MISKIN ADALAH PRIVILEGE, REALLY MAN?!

Ada yang bilang miskin adalah privilege, benarkah?

Wartadana nggak suka mencampuri ide atau jualan influencer finansial manapun. Tapi narasi miskin adalah privilege, cukup mengganggu.

Sehingga ketimbang nginap di otak, mending wartadana tumpahin di sini.

Miskin Adalah Privilege?

Miskin adalah privilege merupakan ide dari seorang selebgram finansial bernama Indra Kenz. Dengar-dengar saking hebohnya statement ini, sang influencer meluncurkan buku berjudul sama.

Btw wartadana pengen screenshot kalimatnya, tapi nggak ketemu. Kalo ada yang bisa kasih link-nya, bantu komen di bawah dong.

Balik ke narasi miskin adalah privilege.

Untuk bisa ngomongin esensinya, tentu kita harus tahu apa itu miskin dan apa itu privilege?

miskin adalah privilege

Apa Itu Miskin?

Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang kekurangan uang atau materi. Kemiskinan terjadi saat seseorang nggak mampu memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Miskin terasosiasi dengan :

  • kondisi tubuh yang kurang sehat, baik dari malnutrisi atau kebersihan,
  • level pendidikan yang rendah, cenderung tanpa keahlian,
  • nggak mampu / nggak mau untuk berusaha / bekerja,
  • kebiasaan yang merusak / perilaku tidak terpuji,
  • ketidakmampuan untuk merencanakan masa depan.
apa itu kemiskinan

Dari defenisi di atas, wartadana simpulkan mungkin influencer yang punya gelar ST ini bukanlah orang yang terasosiasi dengan kemiskinan.

Maksud wartadana gini, nggak punya uang banyak / nggak masuk kategori middle class, bukanlah orang miskin.

Karna balik lagi nih, orang miskin seringnya nggak mampu memenuhi kebutuhan pokok, termasuk untuk makan 3 kali sehari. Bukan makan dalam konteks di restoran.

bukan middle class

Sehingga kalo ybs bisa menamatkan kuliah, at least level miskin yang mungkin dia alami beda dari level miskin orang yang buat makanpun nggak punya uang.

Apa Itu Privilege?

Privilege punya 3 makna esensial :

  • keuntungan yang dimiliki oleh orang-orang tertentu,
  • kesempatan spesial yang membuat bangga,
  • sisi positif dari kekayaan dan kekuasaan di lingkungan sosial.

Secara gamblang, privilege adalah hak atau keunggulan yang sifatnya menguntungkan di posisi atau orang tertentu.

apa itu privilege

Jadi ngomongin miskin adalah privilege secara konteks kalimat, adalah hal yang nggak tepat.

Karna miskin terasosiasi dengan kurangnya sumber daya.

Sementara privilege adalah kondisi dimana seseorang punya sesuatu yang menempatkannya di atas orang lain.

Btw kalo ada guru bahasa / siapapun yang belajar soal semantik, komen dong pendapat kalian soal kalimat miskin adalah privilege ini.

Toxic Positivity

Ngomongin kalimat spektakular miskin adalah privilese, tentunya identik dengan toxic positivity.

Narasinya : menjadi miskin membuat seseorang bisa merasakan proses berjuang dan sukses. Kalau lahir dari keluarga kaya, tekanan mental lebih besar. Udah terlahir kaya nggak bisa jadi miskin, harus jadi lebih kaya dan itu yang berat.

Kehaluan kayak gini adalah menyenangkan untuk diamati, bukan untuk jadi motivasi.

Karna walopun penting menjadi pribadi yang positif, kamu harus tetap realistis.

It’s okay to dream big, but still be realistic.

toxic positivity

Balik ke toxic positivity, kondisi ini adalah saat orang mencoba memberikan vibe positif sampai mengabaikan perasaan / kondisi sesungguhnya dari lawan bicaranya.

Contoh : seseorang lagi berduka dan ybs bilang : “yang sabar, ini cobaan, kamu pasti kuat.

Hal yang sama berlaku dalam konteks kemiskinan.

Saat seseorang lagi miskin, membaca kalimat yang ngomong seakan menjadi miskin adalah keberuntungan, tentu saja menghina sekaligus merendahkan.

nggak cerdas emosinya

Apalagi yang ngomong adalah orang 20-an yang pamer sana sini di sosial medianya. Come on man!

Segitu insensitif-kah influencer finansial di luaran sana? Sebegitu pengenkah jualan buku viral?

Sampai menjadikan kemiskinan sebagai topik dengan bingkai yang salah.

Karna saat ngomong bahwa menjadi susah adalah sesuatu yang baik, ybs :

  • mengabaikan perasaan pekerja pabrik yang harus bekerja keras tanpa menerima hasil sepadan,
  • menghina hidup bocah yang harus ngamen sambil menggendong balita di punggungnya,
  • merendahkan kakek tua yang mendorong gerobak berisi sapu ijuk dagangannya dan
  • membuat orang lain merasa bahwa tetap miskin adalah kesalahan mereka.

Come on man!

insensitivitas sosial

Banyak hal bisa jadi konten, even kehidupan pribadimu pun nggak masalah.

Tapi please, kasih batasan antara konten yang berpotensi viral vs konten yang nunjukin rendahnya level kecerdasan emosi kamu.

Karna miskin bukan konten, bukan lelucon.

kemiskinan bukan lahan basah

Dan publik Indonesia, yuk berhenti kasih panggung ke orang-orang nggak sensitif yang bukannya melakukan sesuatu, tapi malah menjadikan kemiskinan sebagai lahan basah mereka.

Influencer Finansial

Kebetulan sosok yang ngomongin hal gini adalah seorang influencer finansial yang lumayan sering pamer di sosial media.

Ps : kalo usiamu baru 20-an something, jauhi konten-konten kayak gini :

  • kaya sebelum usia 30-an,
  • beli apartemen sebelum umur 25-an,
  • punya 1 miliar sebelum 20-an.

Karna di usia 20-an, menemukan dirimu sendiri dan fokus mengejar apapun impianmu adalah hal yang penting.

influenser finansial

Balik ke soal influenser finansial. Wartadana suka melihat seorang influencer finansial bernama Belvin, aka lord pampedak.

Satu hal yang sangat wartadana respect dari dia adalah ybs fokus dengan lapaknya sendiri.

Beda dari beberapa influencer finansial yang jualan semua aplikasi (yes, semua link referralnya ada di linktree mereka), Belvin konsisten ngomongin saham.

Well, bener, dia jualan grup VIP. Benar juga kadang ada skema pump and dump.

Tapi konsistensinya harus dihargai loh. Karna dia nggak nawarin aplikasi atau situs investasi manapun.

jualan semua hal

Bandingin dengan beberapa sosok influencer yang namanya udah dikenal dimana-mana, udah bikin buku dan channel youtube, tapi masih ada mau jadi BA aplikasi trading yang aksesnya harus pake VPN.

Afiliator Finansial

Afiliator aplikasi adalah sosok influenser finansial yang ditunjuk oleh aplikasi, untuk memberikan eksposure terhadap aplikasi tersebut.

Belakangan isu afiliator aplikasi juga heboh, seiring dengan pengakuan orang yang merugi hingga ratusan juta. Atau pengakuan seorang selebgram yang ditawari untuk menjadi afiliator.

afiliator finansial

Wartadana nggak memihak afiliator, tapi dalam hal ini wartadana mau poin 2 pihak :

  • Investor, yang maunya untung doang tanpa mikir potensi risiko. Sehingga dengan mudah ngikutin saran siapapun.
  • Regulator (lagi-lagi) yang nggak pernah bisa menghalau hal-hal kayak gini.

Regulator harusnya bikin regulasi, yang menindak oknum sekaligus bisa melindungi investor ritel dari hal-hal kayak gini.

regulator finansial Indonesia

Balik ke pencetus ide miskin adalah privilege, i mean, kalo emang uangnya banyak banget, kenapa pula ybs harus jadi afiliator aplikasi yang bukanya aja pake VPN?

Just saying!

Btw : wartadana tetap respect pada Indra Kenz, gimanapun dia masih muda banget dengan segudang prestasi. Hanya disayangkan adanya konten nggak sensitif kayak gini.

Karna gimanapun nggak ada yang bisa milih mau lahir di keluarga miskin / keluarga kaya.

nggak bisa milih lahir

Sehingga mending omongin hal-hal yang emang bisa orang ubah dengan tangannya. Dibanding ngomongin hal-hal yang udah ada digarisin dari Sang Pencipta.

Ps : opini di atas adalah versi yang lebih beradab, versi bar-bar-nya sudah kena trimming.

Punya pendapat lain soal statement miskin adalah privilege? Drop dong di komentar!

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *