MENGENAL REKSADANA : 7 HAL DASAR BAGI PEMULA

Reksadana merupakan salah satu jenis investasi yang naik daun dalam beberapa tahun terakhir.

Nggak cuman bank saja yang mau menjadi agen penjual reksadana, bahkan market place online pun ikutan.

Sebagai pembeli kita juga nggak mesti beli di angka yang tinggi saja, beli dengan modal Rp 100 ribu pun bisa.

Karena fleksibilitas dan angka return yang ditawarkan oleh investasi ini tergolong ‘menggiurkan’, peminatnya pun besar di pasaran.

Namun wajib kita pahami bahwa reksadana sejatinya adalah investasi, yang satu hari harganya bisa melambung tinggi sementara di hari lainnya harga bisa melantai hancur lebur.

Jadi sebelum melakukan investasi, kita wajib memahami mekanisme dasar reksadana.

 

1. Mengenal reksadana sebagai instrumen investasi

Reksadana merupakan salah satu instrumen investasi yang sifatnya menghimpun dana dari para investor dan memainkannya dalam berbagai instrumen investasi lainnya, seperti saham, obligasi maupun pasar uang.

Jadi dengan kata lain, reksadana itu seperti bank yang fokusnya ke jual-beli instrumen keuangan.

Yang memainkan (melakukan jual beli) adalah seseorang yang kita kenal dengan sebutan Manajer Investasi.

Tugas MI adalah memantau instrumen mana yang dapat dijual dan instrumen mana yang harus dibeli.

Selisih jual-beli tersebutlah yang akan menjadi gain / loss bagi investor.

Tapi keuntungan tersebut nggak langsung kita nikmati dalam bentuk uang. Keuntungan tersebut justru menambah nilai reksadana kita.

Reksadana adalah instrumen investasi yang berupa gabungan dana dari banyak pihak yang dimainkan dalam instrumen investasi lainnya (obligasi, pasar saham, pasar uang dan sejenisnya).

 

2. Tipe investor reksadana

Pembeli reksadana terbagi menjadi 3 kategori berdasarkan tingkat risiko yang berani mereka ambil yaitu :

——————————————————-

A. Agresif

Investor tipe ini adalah investor yang panas. Dia rela dapat rugi sampai habis, asalkan bisa dapat untung besar.

Tipe high ini cocok main di reksadana saham yang akan ngasih angka return yang tinggi.

Nah, sebagai imbal dari return yang tinggi itu, investor juga terpapar risiko yang tinggi. Kalo ada potensi untung besar, ada juga potensi kita kehilangan pokok investasi kita.

HIGH RISK HIGH RETURN.

B. Moderat

Ini tipe investor yang bijak. Dia rela hilang uang hingga paling banter berapa % dengan catatan return-nya cukup bagus.

Biasanya investor ini berinvestasi untuk keperluan jangka menengah, sehingga dia nggak siap untuk kerugian dalam jangka pendek.

Tipe reksadana yang cocok bisa reksadana pasar uang atau reksadana campuran.

C. Konservatif

Ini tipe investor nanggung (maaf ya). Buat dia nggak masalah untung rendah asal nggak ada potensi rugi.

Biasanya yang investor tipe ini mainnya reksadana terproteksi atau reksadana pendapatan tetap.

——————————————————-

 

Untuk mencari tahu karakter investor dalam diri kita, biasa agen akan meminta kita untuk mengisi kuesioner.

Nah kuesioner ini mesti dijawab dengan jujur. Karena kalo dijawab dengan jujur, hasilnya akan tepat.

Dengan hasil yang tepat penjual reksadana bisa bantuin kita untuk ngasih pilihan reksadana yang tepat.

Supaya investasinya bermanfaat dan nggak bikin hati dag dig dug melulu.

 

3. Jenis Reksadana 

Jenis reksadana dibedakan dari instrumen investasi yang dibelanjakan.

Misalnya beli instrumen pasar uang maka disebut reksadana pasar uang.

Kalo beli reksadana saham maka disebut reksadana saham.

No. Jenis Reksadana Tujuan Investasi
1 Reksadana Saham Pasar Modal – pembelian saham
2 Reksadana Campuran Campuran antara saham dan surat hutang (obligasi)
3 Reksadana Pendapatan Tetap Obligasi
4 Reksadana Pendapatan Tetap USD Obligasi / Pasar Uang USD
5 Reksadana Pasar Uang Valuta Asing
6 Reksadana Indeks dan ETF Saham LQ-45

 

4. Unit Penyertaan

Dengan membeli reksadana saham, secara nggak langsung uang investor dibelikan saham oleh sang manajer investasi.

Tapi kan saham itu belinya sistem lot, yang kalo saham bagus butuh uang puluhan juta, sementara kita cuman investasi 100 ribu, gimana dong hitungan kepemilikannya?

Nah, karena ada sang manajer investasi yang menjualbelikan saham tersebut, biar lebih fair kita dikasih hitungan kepemilikan dalam satuan unit.

Unit ini dikenal dengan istilah Unit Penyertaan.

 

Gimana cara menentukan harga unit saya?

Nah, dalam investasi reksadana dikenal juga istilah Nilai Akhir Bersih (NAB) atau Net Asset Value (NAV) yang merupakan jumlah total investasi reksadana.

Untuk tahu harga per unit tinggal dibagikan saja antara NAB dengan UP.

Investor membeli reksadana dengan harga NAB/unit.

Karena jual beli saham ini terjadi tiap hari dan hampir setiap waktu, maka nilai unit kita juga berubah-ubah sesuai kondisi pasar.

Kalo pas lagi bagus, harga unit tinggi, nilai reksadana kita juga tinggi.

Kalo lagi jelek, harga unit rendah, nilai reksadana kita juga turun.

Kalo dalam posisi naik kita disarankan untuk jual reksadana.

Kalo dalam posisi turun kita disaranakan untuk beli reksadana.

 

5. Fund Fact Sheet

Fund fact sheet adalah secarik kertas berisi laporan mengenai sebuah reksadana.

BACA JUGA : CARA MUDAH BACA FUND FACT SHEET

Di dalam satu halaman itu akan tertera total dana kelolaan, siapa manajer investasinya, bagaimana portofolio-nya hingga data historical return reksadana tersebut.

Beberapa orang yang jeli, akan melihat fund fact sheet dari reksadana yang return-nya terkenal tinggi di pasaran.

Dari fund fact sheet akan terlihat portofolio alias jenis saham / instrumen investasi yang dijual-belikan oleh Manajer Investasi-nya.

Nah, mereka tinggal ikutan beli saja saham / instrumen investasinya secara langsung.

Adalah hal wajib untuk membaca fund fact sheet sebelum memutuskan berinvestasi reksadana. 

 

6. Return Reksadana

Membicarakan return adalah hal yang semua orang doyan.

Nah, di fund fact sheet akan tercantum return reksadana baik per bulan, per tahun atau hingga periode berjalan.

Sistem return reksadana bukan kayak bunga deposito ya.

Return reksadana adalah selisih antara nilai beli awal dengan nilai jual akhir.

Jadi kalo baca keterangan di website penjual reksadana dan melihat angka return 10 %, jangan ngebayangin kalo kita akan dapetin 10 % tersebut.

Ilustrasinya seorang investor membeli reksadana A sebesar Rp 200.000 dengan harga per unit adalah Rp 1.000

Unit yang dimiliki investor = Rp 200.000 / Rp 1.000 = 200 unit

Misalnya harga reksadana naik dari Rp 1.000 per unit menjadi Rp 1.100 per unit.

Sang investor sudah untung sebesar Rp 100 per unit.

Berlaku sebaliknya, jika harga reksadana turun menjadi Rp 800 per unit maka sang investor rugi sebesar Rp 200 per unit.

Tapi kalo investor nggak jual unit tersebut, dia nggak akan rasakan paparan dari untung atau ruginya.

Jadi di reksadana, untung/ruginya hanya timbul dari selisih harga beli dan harga jual.

Misalnya pas harga Rp 1.100 dijual, maka investor akan rasakan manfaat untung Rp 20 ribu itu.

Dan kalo kita jual di angka Rp 800, maka kita akan rasakan rugi Rp 40 ribu itu.

Return reksadana nggak kena pajak.

Hal ini karena di awal saat sang Manajer Investasi melakukan pembelian instrumen investasi, sudah dikenakan pajak jual-beli.

Sehingga unit yang kita miliki sebagai turunannya nggak dikenakan pajak. 

 

7. Mekanisme Investasi

Cara membeli reksadana ada 2, yaitu auto invest yang sifatnya rutin bulanan dan sekali beli (mirip dengan deposito).

Auto Invest

Auto invest itu sifatnya untuk ngajarin kita nabung dengan teratur.

Jadi nggak mau tahu apapun yang terjadi, kita sudah subscribe ke agen penjual reksadana untuk pada tanggal tertentu langsung membelikan reksadana yang kita pilih.

Jadi mau harga lagi rendah atau tinggi, dengan otomatis uang terdebet untuk dibelikan reksadana.

Sistem auto invest ini cocok banget kalo kita sudah punya tujuan finansial.

Misalnya sudah niat mau beli rumah 3 tahun lagi. Dengan estimasi harga rumah Rp 400 juta, kita butuh DP sekitar 25 % dari harga rumah, sekitar Rp 100 juta.

Nah, cara yang paling cepat untuk ngitung berapa tabungan kita untuk dapat angka segitu adalah dengan kalkulator auto invest.

COBA CEK : KALKULATOR INVESTASI INI!

Nah, dengan target return 10 % dan inflasi 4 %, kita harus simpan Rp 2,5 juta per bulan.

 

Sekali Beli

Kalo skema sekali beli ini biasanya digunakan oleh orang yang emang sudah biasa investasi.

Investor membeli reksadana untuk didiamkan menunggu harga bagus. Atau untuk melakukan switching agar mendapatkan tambahan untung dari selisih naik turun harga.

 

Dan demikian 7 hal dasar untuk mengenal reksadana yang perlu kita ketahui sebagi investor pemula.

Jangan sungkan untuk nanya, komen atau sekedar menyapa di sosial media.

Ohya, kalo ngerasa artikel ini bermanfaat please bantu share dan subscribe untuk info lain soal uang dan bank. Thanks for visiting wartadana today. 

#girlsliftothergirlsup

Pekanbaru, 05 Mei 2018

Listening to Ed Sheeran – Shape of You

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!

Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *