Uang 100 Ribu Masuk Celengan Saja

Uang 100 ribu masuk celengan saja.


Menurut saya loh, dengan hitung-hitungan bodoh ala saya juga.

Berbeda banget dengan kata iklan-iklan atau saran dari influencer di luar sana yang dengan gampang ngomong kalo investasi harus dimulai sedini mungkin dengan modal sekecil mungkin.

Dan memulainya dengan nominal 100 ribu saja adalah langkah awal menuju kebebasan finansial.

Sorry to break the news! Tapi semua itu hanyalah jargon jualan antek-antek kapitalis.

Nggak percaya???

UANG 100 RIBU MASUK CELENGAN SAJA

sumber : google

Karena saya sudah memendam semua ini sekian lama, akhirnya saya putuskan untuk menuliskan unek-unek di hati ke dalam artikel kali ini.

Investasi 100 ribu adalah bullsh*t teman-teman.

Karena dengan angka segitu akan lebih banyak uang yang keluar daripada uang yang masuk.

Dan daripada ngoceh tanpa arah kita kaji saja agar jelas.

 

Uang 100 ribu bisa apa?

Ini pertanyaan siapa saja. Sering muncul di Quora juga.

Emang dengan uang 100 ribu kita bisa ngapain? Kita bisa beli apa?

Banyak orang punya pendapat kalo uang 100 ribu itu kecil. Nominalnya sangat sedikit dan nggak memadai untuk modal melakukan apapun.

Untuk makan sehari saja nggak cukup. Dengan asumsi sarapan pagi, ngopi, makan siang, ngopi dan makan malam.

Iyah benerrr, nggak bakalan cukup kalo orang tersebut sarapannya mesti puluhan ribu dan ngopi mesti dengan kopi berlogo ikan duyung itu.

Dengan gaya hidup begitu, 100 ribu mahh kecil bangett bagi mereka.

Tapiii hari ini saya nulis bukan buat mereka yang punya gaya hidup mentereng. Tulisan ini khusus untuk kita-kita yang masih struggle dan bertanya-tanya benar 100 ribu sekecil itu?

Karena ternyata masih banyak sekali orang yang menjalani hidup dengan modal bahkan nggak sampai 100 ribu per hari.

Hitungan bodohnya gini :

Data BPS posisi 2016 mencatatkan Rp 1,9 juta sebagai upah minimal rata-rata di Indonesia.

UANG 100 RIBU MASUK CELENGAN SAJA

sumber : BPS.go.id

Setelah 3 tahun berlalu, dengan hitungan kece UMR naik 10 % setiap tahunnya maka mari berasumsi bahwa UMR rata-rata tahun 2019 akan menjadi Rp 2,6 juta.

Bagi Rp 2,6 juta ini dengan 30 hari, yang artinya masih banyak dari kita yang hidup dengan biaya nggak sampai Rp 100 ribu per hari.

Pertanyaan yang muncul adalah kenapa orang-orang pada mengecilkan nilai 100 ribu?

Sering banget loh saya denger komentar :

Haduh, jaman gini 100 ribu bisa ngapain coba?

Padahal 100 ribu tersebut bisa ngasih kita napas buat hidup sehari dan nilainya nggak serendah apa kata orang berduwitt.

Sehingga jika di titik ini kita hanya mampu nabung 100 ribu per bulan, maka nggak usah berkecil hati. Apalagi berpikir kalo 100 ribu kita nggak akan jadi apa-apa sehingga lebih baik nggak ditabung.

Percaya deh, nggak ada orang yang nyesal punya tabungan.

Dan Rp 100 ribu masih memadai banget di tahun 2019 ini.

 

Uang 100 ribu nabung di rekening

Pernah melakukannya? Membuka rekening bank untuk menampung uang Rp 100 ribu tabungan kita yang sangat berharga itu?

Kenapa saya bilang berharga? Dan ini bukan sindiran.

Karena jika Rp 100 ribu adalah angka yang mampu kita sisihkan dengan rutin setiap bulan, artinya di kertas merah itu ada komitmen yang kita penuhi pada diri sendiri.

Dan apapun yang dijalani dengan komitmen berharga lebih dari nilainya secara ekonomi.

Jadi jaga baik-baik lembaran 100 ribu yang kamu simpan dengan sepenuh hati itu.

Pertama kali menabung, saya menggunakan metode ini.

Uang yang sedikit saya sisihkan di bank. 10 tahun yang lalu biaya administrasi bank biru baru 10 ribu Rupiah per bulannya (kalo nggak salah ingat ya).

Setiap bulan dengan menyetorkan Rp 100 ribu, saya hanya menambah uang Rp 90 ribu (karena potong biaya administrasi Rp 10 ribu). Dalam setahun tabungan yang saya harepin bisa jadi Rp 1,2 juta ternyata hanya nambah Rp 1,08 juta.

Ternyata biaya nabungnya 10 % per bulan.

Dan ternyata opsi ini jelek sekali. 10 % dari tabungan?

Tapi bagi kamu yang nyaman dengan opsi menabung seperti ini, saran saya adalah :

–  Membuka rekening yang bebas biaya administrasi (banyakk bangett kok. Semua bank buku 3 punya produk ini, yang nggak bayar biaya administrasi bulanan).

–  Membuka rekening yang dekat dengan rumah atau kantor. Jadi kamu bisa langsung setorin uang ke bank tanpa kena biaya admin transfer.

BACA JUGA : MEMBUKA REKENING BANK BAGI PEMULA

 

Uang 100 ribu beli emas di market place

Opsi ini belum pernah saya coba lakukan, karena dengan menghitung bodoh-bodoh saja saya sudah pasti rugi.

Dan saya sungguh menyesalkan mengapa market place yang biasa kita sebut start up tega melakukan hal ini.

Saya nggak peduli dia kerjasama dengan Pegadaian atau apa, tetapi secara grafik, menabung emas dengan cara ini nggak menguntungkan sama sekali.

Mau dikasih hitungan bodohnya?

Contoh 1 :

Saat kita ke toko emas dan membeli emas batangan, mereka akan menjual dengan harga pasaran saat itu.

Sewaktu kita menjual kembali emas itu, harganya juga akan mengikuti harga pasaran.

Fair dong, harga beli dan harga jual adalah sama mengikuti pasaran.

Ingat, di sini emas yang dimaksud adalah batangan, bukan dalam bentuk perhiasan.

Contoh 2 :

Saat beli di marketplace sudah ada harga beli dan harga jual yang ditetapkan. Sama kayak nukar uang ke bank atau ke money changer.

Kita nggak mungkin untung, kecuali terjadi fluktuasi harga yang gila-gilaan.

Karena harga jual kita akan lebih rendah dari harga beli. Sudah ada angka margin yang merupakan untung bagi si market place.

Saya ambil contoh dari salah satu site penjual emas :

uang 100 ribu masuk celengan saja

sumber : indogold.com

Keliatan kan ada selisih antara harga beli dan jual? Selisih Rp 24 ribuan atau sekitar 4 %.

Cara bacanya :

Saat kita beli emas hari ini dengan harga per gram Rp 633 ribu maka dapat kita jual dengan harga 608 ribu per gram. Yang artinya untuk akuisisi emas ini, sudah ada biaya 4 %.

Sadarrr nggak?

Ini yang bikin saya sedih, karena market place itu jualan nabung emas dengan modal 5 ribu Rupiah sajahhh dan iklan yang kece badai.

I mean, man you made a lot of money already, why do you need the rush to make this kind of money too?

Pembelaannya nanti kalo harga naik, kita tinggal jual emas dan untungg dehh! Yeayy!

Marilah ngeliatin chart :

UANG 100 RIBU MASUK CELENGAN SAJA

Grafik Harga Emas Harian Mar 2018-Mar 2019
sumber : Indogold.com

Kita akan untung kalo beli emas di harga 550 k dan menjualnya di harga 650 k.

Logikanya dengan membeli di harga 550 k maka modal kita adalah 550 k. Asumsi ada perbedaan 4 % dari harga jual dan beli, maka di harga beli 650 k harga jual kita adalah 624 k.

Voila, benerr kita untung segede gaban. Selisihnya 75 ribuan per gram alias 13 %. Lumayan bangett.

Tapi realistis aja ya.

Kalo kita baru mampu menyisihkan Rp 100 ribu, besar kemungkinan kita bahkan nggak tahu gimana cara baca chart. Karena kita nggak akan belajar baca chart sebelum investasi.

Kita hanya akan membeli emas dengan kata hati yang terketuk oleh iklan market place.

Karena uang kita juga nggak banyak. Sementara human nature kita adalah baru belajar sesuatu saat hal tersebut menguntungkan secara langsung.

Dengan uang nominal 100 ribu, kita tahu belajar chart itu di luar batas dan nggak dapat digunakan di saat itu juga. Jadi siapa yang mau belajar baca chart?

Feeling saya dari chart di atas yang sering terjadi adalah kita belanja emas di harga 625 k. Yang artinya nunggu bertahun-tahun baru bisa untung.

Secara selama setahun terakhir ajah nggak pernah harganya lewat dari 650 k, dan kita belum untung di angka segitu.

 

Uang 100 ribu beli reksadana

Opsi yang sering banget ditawarin oleh market place. Iklan-iklan start up yang sering muncul di youtube juga menggoda loh.

Konsep iklan mereka yang mengetuk hati juga mampu mengetuk pikiran kita.

Saya bukan anti start up. Saya hanya kecewa mengapa mereka harus masuk ke sisi finansial juga. Karena belanja produk investasi di market place itu susah untungnya.

Untuk membayarnya kita harus ke bank atau ATM, yang notabene kena biaya transfer atau top up. Mau bayar ke indomaret atau alfamart juga kena biaya admin.

Nahh ini baru saat membayar atau top up saldo, belum disertai syarat dan kondisi yang mengikat di ujungnya.

Dan pertanyaan dasar berupa : emang reksadana pasti untung?

BACA JUGA : MENGENAL REKSADANA : 7 HAL DASAR BAGI PEMULA

Pembelaannya : kan kita beli unit. Kalo IHSG turun kita beli, kalo IHSG naik kita jual.

Oh my God! Balik ke poin yang dijelasin di emas tadi. Sejago apa sih kita baca chart IHSG atau mantengin pergerakannya?

Dan kalopun jago, uang 100 ribu bisa untung berapa?

uang 100 ribu masuk celengan saja

Kinerja IHSG 5 tahun terakhir
Sumber : google.com

Di atas ada data IHSG selama 5 tahun terakhir. Hitungan bodoh lagi, dengan belanja 5 tahun lalu di angka 5.000 maka kita bisa jual 6.500 saat ini.

Untungnya berapa? 30 % selama 5 tahun = 6 % setahun.

Okeh, kita mau pake hitungan asumsi untung 10 % per tahun.

Kena biaya admin transferan di awal setor 5 ribu . Kemudian sewaktu menjual reksadana 100 ribu akan kena biaya transfer 5 ribu kembali. Ouch. Dan ingat ada ketentuan minimal dana mengendap sewaktu melakukan penjualan reksadana.

Balik modal doang. Itupun dengan catatan ada kenaikan harga 10 %.

Ya, tapi orang beli IHSG dulu di tahun 2008 waktu IHSG masih 2 ribuan. 10 tahun kemudian sudah 6 ribuan dengan untung 200 % yang artinya 20 % per tahun.

Ini sama kayak orang ngomong yang beli rupiah di harga 10 ribu dulunya.

Mungkin dulu mah bisa terjadi atau ke depannya akan terjadi tapi nggak dapat waktu dekat.

Realistis dehh! Selama 5 tahun terakhir cuman untung rata-rata 6 % per tahun.

 

Uang 100 ribu masuk celengan

Ini yang bener dan secara hitungan nggak merugikan. Uang Rp 100 ribu lebih baik kita tabung. Setidaknya yang jelas disimpan 12 bulan juga jadi Rp 1,2 juta.

Ntar kalo sudah jadi Rp 1 juta, dibawain ke bank dan disimpan di sana. Banyak bank yang produk rekeningnya dengan saldo di atas Rp 1 juta sudah gratis biaya administrasi bulanan.

Tahun depan semoga rejeki lancar dan nominal tabungan bisa ditambah.

Intinya uang tabungan kita nggak berkurang dulu deh…

———

Dan akhirnya sampai juga kita di penutup dari unek-unek saya. Saya mengerti kalo artikel kali ini sangat berapi-api. Tetapi semua ini jujur dan tanpa maksud jelek apapun.

Karena saya pernah berada di kondisi demikian. Saya pernah menabung 100 ribu per bulan di rekening bank. Saya pernah membeli investasi reksadana 100 ribu secara bulanan.

Hasilnya saya nggak balik modal.

Jadi sebelum lebih banyak orang-orang di luar sana yang terlanjur beli investasi atau termakan jargon start up, baca dulu artikel ini hingga selesai.

Kalo setelah ini kamu masih percaya diri dan positif untuk investasi, silahkan lanjut. Doa saya menyertai duwit investasimu 🙂

Terima kasih sudah datang ke wartadana hari ini.

Pekanbaru, 26 Maret 2019

#girlsliftothergirlsup #2019HARUSPINTER

(please mengerti kalo saya nulis ini tanpa niat menghina atau menjelekkan pihak manapun, melainkan murni ngasih hitungan konyol kepada teman-teman yang belum berada dalam kapasitas untuk menjadi investor.

Jadi saya nggak maksud membuat satu produk terlihat jelek dibanding produk lainnya di sini. This is just some stupid calculation – no offense).

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!


Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *