10 Pertanyaan Sebelum Kamu Meminjam Uang

Sebelum kamu meminjam uang ke sana kemari, baca ini dulu!

Bagi saya sendiri, sebagai survivor yang pernah jatuh bangkit bayarin hutang masa lalu, berhutang senantiasa menjadi momok yang harus dihindari.

Sebelum meminjam uang alias berhutang sudah khawatir pikiran saya. Takut akan tanggungjawab yang mesti dipikul hingga hutang itu selesai.

Sehingga sebisa mungkin, hutang nggak saya jadikan solusi.

Karna seperti saya share di artikel tentang berjuang bangkit dari kubangan hutang kartu kredit ini, hutang membuat masa depan saya terasa buram dan I’m done with that kind of feeling.

Saya nggak akan ngijinkan diri saya saat ini membuat keputusan bodoh yang bikin diri saya di masa depan harus bayarin akibatnya. Titik.

kapok ngutang lagi

Jadi untuk mengakomodir pola pikir begini, saya selalu tanyakan 10 pertanyaan di bawah ini, setiap kali hendak meminjam uang.

Terserah deh orang bilangin lebay atau kikir, yang jelas metode ini tepat bagi saya. Sehingga saya ingin share kepada pembaca wartadana yang budiman ini.

Dan kembali pada omongan orang soal kikir atau lebay.

Kalopun orang ngatain demikian, emangnya sewaktu saya berkubang hutang situ mau bantuin bayar? Kalo nggak ya keep your mouth shut please, hehe 😀

mukamu cantik waktu mulutnya dikatup

Nah, sebelum kamu meminjam uang jawab dulu yah 10 pertanyaan ini dengan jujur. Yuk mariii….

tanyakan dulu sebelum kamu meminjam uang

1.  Untuk apa uang itu kamu pinjam?

“Mau minjam buat apa?”

Tolong bedakan meminjam untuk kebutuhan vs meminjam untuk keinginan.

kebutuhan vs keinginan

harus dipenuhi vs mau dipenuhi

urgent vs masih bisa ditunda

Bertanya tujuan meminjam adalah agar kita paham tingkat urgensinya. Semisal tingkat urgensinya masih rendah, kita juga mesti nabokin si otak dan menyuruhnya untuk menunggu.

Tetapi jika memang urgensinya tinggi, lanjut ke pertanyaan selanjutnya.

mau minjam uang buat apa sis

Nah, bagian sulit menjadi manusia adalah kita bisa ngasih pembenaran yang mengada-ada pada diri sendiri, sementara ngasih penghakiman berat bagi yang orang lainnya.

Saya ngerti kok, pertanyaan ini sedari awal pasti sudah ada di pikiran kita, sebab menjadi masalah yang ingin kita selesaikan dengan berhutang.

Tapi coba deh, tanya kembali pada diri sendiri dan jawab dengan jujur pula pada diri sendiri.

fondasi untuk mengelola keuangan adalah jujur

Tanpa jujur, kita nggak tahu apa yang kita mau dan nggak bisa menilai dengan logis seperti apa sih kondisi keuangan kita.

Karena banyak banget orang di luar sana, yang kepikiran buat ngutang hanya demi beli barang konsumsi. Semisal ngutang buat belanja onlen, atau ngutang buat upgrade smartphone.

Bukannya nggak boleh, tetapi akuilah bahwa kegiatan itu nggak urgent dan masih bisa ditunda.

Jadi kenapa nggak ditunda dahulu hingga uangnya terkumpul dan bisa bayar tunai? 

 

2. Berapa uang yang hendak kamu pinjam?

‘Mau minjam berapa?’

Inilah pertanyaan yang akan muncul selanjutnya sebelum kamu meminjam uang :

– Kita harus tahu berapa sih uang yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan tersebut.

– Kita harus tahu berapa jumlah uang yang kita miliki saat ini.

– Sehingga kita bisa tahu berapa jumlah yang kurang.

Dalam menjawab poin ini, upayakan untuk menemukan angka pinjaman paling rendah.

hutang lebih kecil lebih baik

Curcol : ada seorang kenalan yang punya niat untuk minjam lebih dari yang dia butuhkan. Alasannya untuk dana cadangan, biar ada pegangan di tangan. Dana cair dongg, sebab doi kerja di bank.

Fast forward setahun, sekarang dia harus melunasi hutang tersebut sebab akan pindah kerja. Kelimpungan dong karena pinjamannya lumayan gede.

Konyol kan? Kalo dari awal minjam secukupnya, tentu angka pinjamannya lebih sedikit dan mudah dilunasi.

Jadi berkaca dari pengalaman si XX, marilah meminjam uang secukupnya. 

Kita bisa menghitung ulang jumlah pinjaman yang dibutuhkan, atau menjual barang-barang nggak kepake dahulu, atau nego-nego jumlah kebutuhan kita tersebut.

menawar bukan dosa

Yang penting secukupnya. Hutang jangan dilebih-lebihin, please!

 

3. Tidak dapatkah kebutuhanmu itu ditunda dahulu?

Emang urgent banget ya?

Memang di awal kita sudah mempertanyakan hal ini, se-urgent inikah kebutuhan tersebut? Dan jawabannya ternyata memang mendesak, sehingga kita memutuskan untuk meminjam uang.

Tetapi nggak ada salahnya ditanyain kembali:

  • benar-benar mendesakkah?
  • masih dapat ditundakah?
  • benaran nggak bisa ditunda ya?
  • masih bisakah kita memilih opsi lain tanpa harus ngutang?

Saya ngerti, percaya deh. Sewaktu masih usia 20-an awal, saya juga sering kepepet butuh pinjaman. Urgent semuanya. Sehingga solusinya selalu minjam sana-sini.

Tapi kalo nengok kembali ke masa lalu, ada titik-titik yang ternyata masih bisa dilewati tanpa minjam uang.

sebelum kamu meminjam uang, boleh nanya ulang?

Sama juga kondisinya saat ini, bertanya berulang-ulang itu emang nyebelin banget.

Duh, kalo bisa nggak minjam, siapa juga yang mau ngutang?

Tapi nggak ada salahnya juga nanya sekali lagi bukan? Sekedar untuk kenal diri kita lebih dekat.

 

4. Dari siapakah kamu akan meminjamnya?

Trus kamu mau minjam dari siapa?

Penting loh untuk memahami karakter orang yang akan memberi kita pinjaman. Ataupun bank ataupun kreditor lainnya yang kita pilih.

Pengalaman saya mengajarkan bahwa nggak semua orang yang punya uang bisa menjadi pemberi pinjaman yang baik dan nggak semua orang yang baik bisa menjadi orang yang legowo dan objektif terhadap kita.

Jadi, hindari 4 tipe pemberi pinjaman :

a. Yang ada maunya

Mengertilah pastinya bahwa hidup adalah proses timbal balik.

sebelum kamu meminjam uang mengertilah

Beberapa orang mampu bersikap tulus dan nggak mempermasalahkan bantuannya terhadap kita.

Tetapi  ada juga beberapa orang yang sudah punya kepentingan sendiri terhadap kita.

Dengan mudah orang orang begini akan memanfaatkan kita saat kita berada dalam posisi berhutang kepadanya.

Lumrah, karena hidup menjadi transaksi jual beli bagi orang demikian. Tetapi permasalahannya adalah apakah kita mau menjadi objek jual beli ?

Kita menggadaikan bantuan atau sesuatu demi pinjaman dari yang bersangkutan?

 

b. Yang suka mengungkit-ungkit

Tahan nggak kalo setiap kali berurusan dengan sesuatu, si kawan akan ngomong ; Iyah, kemarin kan kamu pernah minjam dari aku?

Atau mencari-cari momen untuk selalu mengingatkan kita akan betapa besar HUTANG BUDI yang kita miliki terhadapnya.

Setau saya, orang yang baik, terlepas dari siapapun itu adalah orang yang akan membiarkan masa lalu orang lain. Peduli amat deh.

masa lalu nggak bisa direvisi

Jadi kalo ketemu dengan orang yang masih suka ngungkit, seperti mau ngingatin betapa berat masa lalu kita dan betapa dermawan yang bersangkutan, JANGAN MINJAM UANG DARI DIA!

 

c. Yang habis minjamin nagih melulu

Bener?

Kebayang baru minjam duit sehari dan si kreditur nanyain melulu.

‘Eh, duit kemarin sudah?’

‘Woi, kapan rencana mau bayar?’

Percaya deh, banyak orang demikian. Beberapa mungkin nggak nanya secara vulgar soal uangnya.

Tapi ada beberapa yang selalu ngeluh kalo uangnya lagi pas-pasan. Secara nggak langsung ngasih kode kalo dia lagi butuh uang nih, kapan balikin hutang?

Hindari yang beginian.

 

d. Yang suka jengkalin kita

Jengkalin alias menempatkan dirinya lebih tinggi dari kita alias memandang kita rendah.

Menurut saya yang ini rada-rada tricky ya. Karena ada beberapa orang emang doyan ngejek tanpa maksud apapun, sementara yang lain nggak ngejek tapi tatapannya tajam merendahkan.

Tapi tetap saja, sewaktu ngomong mau minjam uang, setengah dari gengsi kita sudah habis. Jadi, apa kita masih sanggup biarin setengah gengsi yang tersisa diinjak-injak oleh orang beginian?

skip skip next next

dibaca dengan nada thank you, next next!

Saran saya, karena hal-hal seperti ini berkaitan dengan uang, lebih baik hindari orang-orang yang emang bikin kita ngerasa nggak enak di awal.

 

5. Bagaimana cara kamu akan mengembalikannya?

Tar balikinnya gimana?

Ingat selalu kalo hutang itu harus dibayar.

  • Terlepas dari betapa kayanya orang yang memberikan pinjaman,
  • atau betapa remehnya angka pinjaman kita tersebut
  • atau betapa susahnya kondisi keuangan kita.

sebelum kamu meminjam uang, ingat balikin

Atau tepatnya diganti menjadi : we always pay our debt.

Jadi jangan mikir enaknya doang, mikir dengan dapetin pinjaman kita bisa lega sejenak dan bernafas tenang.

Hello! Yang kita gunakan ini adalah uang orang yang notabene mesti dibalikin. Sehingga sedari awal, cara mengembalikannya haruslah menjadi fokus kita. Apakah dengan :

  • Mengurangi biaya hidup bulanan dan mengalokasikannya untuk cicilan?
  • Menambah penghasilan dengan kerjaan tambahan?
  • Menjual beberapa aset kita yang nggak likuid?
  • Menunggu uang bonusan baru bayar?

Dalam kondisi kita nemuin cara untuk mengembalikannya, maka bisa jadi kita boleh berhutang.

Tapi kalo kita nggak kepikiran opsi untuk mengembalikannya, balik ke diri sendiri lagi. Seberapa urgent bagi kita keperluan yang membuat kita memilih untuk ngutang tersebut?

 

6. Dalam jangka waktu berapa lama kamu akan mengembalikannya?

Emang kapan baru bisa bayar? Aka, berapa lama sih kamu mau minjam?

Menyambung poin 5, setelah tahu gimana cara membayar hutang tersebut, maka kita perlu punya gambaran kapan akan melakukannya?

hayo kapan mau bayar hutang

– Mengurangi biaya hidup bulanan dan mengalokasikannya untuk cicilan? Kapan? Mulai bulan depankah? Mulai bulan inikah?

– Menambah penghasilan dengan kerjaan tambahan? Kapan mulainya? Kapan dapat penghasilannya?

– Menjual beberapa aset kita yang nggak likuid? Estimasi waktu menjualnya berapa lama?

– Menunggu uang bonusan baru bayar? Emang kapan bonusan? Kinerjamu sudah bagus sehingga yakin bakalan dapat bonus?

Curcol : seseorang pernah minjam dengan janji akan balikin sewaktu gajian. Gajian berlalu dan doi mengaku belum mampu membayar.

Janjinya berubah menjadi hingga bonusan. Bonusan berlalu dan doi nggak dapat bonus. Jadi?

Tapi yang saya senang adalah doi tetap bertanggungjawab, walopun terjadi keterlambatan. Poinnya adalah :

jangan janjikan sesuatu dari masa depan

 

7. Jika pembayaranmu meleset, apa yang akan terjadi?

Ini yang ditanyain di dalam hati oleh si calon pemberi pinjaman : ‘Ntar kalo bayarnya nggak tepat waktu, gimana?’

Dan pertanyaan ini harus terjawab sebelum kamu meminjam uang.

Catatannya : saat meminjam ke bank, opsi terlambat membayar nggak bisa digunakan. 

Sebab dengan meminjam uang ke bank, kita melakukan perjanjian tertulis yang sewaktu kita langgar mengakibatkan kerugian yang lebih besar.

Contoh sederhana : keterlambatan pembayaran pinjaman di bank atau leasing atau institusi semacam fin-tech akan dikenakan denda keterlambatan.

Hebatnya lagi, hampir 90 % orang yang nggak pernah bertanya berapa denda keterlambatan di awal meminjam. Dengan asumsi, hidup bakalan mulus seperti jalan tol.

Sehingga saat mendapat tagihan denda sebesar 4-5 % per bulannya dari angka tagihan, peminjam kaget bukan main. Sebab jumlahnya membesar akibat menggulung setiap bulan.

bayar denda keterlambatan

Saya bukan nakut-nakutin, melainkan jujur karena saya sudah sering banget jumpa dengan nasabah yang mengeluh akibat denda keterlambatannya yang besar sekali.

Lain cerita sewaktu kita meminjam ke saudara atau teman, yang masih bisa nerima kalo pembayaran kita telat satu dua bulan.

Tapi gimana cara menghadapi mereka dan ngomong kalo kita terlambat bayar?

 

8. Jika kamu nggak mampu membayarnya, apa saja konsekuensi yang timbul?

Tadinya masih mikir kalo nggak tepat waktu, kalo nggak mampu bayar gimana dong?

Hei-hei! Berhenti sejenak di sini!

Saya paham kok, sebagai calon peminjam kita adalah makhluk yang super optimis. Saya ngerti banget, pikiran mampu menyediakan alternatif pembayaran.

Entah dari opsi minjam kembali (gali lubang tutup lubang), opsi jual aset yang nilainya juga nggak seberapa, bawa barang ke pegadaian atau apapun itu.

Sekarang, kita kembali lagi pada persoalan jujur. 

Seandainya semua opsi ini nggak berjalan mulus, apa yang akan kamu lakukan?

Teman-teman, seandainya kamu minjam karena kebutuhan yang harus dan mendesak, saya berani yakinin kamu bahwa solusi akan selalu ada.

Percaya deh, sewaktu kita punya niat tulus, kita akan selalu diberi jalan keluar.

Tetapi, seandainya kamu minjam hanya karena keinginan yang masih bisa ditunda, besar kemungkinan besok-besoknya akan ada keinginan lain yang kamu kejar.

Jadi kayak lingkaran setan yang nggak ada habisnya. Dan hutang-hutang ini nggak akan kelarr.

Trus, sewaktu kamu nggak mampu bayar, apa yang dapat kamu lakukan?

 

9. Jika kamu nggak meminjam uang ini, apa pula konsekuensi yang timbul?

Emang kalo kamu nggak minjam, kenapa sih?

Kembali lagi ke pertanyaan di awal tentang tingkat urgensi kebutuhan kita.

Kembali lagi nanya ke diri sendiri, bahwa ternyata aku nggak sanggup bayar, kalo aku nggak dapetin pinjaman, gimana ya?

Please jangan tengsin atau gengsi untuk mengakui kalo kita nggak ada uang.

Curcol : saya pernah jumpa dengan senior di kantor yang tiap kali ngeluh nggak ada uang. Saya yang masih muda terheran-heran, kok ngakunya nggak ada uang tapi gadget-nya ganti terus?

Sementara saya yang benaran misqueen, malah malu mengaku : nggak punya uang.

Kesimpulannya :

ngaku saja

Yang jelas di jaman begini adalah selama niat kita tulus pasti ada jalan keluar.

Kalopun nggak mampu membayar kembali, kita masih opsi lain seperti penggalangan dana online yang marak belakangan ini.

Silahkan klik laman Kitabisa.com ini untuk melihat opsi penggalangan dana. Atau silahkan klik artikel dari Finansialku berikut untuk tahu apa saja situs donasi online terpercaya di Indonesia.

Sebab berdasarkan artikel Kompas berikut, Indonesia merupakan negara paling dermawan. Yang artinya kita sebagai bagian dari NKRI punya hati yang baik untuk nolongin sesama.

Percaya deh, jika kamu emang membutuhkannya, di luar sana akan ada banyak relawan yang tanpa babibu akan langsung menolong. Jadi opsi ini boleh dipertimbangkan!

 

10. Mampukah kamu bertanggungjawab atas hutang ini?

Yakin kamu mampu bayar hingga lunas sesuai dengan janjimu?

Yakin kamu tetap akan bayar hutangmu, apapun yang terjadi?

Dan curcol kembali, boleh ya? Dari pengalaman hutang piutang :

  • Ada yang sebelum hutangnya lunas udah mengurangi jumlah hutangnya. Misalnya dia minjam 1 juta, di kepalanya hutang dia hanya 500 ribu. Adaaa….
  • Ada yang katanya mau bayar bulan xx dan kemudian lupa. Adaaaa…
  • Parahnya menurut saya dia masih sempat-sempatnya nge-post ini itu di social media dan bersikap kayak nggak punya hutang. Adaaaa…
  • Ada juga yang harus ditagihin melulu dan selalu punya jawaban lusa, besok atau senin untuk membalas pertanyaan saya. Adaaa…

Poinnya adalah sewaktu kita meminjam, siapkah kita bertanggungjawab penuh terhadap hutang tersebut?

Jangan sampai reputasi baru sebagai bad debtor tersemat kepada kamu!

Tapi bukan berarti semua orang yang minjam punya mental nggak bertanggungjawab loh ya. Ada juga orang yang meminjam dan on time dalam membayarkannya.

Ada juga yang nggak perlu diingatin sama sekali.

Dan sebisa mungkin sewaktu kita minjam uang, kita masuk ke kategori yang terakhir ini. Karena tanggungjawab itu adalah karakter.

Orang yang karakternya jelek, akan jelek kemana-mana. Sementara orang yang karakternya baik, akan baik kemana-mana.

BACA JUGA : 6 CARA TEPAT MELUNASI HUTANG

BACA JUGA : 5 MINDSET UNTUK BEBAS HUTANG

 

Sebagai orang yang pernah ngutang kemana-mana, saya masih paham banget nggak enaknya berhutang.

Sehingga artikel ini saya buat sebagai wake up call buat teman-teman yang sedang mengintip-ngintip aplikasi pinjaman online dan sejenisnya.

Sebelum  kamu meminjam uang kemana-mana, baik ke orang pribadi atau lembaga keuangan atau fin tech, baca dulu hingga selesai.

Curcol : seorang karyawan di kantor tempat saya bekerja, kini terkena masalah dengan aplikasi pinjaman online, yang membuat seisi kantor secara acak mendapatkan sms dari debt collector.

Dan sebagai pekerja biasa yang pas pula mengabdi di industri keuangan, soal hutang piutang adalah masalah taboo yang cukup dia ketahui seorang diri.

Begitu perkara hutang piutang kita tersebar kemana-mana, sistem dan kode etik yang ada akan menghukum yang berhutang.

Menghabiskan potensi karirnya dengan pengandaian kala dia nantinya nggak mampu bersikap professional lagi.

Singkat cerita, karena sudah mengganggu staf lainnya serta dikhawatirkan akan berdampak pada hasil kerjanya, akhirnya insiden ini membuat dia terpaksa mengambil opsi berhenti kerja.

dipaksa berhenti kerja

Dari dalam hati paling dalam, saya nggak kepengen pembaca wartadana berada di posisi tersebut.

Nggak lah.

Hidup masih panjang. Masa karna keinginan sejenak rusak masa depan kita yang cerah itu???

So please, sebelum kamu meminjam uang jawab 10 pertanyaan di atas hingga selesai.

Pekanbaru, 23 Juni 2019

#girlsliftothergirlsup #2019MestiPintar

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!

Summary
10 Pertanyaan Sebelum Kamu Meminjam Uang
Article Name
10 Pertanyaan Sebelum Kamu Meminjam Uang
Description
Bagi pikiran galau yang sedang kepepet dana tunai, sebelum kamu meminjam uang kepada siapapun, jawab dulu 10 pertanyaan berikut ! Agar keputusan meminjam uangmu menjadi tepat sasaran.
Author
Publisher Name
wartadana.com
-

Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *