Sebelum Meminjam Uang, Tanyain Diri 10 Q’s Ini!
Sebelum Kamu Meminjam Uang, Jawab Dulu!
Kali ini wartadana bahas 10 pertanyaan yang wajib kamu tanyakan kepada diri sendiri, sebelum kamu meminjam uang.
Keep scrolling.
Atau langsung tutup artikel jika kamu nggak siap untuk menjawab dirimu sendiri.

Dan kalo kamu bertanya-tanya, kenapa sih repot-repot bertanya pada diri sendiri?
Percayalah nggak banyak orang yang akan ngomong langsung padamu bahwa : kamu nggak perlu minjam uang saat kamu nggak benar-benar butuh.
Sebagian orang akan malas melangkahi batas kalo ngajarin temannya dan lebih suka membiarkan temannya melakukan apa yang dia mau.
Jadi hanya tersisa dirimu sendiri untuk jadi stopper.
Hanya kamu benteng terakhir untuk membereskan keuanganmu.
Sehingga kamu perlu tanyakan 10 pertanyaan di bawah ini setiap kali mau meminjam uang.
Terserah orang bilangin lebay atau kikir, yang kamu harus mencari cara agar nggak terjebak hutang.
Kembali pada omongan orang soal kikir atau lebay.

Kalopun orang ngatain demikian, emangnya sewaktu kita berkubang hutang situ mau bantuin bayar?
Nah, sebelum kamu meminjam uang jawab dulu 10 pertanyaan ini dengan jujur.
1. Apa Tujuan Kamu Minjam Uang?
“Mau minjam buat apa?”
Yuk belajar membedakan meminjam untuk kebutuhan vs meminjam untuk keinginan.
| kebutuhan | vs | keinginan |
| harus dipenuhi | vs | mau dipenuhi |
| urgent | vs | masih bisa ditunda |
Tujuannya adalah agar kamu paham tingkat urgensinya.
Kamu yang bisa simpulkan, urgent banget atau masih bisa ditunda?
Kalo tingkat urgensinya rendah, ya harus menunggu.
Tetapi jika memang urgensinya tinggi, lanjut ke pertanyaan selanjutnya.
Nah, capeknya jadi manusia adalah kamu bisa ngasih pembenaran yang mengada-ada pada diri sendiri, sementara ngasih penghakiman berat bagi yang orang lainnya.
Jadi waktu kepepet butuh uang, kamu pasti akan mikirin 1001 alasan bahwa kamu MEMANG HARUS MINJAM.
Pertanyaan butuh nggak butuh sedari awal pasti sudah ada di pikiran kamu, sebab menjadi masalah yang ingin kamu selesaikan dengan berhutang.
Tapi coba deh, tanya kembali pada diri sendiri dan jawab jujur pada diri sendiri.

Tanpa jujur, kamu nggak bisa menilai dengan logis seperti apa kondisi keuanganmu.
Karena banyak banget orang di luar sana, yang kepikiran buat ngutang hanya demi beli barang konsumsi.
Semisal ngutang buat belanja online, atau ngutang buat upgrade smartphone.
Bukannya nggak boleh, tetapi akuilah bahwa kegiatan itu nggak urgent dan masih bisa ditunda.
Jadi kenapa nggak ditunda dahulu hingga uangnya terkumpul dan bisa bayar tunai?
2. Kamu Mau Minjam Berapa?
Pertanyaan kedua sebelum kamu meminjam uang :
- Jumlah uang yang kamu perlukan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan tersebut.
- Berapa duit yang kamu miliki saat ini ?
- Jumlah yang kurang / selisihnya?

Dalam menjawabnya, upayakan untuk menemukan angka pinjaman paling rendah.
Curcol : ada seorang kenalan yang punya niat untuk minjam lebih dari yang dia butuhkan. Alasannya untuk dana cadangan, biar ada pegangan di tangan. Dana cair dongg, sebab doi kerja di bank.
Fast forward setahun, dia harus melunasi hutang tersebut sebab akan pindah kerja. Kelimpungan dong karena pinjamannya lumayan gede.
Konyol juga ya?
Kalo dari awal minjam secukupnya, tentu angka pinjamannya lebih sedikit dan mudah dilunasi.
Jadi berkaca dari pengalaman tersebut, marilah meminjam uang secukupnya.

Kamu bisa menghitung ulang jumlah pinjaman yang dibutuhkan, atau menjual barang-barang nggak kepake, atau nego-nego jumlah kebutuhan tersebut.
Yang penting secukupnya.
Hutang jangan dilebih-lebihin, please!
3. Emang Kebutuhanmu Nggak Bisa Ditunda?
“Emang urgent banget ya? Belum bisa ditunda sama sekali?“
Memang di awal kamu sudah mempertanyakan hal ini, se-urgent inikah kebutuhan tersebut?
Ternyata jawabannya memang mendesak, sehingga kamu memutuskan untuk meminjam uang.
Tetapi nggak ada salahnya ditanyain kembali:
- benar-benar mendesakkah?
- masih dapat ditundakah?
- benaran nggak bisa ditunda ya?
- masih bisakah kamu memilih opsi lain tanpa harus ngutang?

Wartadana ngerti, percaya deh. Di 20-an awal, wartadana juga sering kepepet butuh pinjaman.
Urgent semuanya. Nggak ada yang nggak urgent. Sehingga solusinya selalu minjam sana-sini.
Tapi kalo kilas balik ke masa lalu, ternyata kadang bisa dilewati tanpa minjam uang.
Sama juga kondisinya dengan saat ini, bertanya berulang-ulang emang nyebelin banget.
Duh, kalo bisa nggak minjam, siapa juga yang mau ngutang?
Tapi nggak ada salahnya juga nanya sekali lagi bukan?
4. Dari Siapakah Kamu Meminjam Uang?
“Trus kamu mau minjam dari siapa?“
Penting untuk mengenal karakter orang kepada siapa kamu meminjam uang. Atau mengenal gaya Bank / pinjol apapun yang kamu pilih.
Nggak semua orang yang punya uang bisa menjadi pemberi pinjaman yang baik. Dan nggak semua orang baik bisa menjadi orang yang objektif terhadap kamu.
Jadi hindari 4 tipe pemberi pinjaman :
a. Yang Ada Maunya
Mengertilah pastinya bahwa hidup adalah proses timbal balik.
Beberapa orang mampu bersikap tulus dan nggak mempermasalahkan bantuannya kepada kamu.
Tetapi ada juga beberapa orang yang sudah punya kepentingan sendiri terhadap kamu.
Dengan mudah orang orang begini akan memanfaatkan kamu saat berada dalam posisi berhutang kepadanya.
Lumrah, karena hidup menjadi transaksi jual beli bagi orang demikian.
Tetapi permasalahannya adalah apakah kamu mau menjadi objek jual beli ?
Kamu menggadaikan bantuan atau sesuatu demi pinjaman dari yang bersangkutan?
b. Yang Suka Mengungkit-Ungkit
Tahan nggak kalo setiap kali berurusan dengan sesuatu, si kawan akan ngomong :
Iyah, kemarin kan kamu pernah minjam dari aku?
Atau mencari-cari momen untuk selalu mengingatkan kamu akan betapa besar HUTANG BUDI yang kamu miliki terhadapnya.
Harusnya orang yang baik, terlepas dari siapapun itu adalah orang yang akan ngungkit masa lalu terus menerus.

Peduli amat deh.
Kalo ketemu dengan orang yang masih suka ngungkit, seperti mau ngingatin betapa berat masa lalu kamu dan betapa dermawan yang bersangkutan, JANGAN MINJAM UANG DARI YBS!
c. Yang Habis Minjamin Nagih Melulu
Ada beberapa orang yang tipikalnya seperti ini.
Kebayang baru minjam duit sehari dan si kreditur nanyain melulu. Nampak banget nggak ikhlas minjamin.
- ‘Eh, duit kemarin sudah?’
- ‘Woi, kapan rencana mau bayar?’
Percaya deh, banyak orang demikian. Beberapa mungkin nggak nanya secara vulgar soal uangnya.
Tapi ada beberapa yang selalu ngeluh kalo uangnya lagi pas-pasan.
Secara nggak langsung ngasih kode kalo ybs lagi butuh uang nih, kapan balikin hutang?
Hindari yang beginian.
d. Yang Suka Ngerendahin
Ngerendahin alias menempatkan dirinya lebih tinggi dari kamu.
Menurut wartadana, ini rada-rada tricky ya.
Karena ada beberapa orang emang doyan ngejek tanpa maksud apapun, sementara yang lain nggak ngejek tapi tatapannya tajam merendahkan.
Tapi tetap saja, sewaktu ngomong mau minjam uang, setengah dari gengsi kamu sudah habis.
Jadi, apa kamu masih sanggup biarin setengah gengsi yang tersisa kena injak orang beginian?
Saran wartadana, karena hal-hal seperti ini berkaitan dengan uang, lebih baik hindari orang-orang yang emang bikin kamu ngerasa nggak enak di awal.
5. Gimana Cara Kamu Mengembalikannya?
“Tar balikinnya gimana?“
Ingat selalu hutang harus dibayar, terlepas :
- betapa kayanya orang yang memberikan pinjaman,
- remehnya angka pinjaman kamu tersebut
- sesusah apapun kondisi keuangan kamu.

Jadi jangan mikir enaknya doang, mikir dengan dapetin pinjaman kamu bisa lega sejenak dan bernafas tenang.
Mikir yang kamu gunakan ini adalah uang orang lain, yang notabene harus kamu kembalikan.
Sehingga sedari awal, cara mengembalikannya haruslah menjadi fokus kamu.
Apakah dengan :
- Mengurangi biaya hidup bulanan dan mengalokasikannya untuk cicilan?
- Menambah penghasilan dengan kerjaan tambahan?
- Menjual beberapa aset kamu yang nggak likuid?
- Menunggu uang bonusan baru bayar?
Dalam kondisi kamu nemuin cara untuk mengembalikannya, bolehlah berhutang.
Tapi kalo kamu nggak kepikiran opsi untuk mengembalikannya, balik ke diri sendiri lagi.
Seberapa urgent bagi kamu, keperluan yang membuatmu mesti ngutang? Karna kamu sendiri tahu, kamu nggak mampu bayar kembali.
6. Mau Minjam Berapa Lama?
“Emang kapan baru bisa bayar? Aka, berapa lama sih kamu mau minjam? “
Menyambung poin 5, setelah tahu gimana cara membayar hutang tersebut, maka kamu harus punya gambaran kapan akan melakukannya?
- Mengurangi biaya hidup bulanan dan mengalokasikannya untuk cicilan? Kapan? Mulai bulan depankah? Mulai bulan inikah?
- Menambah penghasilan dengan kerjaan tambahan? Kapan mulainya? Kapan dapat penghasilannya?
- Menjual aset kamu yang nggak likuid? Estimasi waktu menjualnya berapa lama?
- Menunggu bonusan baru bayar? Emang kapan bonusan? Kinerjamu sudah bagus sehingga yakin bakalan dapat bonus?

Curcol : seseorang pernah minjam dengan janji akan balikin sewaktu gajian. Gajian berlalu dan doi mengaku belum mampu membayar.
Janjinya berubah menjadi hingga bonusan. Bonusan berlalu dan doi nggak dapat bonus.
Tapi doi tetap bertanggungjawab, walopun terjadi keterlambatan.
Poinnya adalah kamu minjam dari siapa? Apakah orang tersebut bisa ngasih toleransi kalo kamu telat bayar? Kalo nggak, apa konsekuensinya? Sanggupkah kamu?
7. Kalo Pembayaranmu Nanti Meleset, Gimana?
“Ntar kalo bayarnya nggak tepat waktu, gimana?”
Ini pertanyaan yang muncul di hati calon pemberi pinjaman.
Dan pertanyaan ini harus kamu jawab sebelum kamu meminjam uang.
Catatannya : saat meminjam ke bank, nggak ada opsi terlambat membayar.
Sebab dengan meminjam uang ke bank, kamu melakukan perjanjian tertulis yang sewaktu kamu langgar akan mengakibatkan kerugian yang lebih besar.
Contoh sederhana : keterlambatan pembayaran pinjaman di bank atau leasing atau institusi semacam fin-tech akan kena denda keterlambatan.
Hebatnya lagi, hampir 90 % orang yang nggak pernah bertanya berapa denda keterlambatan di awal meminjam.
Dengan asumsi, hidup bakalan mulus seperti jalan tol.
Sehingga saat mendapat tagihan denda sebesar 4-5 % per bulannya dari angka tagihan, peminjam kaget bukan main.

Sebab jumlahnya membesar akibat menggulung setiap bulan.
Wartadana nggak tebar fear, melainkan jujur karena sudah sering jumpa dengan orang yang mengeluh akibat denda keterlambatannya yang besar.
Lain cerita sewaktu kamu meminjam ke saudara atau teman, yang masih bisa nerima kalo pembayaran kamu telat satu dua bulan.
Tapi gimana cara menghadapi mereka dan ngomong kalo kamu terlambat bayar?
8. Kalo Kamu Nggak Mampu Bayar, Gimana?
“Tadinya masih mikir kalo nggak tepat waktu, kalo nggak mampu bayar gimana dong?“
Hei-hei! Berhenti sejenak di sini!
Wartadana paham, sebagai calon peminjam kamu adalah makhluk super optimis.
Wartadana ngerti, pikiran mampu menyediakan alternatif pembayaran.
Entah dari opsi minjam kembali (gali lubang tutup lubang), opsi jual aset yang nilainya juga nggak seberapa, bawa barang ke pegadaian atau apapun itu.
Sekarang, kamu kembali lagi pada persoalan jujur.
Seandainya semua opsi ini nggak berjalan mulus, apa yang akan kamu lakukan?
Teman-teman, seandainya kamu minjam karena kebutuhan yang harus dan mendesak, wartadana yakinin kamu bahwa solusi akan selalu ada.
Percaya deh, sewaktu kamu punya niat tulus, kamu akan selalu diberi jalan keluar.
Tetapi, seandainya kamu minjam hanya karena keinginan yang masih bisa ditunda, besar kemungkinan besok-besoknya akan ada keinginan lain yang kamu kejar.
Jadi kayak lingkaran setan yang nggak ada habisnya. Dan hutang-hutang ini nggak akan kelarr.
Lantas sewaktu kamu nggak mampu bayar, apa yang dapat kamu lakukan?
9. Kalo Kamu Nggak Minjam, Gimana?
“Emang kalo kamu nggak minjam, kenapa sih?“
Kembali lagi ke pertanyaan di awal tentang tingkat urgensi kebutuhan kamu.
Kembali lagi nanya ke diri sendiri, bahwa ternyata nggak sanggup bayar, kalo nggak dapetin pinjaman, gimana ya?
Please jangan tengsin atau gengsi untuk mengakui kalo kamu nggak ada uang.

Karna di jaman begini adalah selama niat kamu tulus pasti ada jalan keluar.
Kalopun nggak mampu membayar kembali, kamu masih opsi lain seperti penggalangan dana online yang marak belakangan ini.
- Silahkan klik laman Kitabisa.com ini untuk melihat opsi penggalangan dana.
- Atau silahkan klik artikel dari Finansialku berikut untuk tahu apa saja situs donasi online terpercaya di Indonesia.
Sebab berdasarkan artikel Kompas berikut, Indonesia merupakan negara paling dermawan.
Yang artinya ada banyak orang di NKRI yang punya hati baik untuk nolongin sesama.
Percaya deh, jika kamu emang membutuhkannya, di luar sana akan ada banyak relawan yang tanpa babibu akan langsung menolong.
Jadi opsi ini boleh dipertimbangkan!
10. Yakin Tanggung Jawab?
“Apakah kamu yakin mampu bayar hingga lunas sesuai dengan janjimu? “
Dari pengalaman hutang piutang :
Ada yang sebelum hutangnya lunas udah mengurangi jumlah hutangnya. Misalnya dia minjam 1 juta, di kepalanya hutang dia hanya 500 ribu. Adaaa….
Ada yang katanya mau bayar bulan xx dan kemudian lupa. Adaaaa…
Parahnya ada yang masih sempat-sempatnya nge-post ini itu di social media dan bersikap kayak nggak punya hutang. Adaaaa…
Ada juga yang harus ditagihin melulu dan selalu punya jawaban lusa, besok atau senin untuk membalas pertanyaan saya. Adaaa…
Poinnya adalah sewaktu kamu meminjam, siapkah kamu bertanggungjawab penuh terhadap hutang tersebut?
Jangan sampai reputasi baru sebagai bad debtor tersemat kepada kamu!
Tapi bukan berarti semua orang yang minjam punya mental nggak bertanggungjawab loh ya.
- Banyak yang meminjam dan on time dalam membayarkannya.
- Ada juga yang nggak perlu diingatin sama sekali.
Dan sebisa mungkin sewaktu minjam uang, kamu masuk ke kategori yang terakhir ini.
Karena tanggungjawab adalah karakter.
Orang yang karakternya jelek, akan jelek kemana-mana. Sementara orang yang karakternya baik, akan baik kemana-mana.
Sebelum Kamu Meminjam Uang
Sebagai orang yang pernah ngutang kemana-mana, wartadana masih paham banget nggak enaknya berhutang.
Sehingga artikel ini dibuat sebagai wake up call buat teman-teman yang sedang mengintip-ngintip aplikasi pinjaman online dan sejenisnya.
Sebelum kamu meminjam uang kemana-mana, baik ke orang pribadi atau lembaga keuangan atau fin tech, baca dulu hingga selesai.