5 MINDSET UNTUK BEBAS HUTANG

Yuk belajar 5 mindset untuk bebas hutang hari ini. Karena terlepas dari bantuan yang diberikan oleh si hutang dalam menyelesaikan masalah keuangan, kita mestilah paham kalo hutang adalah teman yang pamrih.


Saya setuju banget berhutang bukanlah hal yang sepenuhnya buruk. Ada kondisi dimana kita butuh uang, sangat kepepet dan hutang membantu kita untuk menyelesaikan masalah tersebut (sementara waktu).

Tapi, yang namanya hutang kan harus dibayar. Dan membayarnya sekarang atau nanti adalah tetap harus bayar.

Jadi, kenapa kita nggak upayakan untuk menyelesaikannya lebih cepat ?

5 MINDSET UNTUK BEBAS HUTANG

Ya, saya paham. Akan ada jawaban seperti ini :

– Sekarang masih pas-pasan banget

– Aduh, kalo bisa bayar sudah saya bayar lunas kali

– Come on man! Kita juga bukan tipe yang doyan ngutang, ini emang nggak kebayar makanya nggak bisa dilunasi, atau :

– Yang gua hutangin orang kaya, biarin aja dulu deh

Saya ngerti banget dengan alasan karena emang masih pas-pasan.

Tapi apakah kita pernah sadar kalo ‘uang kita’ akan selalu pas-pasan?

Pernahkah sejenak berpikir kalo kita nggak akan pernah sampai pada kondisi ‘uang gua sudah kebanyakan’?

 

Mengurangi kesenangan saat ini agar bebas hutang adalah dasar mindset bebas hutang

Sedihnya inilah gaya hidup yang kita jalani.

Tinggal di kota dengan begitu banyak opsi akan hiburan, dengan begitu banyak adopsi gaya hidup metropolitan yang sebenarnya nggak perlu sama sekali.

Tapi gimana?

Kalo saya nggak nonton Avengers : Infinity War seminggu setelah rilis artinya saya kuper.

Kalo saya nggak cobain kafe baru di jalan X artinya saya nggak kekinian.

Kalo saya nggak keluar sewaktu weekend artinya hidup saya membosankan.

 

Kalimat-kalimat begitu bikin kita akhirnya memilih untuk hidup kayak orang lain.

Begitu keluar film Hollywood terbaru, berbondong-bondong ke bioskop, beli tiket yang mahal (sewaktu weekend), beli snack yang sama mahalnya dan nge-post di laman sosial media kita.

Jenis-jenis pengeluaran yang merata di golongan millennials.

Pertanyaannya adalah mau sampai kapan?

Mau sampai kapan memilih jalan hidup begitu dan ngorbanin masa depan kita?

Karna dengan hiburan-hiburan seperti itu, pastinya uang kita nggak akan pernah cukup. Kalo uang kita nggak pernah cukup, hutang akhirnya dibayar dengan porsi minim saja – yang penting masih kebayar.

Trus mau sampai kapan begini saja?

Kali ini wartadana adalah share 5 mindset yang perlu kita tanamin di pikiran sendiri untuk bebas hutang – lebih cepat.

Karena hutang itu harus dibayar. Bayar hutang sekarang atau nanti adalah pilihan kita sendiri.

 

1.  Hutang adalah beban

Sedihnya lagi, banyak yang nggak sadar kalo hutang adalah beban. Bagi mereka, hutang adalah alat yang membantu hidup mereka.

Walopun bunganya besar, kalo bisa ditarik panjang dan cicilan menjadi lebih kecil, maka hutang menjadi alat bantu ‘yang baik’.

Lha, emangnya kalo kalo cuman bayar Rp 200 ribu per bulan selama 2 tahun, nggak jadi Rp 5 juta ya?

Bayangin saja, kalo bukan buat dibayarin ke hutang, uang itu akan nginap dengan tenang di rekening kita! Uang itu bisa kita simpan dalam bentuk emas (misalnya perhiasan), atau simpanan untuk dana darurat.

Tapi gua sudah pas-pasan, nggak bisa lagi bayar tambahan Rp 200 ribu supaya cicilannya jadi satu tahun saja.

Masa iya? Rp 200 ribu yang digunakan untuk beli pulsa, paket internet, jajan-jajan, beli baju-baju kan bisa dialihkan buat bayar hutang.

Konsekuensinya adalah selama setahun hiburan kita berkurang.

Sekarang kan masalah kita cuman satu yaitu kita takut nggak bisa senang-senang selagi muda. Jadi sambilan senang-senang sambilan bayar hutang adalah opsi yang kita pilih.

Padahal kalo kita lunasi hutang kita lebih cepat, kita bakalan senang-senang lebih maksimal. Karena kita nggak punya beban tambahan yang namanya hutang.

Dan yang paling penting adalah kalo satu waktu kita kepentok masalah dan butuh uang, kita nggak perlu khawatir ‘Aduh, gimana mau bayarin cicilan bulan ini?’

 

2.  Hutang dikenakan bunga

Apalagi kalo kita ngutangnya ke bank, yang akan ngasih bunga yang merontokkan gigi.

Kenapa? Karena kebanyakan kita pasti menggunakan kartu kredit atau KTA yang bunganya lebih tinggi dari pinjaman biasa.

Semakin kecil pinjaman di bank biasa akan semakin besar bunga yang dibebankan.

Dan kebayang nggak sih, setiap bulan bayarin hutang dan bayarin porsi bunganya? Kebayang saja kalo bunganya Rp 50 ribu, maka tanpa adanya hutang itu kita sudah bisa pake Rp 50 ribunya sebagai uang pulsa.

Tapi karena ngutang, maka Rp 50 ribu tersebut hangus sebagai bunga pinjaman.

Itu masih pinjaman dalam jumlah kecil. Coba kita hitung kalo minjam dan buatin cicilan ke kartu kredit dengan bunga normal mereka.

Bunga kartu kredit 2,25 % per bulan. Pinjaman Rp 5 juta selama 2 tahun.

Bunga pinjaman selama 2 tahun = 2,25 % x 24 bulan = 54 %
Bunga pinjaman dalam Rupiah = Rp 5.000.000 x 54 % = Rp 2.700.000
Bunga pinjaman setiap bulan = Rp 2.700.000 / 24 bulan = Rp 112.500

Padahal di kepala kita sudah kepikiran ringan juga ya cicilannya cuman Rp 320.833 doang.

Rp 5.000.000 + Rp 2.700.000 = Rp 7.700.000 / 24 bulan = Rp 320.833

BACA JUGA : A BIG NO INVESTASI REKSADANA DENGAN DANA KARTU KREDIT 

 

3.  Hutang membuat ruang gerak terbatas

Nggak kok. Hutang nggak membatasi ruang gerak saya.

Pernah nggak kepikiran kalo dengan memiliki hutang, kita nggak bisa eksplor banyak hal lainnya? Karena seperti di poin 1, hutang adalah beban, yang diikatkan di kaki kita.

Jadi setiap kali mau melangkah jauh, kita akan kecapekan karena bebannya terlampau berat.

Dengan kata lain, begitu kita menyelesaikan semua hutang-hutang, hidup ini menjadi milik kita seutuhnya.

Saya adalah orang yang sangat suka dengan kebebasan. Jadi apapun yang bikin saya nggak punya ikatan, nggak punya komitmen adalah hal yang sangat saya sukai. Apalagi kalo berkaitan dengan keuangan.

Saya lebih memilih punya komitmen untuk nambahin berapa uang ke rekening saya ketimbang harus berkomitmen bayarin berapa uang ke bank / orang yang saya hutangin.

Saya bisa marah sendiri kalo mikir sudah capek-capek kerja, tapi uangnya nggak bisa saya nikmati karena mesti bayarin pokok dan bunga pinjaman.

Kalo kita kepepet banget, mau nggak mau ngutang ya apa boleh buat. Cuman kita mesti mempercepat pelunasan hutang tersebut, dengan mengorbankan kesenangan-kesenangan saat ini.

Tapi, kalo kita ngutang hanya untuk belanja atau sesuatu yang bersifat konsumsi, maka lebih baik nggak usah ngutang dari awal.

Hutang itu momok.

 

4.  Hutang merampas masa depan

Ini adalah satu hal yang orang jarang pahami. Hutang itu merampas masa depan kita sendiri. Dengan berhutang kita merampok diri kita sendiri di masa depan.

MINDSET BEBAS HUTANG

https://id.pinterest.com/pin/42854633935122013/

Banyak orang percaya bahwa hutang adalah solusi jangka pendek. Hal ini tergantung pada tujuan kita berhutang.

Misalnya berhutang untuk bayarin biaya rumah sakit orangtua, maka itu adalah solusi. Tapi kalo kita berhutang untuk belanja online, apakah itu adalah solusi jangka pendek?

Nggak. Berhutang untuk kebutuhan konsumsi bukanlah solusi jangka pendek. Karena kalo untuk konsumsi dasar saja kita sudah berhutang, maka ada yang salah dengan cara kita mengelola keuangan.

At least kalo nggak punya tabungan, upayakan jumlah yang keluar sama dengan jumlah yang masuk. Jangan sampai jumlah yang keluar lebih besar dari jumlah yang masuk, dan memaksa kita untuk berhutang.

Ingat selalu bahwa hutang harus dibayar.

Gimana bisa kalo saat ini saja kita nggak mampu hidup tanpa hutang, maka di masa depan kita akan berhasil melunasinya?

No way. Nggak mungkin, karena hutang kita saat ini akan menjadi beban kita di masa depan. Dan siapa yang bilang kalo di masa depan nanti nggak akan ada kebutuhan tambahan yang lebih mendesak?

Belum ditambah dengan pikiran kalo di jaman yang serba susah ini, kita bisa setiap waktu kehilangan pekerjaan sebagai sumber penghasilan kita.

Mau cari uang kemana buat bayarin tagihan, kalo nggak punya kerjaan?

 

5.  Akan ‘terbiasa’ berhutang

Kalo bahasanya, ini adalah bahaya laten yang mesti kita hindari. Kenapa?

Bayangin saja setiap kali butuh sesuatu, kita melarikan diri pada bantuan hutang.

Kita ngutang nggak cuman ke keluarga, ngutang ke teman-teman, ngutang ke rekan kerja hingga ngutang ke bank. Satu hutang saja sudah bikin pusing, apalagi kalo hutangnya sebanyak itu.

Kebayang kalo kita biarin diri kita sendiri ‘terbiasa’ ngutang?

Saya kenal seseorang yang punya kebiasan ngutang. Dia ngutang kemana saja, ke keluarga, ke teman-temannya, ke warung di dekat rumah, ke teman kerjanya dan kepada siapa saja.

Coba tebak, kira-kira orang ini punya tabungan nggak dengan berhutang sebanyak itu?

Sedihnya adalah iya, dia masih punya tabungan.

Dia hidup dalam lingkaran hutang yang nggak pernah selesai. Padahal saya tahu dia punya uang dan dia mampu melunasi hutang-hutangnya.

Tapi dia memilih untuk mencicil hutangnya, untuk kadang memperlambat pembayaran hutangnya dan kadang negosiasi agar porsi hutangnya dihapuskan. Padahal dia punya uang untuk menyelesaikan hutang-hutangnya.

Kalo kamu jumpa orang seperti ini, sewaktu dia butuh bantuan, apakah kamu mau menolongnya?

Saya sendiri akan menggeleng. Karena ini adalah orang yang punya kebiasaan buruk. Dan saya nggak mau nyampur dengan orang begitu, Hidup saya saja sudah banyak drama, buat apa nambahin drama baru karna orang lain?

Kalo saya saja mikir demikian, kamu kebayang saat dia benar-benar butuh bantuan ada berapa orang sih yang mau bantuin dia?

Jawabannya bisa jadi adalah 0. Karena dia punya kebiasaan berhutang yang buruk. Dan saya nggak mau kita menjadi orang yang ‘terbiasa’ berhutang.

BACA JUGA : 6 CARA TEPAT MELUNASI HUTANG

 

Hidup itu emang susah.

Kenapa?

Bukan karena kita itu hanya pekerja yang gajinya terbatas, bukan pula karena gaji kita hanya sedikit di atas UMR. Bukan juga karena pengeluaran nggak ada habis-habisnya.

Tetapi karena dalam hidup itu nggak ada yang absolut. Artinya nggak ada yang benar-benar ‘salah’ ataupun benar-benar ‘betul’.

– Kalo saya nggak habisin uang buat hiburan, saya akan stres.

– Tapi kalo saya nggak bayar hutang saya dan mengesampingkan hiburan, maka esoknya saya yang stres.

Satu tindakan itu ada baik dan buruknya. Nggak pernah ada satu tindakan yang benar-benar baik atau benar-benar buruk. Makanya hidup itu susah.

Jadi kembali ke kita lagi. Membaca artikel, dengerin podcast atau nonton Tedtalk soal finansial nggak akan mengubah banyak dari hidup kita, sebelum kita sendiri yang memutuskan untuk mengubahnya.

Dan saran saya adalah mengubahnya sekarang lebih baik daripada menunggu hingga ‘saya sudah punya gaji yang lebih tinggi’.

Jangan menjanjikan sesuatu dari masa depan yang belum pasti.

Pekanbaru, 20 Mei 2018 11.14

PS : #girlsliftothergirlsup

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!


Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *