Gimana Model Investasi Peer to Peer
  • Alur Investasi Peer to Peer
  • 5 Alasan Skip Investasi Peer to Peer

 

Pengertian Investasi Peer to Peer

Dalam laman ini disebutkan bahwa investasi peer to peer adalah skema investasi dengan pemberian hutang secara langsung kepada pihak peminjam, tanpa ada institusi keuangan yang menengahinya.

Coba lihat chart berikut untuk memahami gambaran cara kerja pembiayaan peer to peer :

Dalam skema investasi peer to peer, kita sebagai investor dihubungkan oleh perusahaan kepada peminjam.

Sebagai investor, dana akan diberikan balas jasa berupa bunga. Sementara kepada peminjam, dana akan dikenakan bunga.

Peer to peer sendiri secara hararfiah artinya adalah dari ujung ke ujung. Yang berarti tersambung dari satu objek ke objek lainnya.

Peran perusahaan hanyalah untuk menghubungkan kedua belah pihak dan mengutip fee dari kedua belah pihak.

Sehingga secara sederhana, investasi peer to peer adalah skema investasi dimana kita memberikan pinjaman kepada orang lain sebagai modal untuk menjalankan usaha mereka. 

Secara prinsip, peer to peer merupakan model bisnis yang baik, karena pengusaha diberi kemudahan untuk meminjam modal tanpa jaminan dan bunga yang masih masuk akal.

Secara nggak langsung, investorpun turut serta dalam memajukan perekonomian rakyat.

Ohya, peer to peer disebut juga P2P.

Model Investasi Peer to Peer

Hanya ada 3 komponen dari model investasi peer to peer, yaitu :

1.  Perusahaan Penyedia Jasa

Adalah perusahaan yang menyediakan jasa untuk pembiayaan peer to peer. Alias platform yang kita pilih.

Ada banyak perusahaan penyedia layanan peer to peer di Indonesia dari yang memiliki ijin hingga yang tidak memiliki ijin dari otoritas.

Peran perusahaan pembiayaan adalah untuk :

  • membangun sistem,
  • menentukan tarif,
  • membuat scoring pinjaman hingga
  • mencari calon-calon Debitur.

Karna mereka yang akan menengahi antara Debitur dengan Investor. Sebagai balas jasanya, baik Kreditur maupun Investor akan dibebankan fee yang tarifnya bervariasi.

2.  Investor / Kreditur

Adalah orang-orang yang hendak menempatkan dananya untuk dipinjamkan ke pihak ketiga.

Dalam hal ini, sebagai balas jasa dari dana tersebut, investor akan diberikan bunga pinjaman.

Bunga ini bervariasi tergantung grading dari calon peminjam serta jangka waktu pinjaman.

Rata-rata saya lihat rate-nya kisaran 14-20 %.

3.  Peminjam / Debitur

Adalah calon Debitur yang membutuhkan pendanaan untuk usahanya.

Kebanyakan layanan peer to peer masih membiayai fasilitas tanpa jaminan sehingga banyak diincar oleh pengusaha kecil.

 

Kok Banyak Pihak Promoin Model Investasi Begini?

Saya juga heran awalnya, kok banyak yang promosi-in?

  • Kenapa iklannya muncul dengan gesit di layar smartphone saya?
  • Kenapa teman saya yang doyan investasi juga menyarankan hal yang sama?

Satu-satunya jawaban adalah karena rate bunga yang lebih tinggi dari deposito.

Saya setuju banget. Rate-nya memang lebih tinggi.

Tetapi jika kita bandingkan dengan risikonya, saya pikir nggak tepat bagi pemula untuk mengambil opsi ini.

Dan kita akan bahas mengapa sebaiknya investor pemula hindari investasi peer to peer. Keep scrolling ya.

 

Alur Investasi Peer to Peer

Bagi investor, berikut adalah 6 alur investasi peer to peer.

1.  Membuka Akun

Silahkan pilih (hanya jika tertarik untuk berinvestasi) dari beberapa platform yang sudah mengantongi ijin dari OJK.

Saya yakin pembukaan akun gampang, karena memang itu keunggulan fintech.

Siapkan data basic seperti KTP dan NPWP dan mulailah mengisi dengan tepat form aplikasinya.

2.  Menyetorkan Dana Investasi

Beberapa perusahaan fintech sudah bekerjasama dengan bank untuk pembukaan akun virtual. Jadi kita tinggal menyetorkan dana atau transfer ke rekening virtual tersebut.

Jika diperlukan, silahkan verifikasi nominal setoran dengan angka yang masuk ke dalam saldo peer to peer kita.

3.  Memilih Pembiayaan

Menurut saya inilah bagian tricky-nya. Karena kita nggak punya informasi yang memadai tentang si peminjam. Bahasa kasarnya kita sedang bertaruh dengan masa depan.

Sulit sekali menilai kemampuan membayar peminjam hanya berdasarkan bunga yang ditawarkan, jangka waktunya hingga score calon Debitur tersebut.

4. Checkout Pembiayaan

Setelah menemukan pembiayaan peer to peer yang tepat, kita diwajibkan untuk melakukan checkout. Prosesnya semacam berbelanja online. Setelah pilih maka dibayar.

Bedanya adalah di tahap ini, dana kita yang telah terpotong itu masih ditahan oleh perusahaan.

Menunggu hingga mencapai nominal yang diajukan atau tenggat waktu yang disepakati, barulah dicairkan ke peminjam.

5. Pembiayaan Disalurkan

Setelah mencapai nominal yang diinginkan atau waktunya sudah sampai, maka dana yang tadinya ngumpul di perusahaan, mulai disalurkan kepada peminjam.

Kemudian oleh peminjam dana akan digunakan sesuai dengan kebutuhan mereka.

6. Pengembalian Pembiayaan

Tugas kita setelah dana disalurkan adalah menunggu dengan tenang hingga pinjaman peer to peer jatuh tempo.

Karena dalam skema pembiayaan ini, kita nggak bisa berhenti di tengah jalan.

Sekali maju ya maju hingga pinjaman dilunasi. Nggak ada opsi mundur tengah jalan.

Setelah jatuh tempo, fasilitas akan dilunasi oleh peminjam beserta bunganya. Dana kembali masuk ke rekening kita dan siap untuk diputar lagi.

Jangan ketipu dengan cerita saya yang super smooth ini ya. Karena risiko terbesarnya yaitu gagal bayar belum diceritakan di bagian ini.

 

5 Alasan Investor Pemula Wajib Hindari Investasi Peer to Peer!

Setelah kita paham gimana cara kerja investasi peer to peer, barulah kita dapat bicara tentang mengapa setiap investor pemula sebisa mungkin menghindari investasi peer to peer.

 

 

01.

Berisiko Tinggi

Semua orang tahu bahwa berinvestasi di instrumen apapun pastilah ada risikonya.

Sehingga tugas kita dalam berinvestasi bukanlah mencari investasi dengan tingkat risiko terendah. Melainkan mencari tingkat risiko yang terlayak.

Dalam investasi peer to peer, risikonya adalah uang kita nggak akan kembali lagi.

Karena sewaktu kita memberikan uang pada orang asing yang nggak pernah kita temui, kita harus sudah ikhlas kalo uang itu nggak bakal balik lagi.

Bahasa kecenya : Risiko kehilangan nilai investasi hingga 100 %. 

Memang benar ada beberapa platform yang memberikan asuransi pinjaman apabila terjadi gagal bayar. Tapi banyak juga platform yang nggak punya skema asuransi seperti ini.

Percaya deh, sewaktu checkout pembiayaan nggak akan terlintas sedikitpun opsi bahwa peminjam nggak mampu bayar. Kita yakin dia mampu bayar, pasti! Yakin 2000 %.

Sampai nanti pinjaman peer to peer belum dibayarkan saat jatuh tempo dan jawaban dari call center masih proses penagihan, barulah kita mengerti bahwa risikonya begitu besar. 

Maka saya selalu sarankan investor pemula untuk hindari opsi pembiayaan peer to peer.

Barang ini adalah untuk investor yang sudah canggih, punya portofolio besar dan butuh diversifikasi agar cuannya makin gede. Kalo kita-kita masih junior dalam bidang investasi, mending hindari pembiayaan peer to peer.

 

02.

Return Nggak Setimpal

Seperti sudah dituliskan di awal. Rate peer to peer adalah sekitar 20-an %.

Rate adalah % bunga yang dibayarkan atas pinjaman / pembiayaan. Return ini akan diberikan sewaktu pinjaman lunas dan dipotong fee kepada perusahaan peer to peer.

Pertanyaan saya adalah : apakah layak demi return 20 % kita makan risiko kehilangan investasi 100 %?

Beberapa orang ngomong :

  • kan nilainya lebih tinggi dari deposito bank.
  • kan dengan modal kecil bisa dapat untung segitu.
  • kan namanya investasi, pasti ada risiko.

Sekarang, saya balikin ke contoh kisah nyata saya berikut :

  • Dengan modal Rp 1 juta untuk investasi P2P, dalam waktu 5 bulan modal saya sudah nyangkut 50 %-nya yaitu Rp 500.000.
  • Pinjaman yang nyangkut bunganya 20 % pa selama 3 bulan.
  • Penghasilan bunga hanya Rp 25.000.

Logika sederhananya : Rela kehilangan Rp 500 ribu demi untung Rp 25 ribu?

Apakah layak sebagai investor pemula yang udah capek-capek nyisahin uang demi masa depan, kita kehilangan pokok investasi demi return hanya 20-an persen per tahun?

Ingat : kita bukan investor gede yang matang dengan portofolio berserakan dimana-mana.

 

03.

Nggak Likuid

Sewaktu berinvestasi dalam format lain, kita bisa kapan saja melakukan penarikan dana.

Katakanlah membeli saham atau reksadana. Kita bisa menjualnya kapan saja.

Memang ada risiko harga turun. Tapi seenggaknya pas lagi butuh dana, investasi itu masih bisa ditarik.

Bagaimana jadinya dengan investasi peer to peer?

Realistis saja, uang investasi tersebut sedang digunakan pihak ketiga untuk melanjutkan usahanya.

Apa yang terjadi saat kita yang masih investor pemula mendadak membutuhkan uang ? Paling minjam atau nyari KTA.

Ingat bahwa kita ini investor pemula, masih bayi-bayinya.

Tabungan kita masih pas-pasan, menyisihkan uang buat investasi pun susah minta ampun. Belum lagi fondasi finansial kita kan belum sekokoh investor kelas kakap di luaran sana.

Investor pemula itu nggak bisa berinvestasi dengan cara yang sama dengan investor canggih yang punya dana milyaran.

Apalagi masuk ke pembiayaan peer to peer yang dana investasinya baru bisa cair setelah pihak ketiga melunasi pinjaman tersebut. Itu pun kalo peminjamnya bayar dengan lancar.

Kalo yang bersangkutan nunggak, titip salam deh sama Rupiah-Rupiah tersebut!

 

04.

Nggak Membantu Banget

Katakanlah kita ingin membantu pengusaha-pengusaha kecil di luar sana untuk mengembangkan usahanya. Investasi dengan tujuan yang sangat mulia.

Memberikan uang kita untuk membantu orang membangun usaha.

Tapi pernah nggak kepikiran, kalo memang benar hendak membantu rate bunga 20 % per tahun itu nggak masuk akal.

Usaha mana sih yang hari gini bisa ngasih untung lebih dari 20 % per tahun.

Kan nggak mungkin minjam uang dengan bunga 20 % demi dapat laba 20 % juga. 

Mereka pasti perlu mencetak laba lebih dari 20 % per tahunnya. Dan di sinilah dilemanya.

Pembiayaan peer to peer selalu jualan : investasi dengan dampak sosial (social impact). Tapi selama bunga yang dikenakannya masih tinggi, sebenarnya siapa sih yang sedang dibantu?

Belum lagi kalo pembiayaan peer to peer-nya untuk keperluan konsumsi. Apa yang sedang dibantu pun nggak jelas. 

  • Kalo bunga rendah, buat apa investasi pembiayaan P2P?
  • Tapi kalo bunga tinggi, apa bedanya pembiayaan P2P dengan KTA bank bagi Debitur? 

 

05.

Mikirin Diri Sendiri Aja

Siapa yang setuju dengan kalimat ini?

Dimengerti jika kita ingin berbuat baik sewaktu berinvestasi. Tapi yang namanya double-double gini nggak akan maksimal.

  • Mending berinvestasi dengan diri kita sendiri sebagai titik fokusnya.
  • Mending berinvestasi dengan tujuan agar cuan dengan risiko yang masuk akal.
  • Mending berinvestasi karena ingin agar uang kita bertambah di masa depan.

Kecuali kita sudah jadi investor canggih, maka boleh banget investasi sambil memikirkan dampak sosialnya.

Nah, sekarang sebagai investor pemula yang masih kelas teri ini, marilah fokus mikirin diri sendiri aja. 

  • Lihat deh pasar saham yang harganya berjatuhan setelah Mr Donald ngoceh di internet.
  • Lihat deh mall yang semakin lama semakin sepi.
  • Lihat deh jambret yang semakin kesini semakin rame.

Tanpa kita sadari, kondisi ekonomi dan sosial di sekeliling kita sedang nggak baik.

Kaitannya dengan investasi peer to peer adalah pengusaha kecil yang menjadi peminjam seringnya berada di lapisan terbawah dalam perekonomian.

Sewaktu kondisi ekonomi memburuk sedikit saja, mereka terpapar risiko paling tinggi. Dan sewaktu mereka terpapar risiko tersebut, kita juga ikut terpapar risiko kehilangan nilai investasi.

Demi untung belasan hingga 20-an persen, kita mesti memikirkan banyak hal.

Padahal harusnya cukup mikirin diri sendiri dulu deh. 

 

Pembiayaan Peer to Peer

Bagi yang memiliki keberatan terhadap kelima alasan di atas, feel free untuk berkomentar di sini. Opini kamu sangat dihargai di wartadana.

Sementara bagi yang hatinya ragu untuk maju, maka mundurlah dan simpan uangmu dalam format lain. Rejeki kamu nggak akan hilang hanya karena melewatkan satu skema investasi.

Mohon mengerti bahwa artikel ini nggak bermaksud menjelekkan pihak manapun atau mendiskreditkan institusi manapun.

Saya share ini khusus untuk investor pemula yang belum memahami mekanisme investasi. Tujuannya agar kita paham bersama sebelum melakukan investasi apapun.

Kalo setelah ini kamu masih percaya diri dan positif untuk investasi peer to peer, silahkan lanjut. Doa saya menyertai duit investasimu.

BACA JUGA :

LINK DI WARTADANA :

  • Instagram wartadanablog => sharing perihal perbankan dan kredit dalam format yang lebih sederhana.
  • Pinterest wartadana => pin banyak quotes finansial.
  • Twitter wartadanacom => sharing artikel menarik atau video menyenangkan dari internet.
  • Sitemap wartadana =>melihat artikel-artikel yang sudah diterbitkan di blog ini.
  • Jika kamu adalah pengguna Pocket, connect dengan saya di sini.

Terima kasih sudah main ke wartadana.com

REFERENSI FINANSIAL KAUM MILLENNIALS

Pekanbaru, 18 Mei 2019 – update 21 Mei 2020.

Jika ada bantahan tentang hindari investasi peer to peer, feel free untuk komen di bawah.

Summary
Article Name
5 ALASAN INVESTOR PEMULA WAJIB HINDARI INVESTASI PEER TO PEER
Description
Investor pemula yang sedang intip intip model investasi peer to peer, wajib klik artikel hindari investasi peer to peer sebelum mulai investasi.
Author
Publisher Name
www.wartadana.com
-

Similar Posts

5 Comments

  1. Astagaaa ini bener banget huhuhuhuuu :””)
    aku baru akhir feb 2020 kemarin nyoba invest di P2P Am*rtha, ku udah baca2 sihh sebenernya terkait how they work, dan cara jualan mereka yg ‘social impact’ bikin aku tergerak (apalagi ada kawanku sendiri yg dy pernah invest di P2P ini dan sukses pengembalian 100% dengan bunga yg lumayan).

    Tbh aku baru melek finansial 2 tahun ini, dan investasi jg di beberapa platform: saham, SBR, ama deposito. Long story short, akhirnya aku naruh 10jt untuk modalin 2 mitra usaha di P2P itu (beda area, beda bidang usaha). Trussss malah kebentur ama korona ini, sampe sekarang cicilan pengembaliannya bener2 macet yang….. liat mereka gagal bayar mulu di tiap minggunya tuh agak miris nyesek gitu… (bahkan belum ada 10% biaya pokok yg kembali) :”
    Asli jadi pembelajaran sih buatku ini… emang belajar dari pengalaman tuh kadang mahal harganya :'(

    1. Hi Mbak Tiara,
      Iyah Mbak. Harga belajar itu emang mahal banget.
      Tapi seenggaknya uda nyobain Mbak, jadi next time bakalan lebih prudent dalam milih instrumen investasi.
      Makasih ya Mbak sudah nulis pengalamannya di sini, jadi pembaca yang lain bisa baca pengalaman Mbak dan lebih hati-hati sebelum investasi.
      🙂

  2. Kalau saya punya pengalaman sebaliknya dengan P2P. Punya akun di beberapa P2P tapi yang paling nyaman KoinWorks. Bunga 20% seperti artikel diatas itu memang risiko defaultnya besar. Credit scoring di KoinWorks yang paling unggul makanya itu juga perlu dijadikan acuan sebelum masukkin dana.

    Saya beri pinjaman di KoinWorks dengan total bunga 19.5% rentang waktunya 16 bulan, dan sejauh ini fine-fine saja.

    Bulan lalu malah coba pinjaman lain yaitu KoinRobo yang bisa dipilih karakter usahanya langsung. Walau, bunga yang ditawarkan juga turun dibanding penawaran P2P biasa. Ada di kisaran 7 – 9% saja.

    Itu sharing saya, hehe. Tapi memang, yang likuid dan efisien itu reksadana atau saham.

    1. Hi Mas Hanuraga.
      Saya setuju kalo P2P itu diversifikasi yang baik. Seneng juga dengar pengalaman investasi kamu yang lancar dan nyaman sebagai investor P2P.
      Bisa jadi bahan pertimbangan buat calon investor P2P lainnya.

      Nanti kalo ada progress pinjaman KoinRobo yang berdasarkan karakter usaha, boleh tuh bantu update di sini. Biar ada pembaca lain yang dapat insight langsung dari investor P2P langsung.

      Poinnya artikel ini adalah nggak nyaranin investor pemula untuk langsung investasi di P2P.

      Saya juga setuju bahwa saham dan reksadana emang lebih likuid dibanding P2P. Tapi semua investasi punya risiko dan mekanisme investasinya masing-masing. Jadi balik ke investornya, selera dan gaya investasi mereka seperti apa.

      Terima kasih sudah sharing di sini. 🙂

  3. Sebetulnya p2p juga pada akhirnya akan untungkan bank karena ujug-ujugnya makin nambah lagi calon-calon debitur cuma yah lewat ‘calo’ (kasarnya sih gitu)

    Kemudian bank sendiri sudah mulai berinvestasi secara masif di p2p seperti Mandiri, standartd charterd dan koinworks yang kini memberi fasilitas rekening virtual dan reksadana pasar uang yang bisa diotomatisasi. Sehingga dana recehan bisa masuk tanpa harus diajukan pengguna koinworks

    Saat ini Amartha akan jadi p2p kedua yang diuji serupa dengan Mandiri.

    Sementara itu, BCA dengan CCV sebagai perusaahan Ventura juga bakal menambahkan fitur rekening virtual untuk p2p Akseleran. Dan RDPU Trim kas 2 dengan mitra tanamduit (tapi harus diajukan dulu oleh pengguna Akseleran)

    Saya sendiri sudah jadi pengguna Akseleran sejak 2018 akhir sampai sekarang. Memang betul ada beberapa debitur yang pembayarannya macet tapi dana pokoknya akhirnya masuk juga setelah tunggu sampai 93 hari. (Karena di Akseleran memang harus menunggu sampai 90 hari dan ini sudah ada regulasinya di OJK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *