A BIG NO : INVESTASI REKSADANA DENGAN DANA KARTU KREDIT

Pernah saya baca artikel di luar sana yang memberi solusi ‘surga’ untuk ber-investasi reksadana dengan dana kartu kredit.


Saya percaya bahwa tujuan artikel ini baik yaitu mengajak kita untuk ber-investasi reksadana. Tetapi caranya yang kurang tepat.

Karena nggak ada cerita : ‘berinvestasi dengan hutang’.

Jangan Investasi Reksadana dengan Dana Kartu Kredit

Ada perbedaan dasar antara membeli investasi dengan hutang vs membeli aset konsumsi / aset produktif dengan hutang.

Aset adalah harta yang memiliki fungsi krusial dalam hidup kita (seperti rumah sebagai tempat tinggal atau kendaraan bermotor sebagai alat transportasi).

Sehingga saat kita ngutang untuk membeli aset artinya aset itu kita akan pake untuk keperluan konsums, atau aset tersebut akan kita pakai untuk nyari uang.

Kesimpulannya aset itu ngasih manfaat tambahan buat kita secara langsung.

BACA JUGA : 4 INVESTASI MENGUNTUNGKAN DI BAWAH 1JUTA

 

Kalo kita ngutang untuk beli reksadana artinya kita ngutang untuk hal-hal yang sifatnya spekulatif.

Kenapa dikatakan spekulatif?

Karena reksadana yang kita beli itu hanya di-diam-kan sembari menunggu harga naik untuk dijual kembali. 

Pertanyaan berikutnya adalah siapa sih yang bisa memastikan reksadana yang kita beli itu harganya akan selalu naik tanpa kemungkinan turun sama sekali?

Nggak ada yang bisa memastikan bahwa HARGA reksadana akan selalu naik.

Sehingga sewaktu kita membeli reksadana, ada elemen spekulasi : harganya akan naik.

Sisanya paling keyakinan kita karena lihatin fund fact sheet yang return tahunannya bagus.

Padahal elemen spekulasi ini sangat berbahaya dalam aktivitas investasi.

BACA JUGA : MENGENAL REKSADANA BAGI PEMULA

 

Bank Indonesia sendiri melarang bank-bank untuk memberikan kredit yang sifatnya spekulatif.

Dalam konteks sederhana, nggak banyak bank bisa membiayai pembelian tanah kosong, apalagi tanah kosong yang hanya akan didiamkan saja.

Bank bisa membiayai tanah kosong yang dibeli untuk dibangun pabrik di atasnya, atau tanah yang nantinya akan digunakan untuk keperluan produktif.

Jadi, kalo kita ke bank memohon kredit untuk membeli tanah di suatu daerah yang kita yakin 10 tahun ke depan pasti berkembang, 100 % kredit tersebut ditolak.

Karena bank hanya dapat memberikan kredit dengan tujuan konsumsi atau produktif.

Sehingga jika bank saja nggak bias memberikan kredit dengan tujuan spekulatif, mengapa kita mesti berinvestasi (yang hasilnya masih spekulatif) dengan pinjaman kartu kredit?

Lanjut baca hingga selesai untuk tahu apa alasan untuk tidak membeli investasi reksadana dengan dana kartu kredit termasuk hitungan plus-minusnya?

 

1. Bagaimana dapat untung dari reksadana?

Reksadana adalah investasi yang paling terjangkau bagi kita.

Dengan modal 100 ribu saja saat ini siapapun sudah bisa berinvestasi reksadana.

Dan mendengar kata ‘investasi’ bermodalkan uang 100 ribu, siapa yang nggak mau coba?

Tapi apakah pernah kita bayangkan dahulu, bagaimana bentuk keuntungan dari investasi reksadana?

Karena nggak seindah kedengarannya, untung reksadana itu hanya timbul dari selisih antara harga beli dan harga jual.

 

Contoh :

Kita membeli reksadana di tahun 2010 sebesar Rp 500.000 dengan harga reksadana per unit sebesar Rp 1.250. Berarti unit reksadana yang kita miliki adalah 400 unit (Rp 500 ribu / Rp 1.250).

Di tahun 2012 kita menjual reksadana tersebut saat harga per unitnya di Rp 1.350. Nilai penjualan kita adalah Rp 540.000 (400 unit x Rp 1.350).

Berapa keuntungan yang diperoleh?

Benar!

Rp 540.000 (nilai jual) – Rp 500.000 (harga beli) = Rp 40.000

Angka keuntungan ini masih gross, karena belum dikurangi fee penjualan (jika ada) dan biaya lainnya.

Tapi sebelum kita menjual, walopun di Bloomberg harga reksadana kita sudah tinggi, artinya ‘kita belom untung’.

Karna harga reksadana bisa naik turun, takutnya sewaktu kita butuh uang dan mau jual, malah harga lagi jelek. Sehingga yang terjadi adalah RUGI. 

 

2. Kartu Kredit dan bunga-nya

Kartu kredit adalah fasilitas kredit dari bank tanpa agunan yang sifatnya untuk membiayai kebutuhan konsumsi, semisal membeli barang.

Penggunaannya fleksibel sekali, tinggal digesek lalu masukin PIN, dan taraa! Done.

Bunga kartu kredit saat ini di kisaran 26,95 % hingga 39 %.

Aslinya bunga yang ditetapkan BI adalah 26,95 % tapi masih banyak bank penerbit kartu kredit yang belum menyesuaikan bunga mereka.

Bunga kartu kredit sifatnya flat per tahun. Tapi kebanyakan kita masih diberikan term of payment selama sebulan.

BACA JUGA : EVERYTHING ABOUT CREDIT CARD

 

Contoh :

Kita ambil fasilitas dana tunai yang disediakan oleh kartu kredit.

Jika limit kartu kredit kita adalah Rp 10 juta, maka diberikan fasilitas dana tunai 1/2 dari limit yaitu Rp 5 juta.

Tidak ada biaya provisi, hanya bunga sebesar 1 % per bulan, jangka waktu maksimal 24 bulan.

Sehingga kita hanya perlu membayar biaya transfer dana sebesar Rp 10 ribu.

Jika kita manfaatkan fasilitas tersebut sebesar Rp 5 juta, cicilan 12 bulan, bunga 1 % per bulan (beberapa bank penerbit ngasih bunga cicilan lebih rendah dari bunga biasa), berapa kewajiban yang timbul?

Hitungan kewajiban bunga kita adalah :

Rp 5.000.000 x 12 % (1 % x 12 bulan) = Rp 600.000,-

Hitungan cicilan kita per bulan :

Rp 5.000.000 (pokok) + Rp 600.000 (bunga pinjaman) = Rp 5.600.000 / 12 bulan = Rp 466.667

Selain cicilan kartu kredit, pembayaran rutinnya juga harus ditambah 3 elemen ini :

a. biaya transfer kartu kredit

b. biaya materai

c. biaya iuran tahunan 

 

Misalnya biaya transfer Rp 5.000 per transaksi, biaya materai Rp 3.000 per bulan (pembayaran di bawah 1 juta) dan iuran tahunan Rp 10 ribu (120 rb / tahun).

Maka cicilan kita per bulan menjadi Rp 467+5+3+10 = Rp 485 ribu selama 1 tahun.

Jadi berapa sih biaya pinjaman ini?

Rp 485.000 x 12 bulan – Rp 5.000.000 = Rp 820.000

Persentasenya ?

Rp 820.000 / Rp 5.000.000 = 16,4 %

Jadi, biaya pinjaman kita sebenarnya adalah 16,4 % bukan 12 % saja. WOW!

 

3. Return Reksadana

Di bulan Maret 2018, harga IHSG BERJATUHAN sehingga harga reksadana ikut jatuh.

Reksadana yang saya beli, yang di awal tahun 2018 saat IHSG lagi bagus, return-nya bisa 20 % sekarang return-nya turun menjadi 8 %.

Setiap kali ada gejolak ekonomi,  saya muntah berdarah lihatin angka return reksadana di Bloomberg.

 

Coba bandingin saja, worth it nggak ngutang dengan bunga 16,4 % untuk beli reksadana yang return-nya masih naik turun?

Katakanlah kita bisa dapat reksadana yang untungnya pasti 20 %.

Apakah worth it?

 

4. Reksadana vs Kartu Kredit

Ya cicilan kartu kredit hanya 12 bulan tapi reksadana bisa kita simpan hingga 3-5 tahun tunggu untung dulu lho….

Nice thought.

Kalo emang ada niat buat nyicil 12 bulan, kenapa nggak nyicil reksadana langsung?

Beli saja dengan skema auto invest. Kalo bisa dibeli tanpa ngutang kenapa harus membeli dengan ngutang kartu kredit?

Beli dengan auto invest nggak kena biaya 16, 4% lho, karena kita menabung. Bukan ngutang.

Kalo biayanya nggak sebesar itu, potensi keuntungan kita juga lebih besar. 🙂

 

5. Alasan untuk nggak membeli investasi reksadana dengan dana kartu kredit.

Be ready yah! Ini adalah opini dan saran saya yang jujur. Silahkan dikaji sendiri.

 

1. Jaman susah gini jangan nambahin beban buat diri kita sendiri.

Kalo mau nabung ya nabung saja, untuk apa menabung dengan cara ngutang?

Yang namanya hutang mesti kita bayar dengan tepat waktu dan sifatnya sangat mengikat.

Biaya denda keterlambatan saat telat bayar dan bunga-nya saja bisa bikin kebakaran jenggot.

Apa namanya itu kalo bukan nambahin beban pikiran buat diri sendiri?

 

2. Return kita tergerus bunga kartu kredit-nya.

Nggak worth it.

Dengan konsep investasi, seharusnya return yang kita dapatkan lebih tinggi dari bunga deposito.

Karena kalo sama dengan bunga deposito, kenapa mesti repot mikir banyak-banyak? Depositokan saja dana kita!

Sewaktu berinvestasi dengan kartu kredit dan mendapat return 5 % net saran saya mending nggak usah beli reksadana sekalian.

Buat apa nambahin pusing kepala buat mikirin harga reksadana yang naik turun?

Sementara return-nya cuman 5 % net. 🙁

 

3. Kalo mau investasi ya artinya kita menabung, bukan ngutang.

Jadi baiknya jangan dicampur-campur.

Karena hanya es campur yang enak, hutang dan tabungan nggak enak kalo dicampurin.

 

Pesan Sponsor :

Investasi adalah aktivitas penting dalam perencanaan keuangan pribadi kita.

Sehingga penting untuk dilakukan dengan pikiran tenang dan hitungan yang matang.

Membeli investasi reksadana dengan dana kartu kredit adalah aktivitas sia-sia karena hanya nambahin beban pikiran kita doang.

Investasi itu wajib, tapi memulainya dengan hutang adalah cara yang salah.

 

Thanks for visiting wartadana today.

#girlslifothergirlsup

Pekanbaru, 7 April 2018 14.19

Listening to : Ed Sheeran ft Beyonce – Perfect

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!


Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *