3 SKEMA TRANSFER UANG (BEDA REAL TIME, LLG DAN RTGS)

Beda Real Time, LLG dan RTGS

Ketiga skema di atas adalah skema yang berlaku di Indonesia untuk proses transaksi transfer.


Transaksi transfer ditujukan untuk mengirim uang ke rekening sendiri di bank lain, atau ke rekening orang lain di bank yang sama atau ke rekening orang lain di bank yang berbeda.

Jadi apa beda transaksi real time, LLG dan RTGS?

Namanya transfer uang, kita perlu memastikan bahwa uang tersebut akan sampai ke tangan penerima dalam waktu yang seharusnya.

Untuk itu kita mesti paham mengenai beda skema real time, LLG dan RTGS agar lebih mudah dalam menentukan skema transfer apa yang sesuai dengan kebutuhan kita.
Beda Real Time, LLG dan RTGS

 

1.  Real Time

Proses transaksi real time adalah skema mengirim uang dimana dana langsung masuk di waktu yang sama.

Saat kita ngirim uang ke rekening bank lain, kita akan pergi ke ATM dan melakukan transfer di mesin tersebut.

Kegiatan ini menggunakan skema real time, karena semua jaringan ATM di Indonesia sudah terhubung melalui jaringan ATM Bersama / Prima, sehingga uang yang kita transfer bisa masuk di waktu yang bersamaan.

BACA JUGA : GPN SEBAGAI PENGGANTI VISA DAN MASTERCARD

Seiring dengan pesatnya perkembangan mobile banking, kita bisa juga melakukan transfer real time menggunakan smartphone.

Saat ini semua produk digital perbankan sudah terhubung dengan jaringan real time, jadi bisa dipastikan kalo kita memilih opsi transfer real time, dananya dapat langsung masuk di waktu yang sama.

Ohya, ada satu pengecualian yaitu untuk transaksi menggunakan klik BCA, dimana transfernya belum bisa real time, karena menggunakan skema LLG.

Jadi sebagai pemilik rekening BCA kalo butuh transferan urgent, lebih baik langsung ke mesin ATM BCA saja.

Skema real time ini disebut juga skema ‘online’.

Biaya transfer real time rata-rata di bawah Rp 10.000,- per transaksi.

 

2. LLG

LLG adalah singkatan dari Lalu Lintas Giro. LLG juga disebut SKN (Sistem Kliring Nasional) yang sering disingkat dengan kliring. Nah ada dua jenis LLG yang mau dibahas di sini yaitu :

LLG sebagai skema transfer

LLG adalah jenis transaksi pembayaran yang dilayani oleh teller bank. Namun ada juga beberapa bank yang di sistem internet banking-nya masih mencantumkan skema transfer LLG.

Bank melayani transaksi LLG untuk transfer dana berjumlah di bawah Rp 100 juta.

Dengan menggunakan sistem LLG dana nggak bisa langsung masuk, melainkan mesti menunggu sekitar 3-4 jam.

Kalo kita melakukan transfer LLG di jam 9 pagi, kemungkinan dana baru masuk jam 12 nanti siang.

Alasan kenapa dana nggak langsung masuk adalah karena melalui transaksi LLG, dana akan dikumpulkan di sistem Bank Indonesia terlebih dahulu.

Jadi setelah proses & waktu tertentu, sistem dari bank Indonesia akan mendistribusikan transfer ke bank tujuannya.

Setelah bank tujuan menerima, barulah uang didistribusikan ke rekening tujuan.

Proses LLG memang memakan waktu, sehingga kalo nominalnya masih di bawah 25 juta lebih baik menggunakan skema transfer real time saja.

Bank mematok di angka transfer Rp 25 juta ke atas menggunakan sistem LLG. Tetapi ada juga beberapa bank yang mematok angka LLG dari Rp 50 juta ke atas.

Bank melayani transaksi LLG hingga pukul 15.00 setiap harinya, tapi ini kembali kepada SOP bank masing-masing.

Biaya transaksi LLG sama dengan transaksi transfer real time yaitu di bawah Rp 10.000.

Ada beberapa bank yang mematok biaya LLG luar kota lebih tinggi dari LLG dalam kota (walopun sangat jarang).

Dengan menggunakan skema LLG, kita akan menerima slip transaksi transfer sebagai bukti transfer yang sah.

Jika uangnya belum masuk, ada baiknya slip tetap kita simpan, karena selalu ada kemungkinan sistem error.

Misalnya dana belum masuk dengan bukti transfer tersebut kita dapat melakukan klaim ke bank.

 

Kliring sebagai skema pembayaran

Kliring yang dimaksud di sini adalah pembayaran dengan menggunakan media bilyet giro.

Jadi dengan memiliki rekening giro di bank, kita akan menerima media penarikan uang berupa buku cek dan buku giro.

Cek biasa digunakan untuk transaksi yang bersifat tunai. Sementara giro digunakan untuk transaksi yang sifatnya non tunai.

Jadi misalnya si A adalah seorang pengusaha yang mesti membayar kepada suplier, maka si A akan menggunakan media bilyet giro (BG).

Si A akan memberikan selembar bilyet giro yang sudah berisi nominal pembayaran, rekening dan bank tujuan pembayaran serta tanggal pembayaran.

Di hari BG jatuh tempo, suplier tinggal mencairkan giro melalui sistem kliring di bank mereka.

Sistem kliring di sini maksudnya adalah supplier B memiliki rekening di bank Y, sementara si A menggunakan bank Z. Jadi, supplier B akan menyetor ke bank Y selembar BG si A dari bank Z.

Sistem ini akan efektif H+1, karena dibutuhkan waktu untuk melakukan pengecekan ketersediaan dana melalui sistem Bank Indonesia.

Proses pengecekan dana ini disebut kliring (clearing).

Kalo dana si A ready di bank Z, maka supplier B akan menerima dana tersebut di rekening bank Y-nya sehari kemudian.

Skema ini biasa digunakan oleh pengusaha dan dilakukan sebelum jam 08.30 pagi.

Biaya kliring sekitar Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per lembar giro.

 

3. RTGS

RTGS adalah singkatan dari Real Time Gross Settlement. RTGS ditujukan untuk pembayaran dalam nominal besar, yaitu di atas Rp 100 juta.

Dengan skema RTGS dana bisa diterima 1-2 jam sejak transaksi.

Bank biasa mematok biaya Rp 25-40 ribu per transaksi.

Jam transaksi maksimal 15.30 atau sesuai ketentuan bank masing-masing. Layanan RTGS hanya dapat dilakukan di konter teller bank.

Untuk beberapa case yang sifatnya urgent, kita dapat memaksimalkan transaksi RTGS agar langsung masuk sekitar 30 menit sejak transaksi di-input.

Hal ini karena sistem RTGS adalah sistem yang mengutip dana yang dilemparkan oleh bank lain.

Sederhananya : si A melakukan RTGS dari bank X ke rekening bank Y. Tugas bank X adalah melemparkan dana ke sistem bank Y.

Setelah itu sistem bank Y mesti menarik dana tersebut dan melakukan distribusi ke rekening tujuan.

Namun nggak setiap waktu petugas-nya standby untuk melakukan transaksi tersebut sehingga ada jeda waktu tertentu.

Lebih amannya dikatakan bahwa RTGS akan masuk 1-2 jam sejak transaksi.

Dalam transaksi RTGS dikenal istilah nomor referensi. Dulunya disebut nomor BOR  (Bank Own Reference).

Dengan tahu nomor referensinya, kita dapat menyebutkan ke petugas bank untuk membantu proses mempercepat transaksi.

Tapi kalo nggak urgent banget ya ditunggu saja selama 1-2 jam, karena kalo mau mempercepat kita mesti ngejar ke 2 bank tersebut, bank X dan bank Y.

———————

Dan demikian ketiga jenis skema transfer yang masih digunakan saat ini.

Setelah tahu apa beda real time, LLG dan RTGS, serta tahu prosesnya, kita bisa dengan mudah memutuskan mau transfer menggunakan skema apa.

Sehingga uang yang kita kirim bisa sampai tepat waktu sesuai dengan janji kita kepada penerima.

Hope this article will help and if you find it useful, please help me share it. Kalo kepengen dapetin update-an tentang uang atau bank, please subscribe to this blog.

 

Welcome and thankyou for visiting wartadana.com today.

#girlsliftothergirlsup

Pekanbaru, 31 Maret 2018 19.11

Listening to Hailee Steinfeld – Capital Letters


Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 9 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

2 Respon

  1. Silvester DP berkata:

    I like your ide.
    Apakah ada penjelasan terkait transaksi atm di atas 100 juta, jika saya sebagai penerima dana, bukan pengirim?

    • Charlina berkata:

      Hi!
      Secara prinsip bank nggak pernah membatasi jumlah uang yang dapat masuk ke dalam rekening nasabahnya.
      Jadi, semisal bank pengirim menyediakan limit transfer ATM hingga Rp 100 juta, penerima dapat menerima dana tersebut.
      Demikian, terima kasih sudah berkunjung ke wartadana.com

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: