MENYELAMATKAN DIRI DARI HUTANG KARTU KREDIT

Hutang kartu kredit adalah momok mengerikan bagi siapa saja yang tengah berjuang untuk melunasinya.

Bunga dan denda kartu kredit memiliki kemampuan untuk membuat kita rela menjual diri demi melunasinya.

Lebay? Nggak percaya?

Di bawah ini saya akan cerita pengalaman saya menyelamatkan diri dari hutang kartu kredit yang menumpuk.

Sharing jujur mengenai sepenggal bagian hidup saya, dimana saya saya bekerja hanya untuk melunasi tunggakan kartu kredit.

MENYELAMATKAN DIRI DARI HUTANG KARTU KREDIT

pict : Pinterest.com

 

Berkenalan dengan kartu kredit

Saya memiliki kartu kredit pertama kali di bawah usia 20 tahun.

Kalo dari scoring bank, nggak mungkin saya bisa memiliki fasilitas kartu kredit.

Karena bank mensyaratkan usia 21 tahun sebagai usia yang cakap sebagai pemegang kredit.

Tapi dengan bantuan seorang kenalan, akhirnya kartu kredit tersebut jadi. ‘Susah banget fight-nya’ kata orang tersebut setelah kartu kreditnya jebol.

Kartu kredit di sebuah bank swasta dengan nilai limit Rp 3 juta di tahun 2010.

Saya yang masih muda, begitu mendapatkan kartu kredit kegirangan bukan main hingga cengengesan senang.

 

Berkenalan dengan kredit

Karena masalah keluarga yang nggak bisa saya ceritain di sini, di tahun 2010 saya juga mengajukan pinjaman ke sebuah BPR, Bank Perkreditan Rakyat.

Pinjaman tanpa agunan sebesar Rp 10 juta yang saya cicil selama 18 bulan.

Bunganya tinggi, seingat saya 1,5-2 % per bulan.

Provisinya dihitung 3 % per akad.

Nggak ada opsi lain sehingga mau nggak mau saya harus ambil opsi KTA ini.

Satu hal positif dari memiliki kartu kredit adalah limit kartu kredit dapat dijadikan basis hitungan bagi bank pemberi KTA.

Beberapa bank menghitung limit maksimal pemberian KTA sekitar 4-5 kali dari limit tertinggi kartu kredit kita.

Sehingga kalo nggak punya kartu kredit saat itu, bisa jadi pinjaman KTA saya ditolak.

Saat itu di tahun 2010, gaji bulanan saya hanya Rp 2 juta dengan kewajiban cicilan bulanan KTA sebesar Rp 700-an ribu.

Kalo pake logika saya saat ini, kewajiban bulanan tersebut nggak akan mampu dibayar.

Tetapi karena meminjamnya lewat teman yang saya kenal, pinjaman tersebut nggak pernah nunggak sekalipun.

Sehabis gajian uang cicilan langsung saya sisihkan / transfer ke teman saya itu (nitip dia bantu setor).

Malu kalo sudah dibantu malah nyusahin orang tersebut. Dan saya takut kolektabilitas saya jadi jelek.

 

Kartu kredit sempat nganggur

2010-2011 adalah masa terberat dalam hidup saya.

Masalah keluarga yang membesar membuat saya kelimpungan. Sebagai anak pertama di keluarga yang telah berpenghasilan, saya mesti membantu keuangan rumah.

Logikanya dari mana gaji Rp 2-3 juta per bulan tersebut mampu membantu saya? Hitungannya nggak masuk sama sekali.

Bahkan adik saya yang baru mulai bekerja pun turut membantu. Walau demikian keuangan masih tetap minus setiap bulannya.

Kewajiban bulanan, biaya hidup yang terus meningkat dan sumber keuangan yang terbatas membuat keadaan makin kacau.

Rumit dan serba terbatas. Apalagi saya datang dari keluarga besar dengan 6 saudara kandung.

Posisinya juga saya dan dan adik kedua sedang kuliah sambilan kerja. Sementara 4 adik saya lainnya masih bersekolah.

Di keluarga nggak ada sumber penghasilan selain tabungan sisa milik mama saya dan gaji saya + adik.

Ngutang ke BPR sudah.

Ngutang ke teman juga sudah.

Kemana lagi mencari pinjaman?

Saya nggak ngerti. Pikiran saya buntu.

Gimana bisa saya cari uang tambahan untuk membantu keluarga?

Hingga di titik terendah dalam hidup saya kepikiran buat jual diri, kepikiran buat nyari oom-oom hingga kepikiran untuk bunuh diri.

Memang kalo dituliskan saat ini setiap opsi di atas berasa kacangan.

Tapi waktu ada masalah, otak kita itu mumet nggak bisa mikir dengan jernih.

Syukurnya saya adalah pengecut yang hanya berani berpikir.

Saya nggak berani melakukan apapun dari ketiga opsi yang terlintas di pikiran saya tersebut.

Takut. Gengsi.

 

Teman yang bukan teman

Hal yang menyedihkan dalam masa buruk adalah mereka memperlihatkan pada kita siapa teman sejati.

Dan kita akan sulit sekali menerima kenyataan bahwa teman yang kita pikir adalah teman sejati ternyata bukan.

Singkat cerita saya pernah meminjam uang kepada salah seorang teman yang saya anggap sebagai teman akrab dan dia nggak meladeni permintaan tersebut.

Kalo dia bilang ‘nggak’, saya nggak akan semarah ini.

Tapi karena dia bersikap seakan nggak terjadi apa-apa, saya sangat marah.

‘Sakit hati’ istilah kece-nya.

MENYELAMATKAN DIRI DARI HUTANG KARTU KREDIT

sumber : quickmeme.com

Kemarahan ini saya bawa bertahun-tahun setelahnya.

Dan setiap kali melihat wajahnya, saya masih bertanya-tanya apa sih yang sebenarnya terjadi?

Dua kali SMS saya yang nggak sekalipun dia balas.

Keesokan harinya sewaktu berjumpa, dia nggak juga membicarakan apapun tentang pinjaman tersebut.

Pengalaman itu membuat saya sadar kalo teman kadang bisa jadi hanya sebuah kata yang membuat kita terdengar ‘lebih manusia’.

Gua punya teman nih, yang artinya gua adalah makhluk sosial.

Padahal bisa jadi ‘teman’ itu bukan orang yang peduli sama kita, bukan orang mau membantu kita dan malah selalu ada di sekitar kita waktu dia lagi butuh saja.

Sekarang membicarakan kejadian ini nggak mendatangkan sakit seperti beberapa tahun yang lalu.

Tapi pernah ada masa saat mengingat hal tersebut membuat saya menangis deras dan sedih sekali.

Saya nggak kepikiran bahwa seseorang tega memperlakukan saya seperti itu.

Sedihnya lagi saya menganggapnya teman dan saya tahu bahwa dia mampu membantu.

Saya juga sudah share banyak tentang masalah yang tengah dihadapi sehingga dia mestinya memahami kondisi saya.

Tapi sikapnya yang nggak mau tahu itu membuat saya super kecewa.

Btw, penasaran nggak berapa uang yang saya mau pinjam dari teman yang nggak mau meminjamkannya ini?

Ya, berapa besar sih jumlah uang yang mau saya pinjam dari dia?

 

Jreng-jreng.

 

Hanya Rp 500 ribu. Makanya saya sedih banget.

Sekarang saya bisa nanya ke diri sendiri, ‘kurang baik apa hidup ini kepada saya’?

Hanya dengan harga Rp 500 ribu, saya dikasih tau kalo orang tersebut nggak layak jadi teman saya.

Harga yang murah. Hanya Rp 500 ribu.

 

Orang baik ada dimana-mana

Nggak butuh waktu lama untuk bertemu teman yang bersedia memberikan saya pinjaman tanpa perlu saya minta.

Kaget kan?

Saya juga kaget.

Karena sudah mentok, akhirnya saya kepikiran untuk menjual handphone dan meminta seorang teman untuk menemani.

Mendengar alasan dan curhat saya yang penuh tangis tanpa saya minta dia malah bertanya berapa yang saya butuhkan.

 

Saya tersenyum senang saat menuliskan bagian ini saya sadar bahwa saya sangat beruntung.

Mungkin akan terdengar lebay. Tapi saya percaya bahwa saya dikelilingi oleh teman-teman yang baik dan care pada saya.

Tanpa bantuan mereka saya nggak mungkin bisa melalui satu hari saja di masa itu. Saya nggak sekuat itu untuk berdiri seorang diri.

Orang-orang baik selalu ada dimanapun. Mungkin terdengar kacangan, tapi benaran.

True friends are rare gems. Nggak banyak orang mau nemanin kita dalam susah, benar kan?

Dan kalo kamu telah menemukan seorang teman yang bersedia menemanimu dalam kondisi susah, jaga pertemanan tersebut.

Percaya deh, semakin menua kita, akan semakin sulit menemukan teman yang ngobrol dengan nyambung serta memiliki perasaan tulus pada kita. Susah banget!

 

Mengenal gesek tunai

Saya kembali pusing memikirkan gimana caranya nambah sumber keuangan. Ngutang sudah pasti.

Tapi ke siapa? Masa ngutang ke teman terus? Malu dong, segan juga.

Kepala sudah tuing-tuing, mikir sampai ujung dunia padahal solusi nggak ketemu.

Hingga di suatu sore yang aneh, saya terlibat pembicaraan yang ‘mencerahkan’ dengan seorang teman perihal gesek tunai.

Tahun 2011. Apa itu gesek tunai?

Gesek tunai adalah mekanisme dari toko yang melakukan bisnis sampingan dengan menggesekkan kartu kredit seolah kita berbelanja dan memberikan uang cash-nya kepada kita.

Fancy right? Terdengar wah dan mantap. Padahal aktivitas ini dilarang oleh otoritas lho 😛

 

Maka saya mencoba gesek tunai untuk pertama kalinya. Di sebuah toko yang direferensikan oleh teman.

Pemilik took sedikit galak, karena dia hanya membantu orang yang sudah dikenalnya. Kalo bukan kenalan orangnya nggak mau membantu.

Deg-degan sekali waktu mau ngambil uang tersebut. Hanya gesek doang, apa bisa?

Akhirnya saat keluar struk putih dari mesin EDC-nya baru hati saya lega. Rupanya memang bisa, walopun kena potongan 3 %.

BACA JUGA : 10 CARA CERDAS MEMANFAATKAN KARTU KREDIT

 

Gesek tunai melulu

Dalam momen-momen sulit tersebut, kartu kredit menjadi teman setia yang memberikan solusi dalam sekejap.

Gimana nggak?

Kapanpun butuh tinggal gesek.

Kalo uang nggak cukup, bayarnya tinggal dicicil.

Walaupun gaji naik setiap tahun, tapi tetap nggak mampu mengimbangi pengeluaran. Hingga akhirnya apply kartu kredit lainnya.

Sampai saya punya 3 kartu kredit yang semuanya terpakai full.

Ada yang dibuat cicilan dan ada juga yang nggak mampu saya buat cicilan.

Sehingga saya hanya membayar minimum payment-nya saja.

BACA JUGA : APA SIH MINIMUM PAYMENT?

 

Di masa paling buruk, sewaktu saya membayar tagihan tersebut siang hari, malamnya sudah digesek kembali.

Pernah juga hanya gesek Rp 300 ribu dan dimarahin pemilik toko karena nominalnya terlalu kecil. 😀

Apa boleh buat, semuanya mesti dilakoni karena uang saya pas-pasan banget.

 

Terpukul karena hutang

Kartu kredit bukan solusi permanen. Buktinya setelah satu-dua bulan, tagihan menumpuk mesti dibayar.

Haduh, gimana cara saya mampu membayarnya adalah keajaiban.

Tagihan demi tagihan datang, cicilan 1, cicilan 2, cicilan 3 dan seterusnya.

Yang kemarin-nya sudah lega sebentar malah pusing lagi sekarang.

Baru menyadari bahwa dengan menggesek sebanyak itu, ada kewajiban yang mesti saya penuhi lebih banyak dari yang saya gesek.

Nangis darah.

 

Banting tulang nyari uang

Sadar gaji saya nggak mencukupi sama sekali, saya terpaksa kerja double-double. Pekerjaan sampingan yang banyak membantu adalah kerjaan jadi joki skripsi.

Penghasilannya lumayan karena saya matok harga yang mahal. Apa boleh buat, saya butuh uang – urgent.

Badan hancur lebur karena harus begadang ngerjainnya. Kadang bolos kerja kalo udah deadline dari langganan.

Tapi penghasilan sampingan itu sangat membantu saya untuk ngasih rongga buat keuangan saya.

Ada juga beberapa pekerjaan tambahan lainnya seperti ngajar les, ngerjain pernak-pernik hingga ada beberapa proyek kecil bareng teman.

Apapun yang ngasih uang saya hajar, nggak milih-milih. Yang penting uangnya cash, nggak nyuri, nggak nipu dan nggak jual diri.

Masa itu adalah waktu di mana saya kerja keras hanya untuk bertahan hidup dan dengan susah payah mempertahankan keyakinan bahwa hari esok akan lebih baik.

Jelas sangat sulit untuk percaya kalo hari esok akan lebih baik.

Pengeluaran melebihi pemasukan.

Saya harus mengeluarkan biaya untuk bekerja, bayar hutang, membantu keuangan rumah dan membayar biaya kuliah di waktu yang bersamaan.

Walau ada 2 orang adik yang telah bekerja dan membantu, tetap saja nggak bisa menolong hingga saya bebas dari hutang-hutang tersebut.

Jadi gimana saya bisa percaya akan ada ‘masa depan yang lebih baik’?

 

Hutang mesti lunas

Mengamati tagihan kartu kredit yang saat itu masih dikirim cetakannya, saya sampai pada satu pemahaman.

Saya nggak akan bisa tidur tenang kalo hutang ini nggak selesai.

Apapun ceritanya hutang kartu kredit saya mesti selesai, hutang mesti lunas.

Artinya saya nggak boleh nambah gesek lagi.

Saya nggak boleh ngandalin gesek tunai sebagai dana tambahan saya.

Nggak boleh gesek kartu kredit. Titik.

Sempat nggak mampu bayar, sebuah tagihan kartu kredit terpaksa saya bayar minimal selama 2 tahun. Rp 500 ribu per bulan selama 2 tahun.

Kalo dihitung selama 2 tahun saya bayar Rp 12 juta.

Bunganya besar, bikin hati tambah sedih. Tapi mau ngomong apa. Nasi sudah jadi bubur.

Ibarat buah potong sudah terlanjur diblender jadi puree.

Makanlah, walopun bukan selera kamu!

 

Untuk menyelesaikan tagihan, saya bersusah payah menahan diri.

Saya menyesuaikan diri dengan gaji yang segitu-segitu, dengan tagihan-tagihan yang masih bisa ditunda dan dengan kebutuhan-kebutuhan lain yang coba dikurangi.

Percaya atau nggak, saat itu saya sudah bekerja selama 5-6 tahun dan nggak punya tabungan sepeserpun.

Uang gaji habis buat bayarin hutang. Ludes.

Saya lihatin sekeliling, lihatin orang yang punya perhiasan dan gadget baru, orang yang beli kendaraan baru, orang yang beli rumah dan orang yang jalan-jalan mulu.

Saya?

Boro-boro mau yang begituan, bisa makan enak setiap hari saja adalah mimpi tengah bolong.

Dan berbekal keinginan nggak mau susah lagi, saya pegang komitmen untuk melunasi setiap hutang yang saya buat.

Cukup deh! Cukup! Gua nggak mau kerja buat bayar hutang seumur hidup! Nggak!!!

 

Hutang akhirnya lunas

Setelah hidup melarat karena hutang dan tagihan selama hampir 5 tahun, di akhir tahun 2014 semua hutang itu lunas.

Lunas tanpa bekas.

Dan saya berjuang menahan diri untuk nggak gesek kartu kredit satu peserpun. Karena takut banget.

Bayangkan saja, dari tahun 2010 hingga 2014 bekerja untuk membayar tagihan sampai kandas. Membayar hutang sampai nggak ada yang tersisa dari gaji saya.

5 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani gaya hidup ‘membayar hutang dan tagihan’.

60 bulan.

60 kali gajian tanpa sisa uang.

60 kali gajian tanpa cukup.

60 kali gajian untuk bayar hutang ke kartu kredit.

Saya nggak mau kembali ke masa itu. Nggak mau lagi.

BACA JUGA : 5 MINDSET UNTUK BEBAS HUTANG

 

Sehingga sekarang saya ganti pola pikir.

Kalo saya nggak punya uang, saya nggak belanja.

Kalo saya nggak punya uang, saya nggak ganti hp.

Kalo saya nggak punya uang, saya nggak beli baju.

So what? I’m fine with my old phone. I’m fine with my old clothes.

Yang penting jangan ngutang lagi, please!

Jadi setelah akhirnya hutang saya lunas, kamu bisa kebayang kan betapa lega-nya saya?

Finally.

MENYELAMATKAN DIRI DARI HUTANG KARTU KREDIT

sumber : memegenerator.net

 

Pesan sponsor

Hingga saat ini saya masih menggunakan semua kartu kredit lama saya.

Ada 5 bank dengan limit yang bervariasi.

Memang pengalaman hidup dalam kubangan hutang kartu kredit itu nggak enak, tapi saya percaya saya tetap butuh kartu kredit.

Karena dana kartu kredit itu bisa digunakan untuk jaga-jaga jika satu hari nanti saya butuh.

Sederhananya, kalo butuh uang enakan minjam ke bank daripada minjam ke orang.

Kalo pake kartu kredit sisi positifnya nggak ada yang tanyain macem-macem uangnya untuk apa, nggak mesti lihat-lihat mood orang waktu saya ingin meminjam dan nggak perlu nahan sungkan.

Siapa yang pernah meminjam uang ke sodara akan mengerti gimana rasanya menelan gengsi dan bertanya-tanya, dia mau minjemin apa nggak ya?

Jadi ya, saya memilih untuk tetap keep kartu kredit tersebut.

Pola pikirnya yang saya ganti.

Hari ini saya boleh gesek kalo saya punya uang buat bayar.

Kalo nggak ada uang buat bayar, artinya saya belom layak gesek kartu kredit tersebut.

Susah banget melatih otak untuk mikir begini. Tapi pilihannya cuman susah belanja atau susah bayar.

 

Kesimpulannya adalah walopun hutang kartu kredit itu bisa menjerat, saya percaya kita tetap harus punya kartu kredit.

Karena waktu susah dan nggak punya uang, kartu kredit bisa jadi teman.

Tapi, dia nggak bisa jadi teman yang baik. Kartu kredit adalah teman yang pamrih.

Jadi kembali pada diri kita sendiri untuk membuat jarak aman dengan kartu kredit kita.

Demikian share kali ini tentang ‘menyelamatkan diri dari hutang kartu kredit’. Please bantu share kalo artikel ini menarik dan ‘mencerahkan’.

Ohya, sekalian subscribe kalo kepengen dapat update rutin tentang uang dan bank. Terima kasih sudah berkunjung ke wartadana hari ini.

#girlsliftothergirlsup

Pekanbaru, 11 April 2018 21.40

Listening to Justin Timberlake – Mirror

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!

Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

2 Respon

  1. katrine wijaya berkata:

    Bener banget yg soal temen itu ciee.. jgnkan temen, aku mah sodara..jelas2 dia bisa bantu tapi acuh gak acuh gitu, sampe terakhir saya pake pinjaman agunan BPKB, mau ga mau..bunga nya bikin nangis darahh..
    Kartu Kredit emg temen yg bisa diandalkan kapanpun saat kita ‘butuh’, tapi saat kita cuma hasrat ‘kepengen’..jauh2 please dari Kartu Kredit..bahaya pollll

    • Charlina berkata:

      Hi Katrine!
      Yep, bener banget, seringnya sodara lebih tega-an loh dalam hal-hal finansial begini.
      Kartu kredit emang bukan solusi, dia cuman penolong sesaat.
      Makanya saya setuju banget kalo modal kepengen doang, jauh-jauh dari kartu kredit 😀
      Thanks ya sudah main ke wartadana 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *