DETEKSI LATTE FACTOR KEUANGAN PRIBADI KAMU
1. Apa Itu Latte Factor Keuangan Pribadi ?
Latte factor adalah sebuah istilah yang dipopulerkan oleh David Bach penulis buku The Latte Factor, yang ngomongin tentang kebocoran keuangan nominal kecil yang terjadi terus menerus selama bertahun-tahun.
Sebuah pengeluaran yang nggak berarti dan nominalnya pun receh banget.
Tapi jangan salah loh. Kadang sesuatu yang kecil bisa jadi besar, saat terjadi terus menerus dalam waktu panjang.

Sebagai ilustrasinya adalah satu cup latte yang di Amerika sono harganya sekitaran 5 USD (asumsinya 50k IDR).
Dalam argumennya, sang penulis buku menyatakan bahwa aslinya untuk membuat latte di rumah, nggak butuh uang sampai 5 USD.

Sehingga tanpa sadar, orang yang terbiasa beli latte di luaran sudah membuat kebocoran keuangan kecil setiap harinya.
Padahal nih, kalo orang tersebut mau menghitung ulang, uang 5 USD dari latte tersebut bisa dialihkannya ke investasi untuk dapatin uang yang lebih besar.
2. Apa Hubungan Latte Factor Dengan Pengeluaran Lainnya?
Latte factor memberi contoh, bahwa sebuah pengeluaran kecil dalam jangka panjang bisa saja merupakan aset yang kamu buang.
Konsep dasar inilah yang mau kita gunakan dalam melihat pengeluaran pribadi masing-masing.
Jadi bukan fokus pada aktivitas membeli secangkir kopi.
Karna balik lagi nih, cara setiap orang untuk memenuhi keinginannya kan beda-beda.

Ada yang doyan minum kopi, sehingga mana mungkin menghilangkan budget kopi dari pengeluarannya?
Sementara ada yang nggak doyan kopi, sehingga konsep latte factor nggak nyambung dengan pengeluarannya.

Maksud utama David Bach (wartadana nangkapnya) adalah untuk ngomongin hal-hal kecil yang tanpa sadar kamu keluarin secara rutin.
Pengeluaran kayak gini biasa terjadi secara impulsif atau dengan niat baik.
Padahal yang terjadi malah nggak termanfaatkan.
3. Apa saja Kebocoran Keuangan ?
Apa saja contoh kebocoran keuangan yang terjadi tanpa kamu sadari?
Untuk ngomongin apa contoh kebocoran keuangan yang bisa terjadi, berikut adalah 3 kondisinya :
- pengeluaran impulsif, lebih karna hatimu yang pengen bukan karna kamu butuh / sudah mikirin baik-baik.
- kebiasaan dengan pembenaran bahwa hidup ini singkat, so enjoy while it last
- nominal receh yang menurut banyak orang nggak signifikan. Jadi biarin aja deh, toh semua orang juga bayar kok.

Dalam ngomongin latte factor, beberapa hal ini bisa jadi contoh :
a. Makan Di Luar
Argumen bahwa membeli makanan di luar lebih mahal dari memasak sendiri, adalah umum dan wajar.
Tapi dalam konteks, seseorang nggak doyan masak atau terlalu sibuk untuk melakukannya, kenapa mempermasalahkan hal ini?

Maksud wartadana adalah gini.
Walopun ada hal-hal yang secara umum dikatakan sebagai pemborosan. Kalo dalam hidupmu, hal tersebut ternyata membantu, ya biarin aja.
Kita kan nggak hidup dalam cetakan yang sama.
Sama halnya dengan makan di luar.

Pas era Gofood vs Grabfood vs Shopeefood vs Traveloka Eats begini, wartadana pikir jajan di luar dengan promo aplikasi jauh lebih menguntungkan daripada masak sendiri.
Sehingga ngomongin makan di luar yang termasuk latte factor, lumayan tricky.
b. Langganan
Contoh kebocoran keuangan yang kedua adalah langganan / subscribing.
Langganan yang paling mudah kamu lihat wujudnya adalah langganan koran.
Tapi siapa yang masih langganan koran fisik di tahun 2022 ini?

Orang-orang pada subscribe media digital dan berita online.
Nggak cuman berita sih, kamu bisa jadi langganan spotify, weTV (buat nonton mas Aris), Netflix, sampai Medium (kalo gila self improvement).
Dalam kondisi normal, nggak semua langganan ini akan termanfaatkan full. Sehingga penting untuk mulai mem-filter apa saja langganan kamu yang bermanfaat.

Jangan sampai semua layanan kamu subscribe dan jadi mubazir. Sayang uangnya.
Fun story, wartadana pernah denger cerita seseorang yang subscribe Spotify dengan program couple. Fast forward pas putus, si cowok tetap bayarin selama bertahun-tahun tanpa protes.
Menurutmu ini masuk latte factor nggak sih?
c. Biaya Bank
Biaya Bank adalah contoh latte factor yang paling umum.
Karna sifatnya kan sudah biaya wajib dari Bank, sehingga mau nggak mau harus dibayarkan. Begini pembenarannya.
Apalagi buat nasabah Bank yang belum pernah menggunakan layanan tabungan digital, pastinya asing banget dengan gratis biaya administrasi atau biaya transfer maupun biaya top up e-wallet.
Padahal nih, ini kan 2022.

Era tabungan digital baru aja mulai. Sehingga masih panjang waktu yang kita miliki untuk menikmati fasilitas gratisan tabungan digital.
Dan nggak ada alasan untuk membayar biaya Bank, saat kamu bisa manfaatin yang gratisan di luaran sana.
Jadi kalo kamu masih bayar biaya Bank, coba deh switch ke tabungan digital yang meng-gratiskannya.
Emang dalam tempo singkat, uangnya nggak berasa.
Tapi balik lagi, konsep latte factor adalah untuk menghemat dalam jangka waktu panjang, bukan?
d. Kursus Online
Di era kursus online begini, semua orang pengen belajar hal baru untuk dijadikan side hustle atau sekedar skill baru.
Platform yang jualan kursus online pun bervariasi dengan harga yang bervariasi.
Mungkin saat membeli kursus, ybs merasa bahwa waktunya akan tersedia serta kursus yang dipilihnya akan bermanfaat.
Tapi, most of the time, yang ada malah jadi hoarder kursus alias penimbun kursus.

Karna ternyata menemukan waktu untuk belajar atau motivasi untuk mulai belajar, nggak semudah niat saat belanja kursus tersebut.
Apalagi dalam proses checkout, ada perasaan senang yang memberi kepuasan tersendiri.
Makanya selalu saja ada lebih banyak barang yang kamu beli daripada barang yang benar-benar kamu perlukan / gunakan.

Segini ngomongin latte factor. Wartadana hanya ngasih contoh apa sih latte factor dan gimana cara mendeteksinya.
Kalo mau poin secara a-b-c, bahwa a adalah latte factor sementara b adalah bukan, rasanya terlalu judgmental.
Karna balik lagi, keperluan dan karakter kamu pastinya unik.
Sehingga artikel ini hanya ngasih tau, bahwa ada kemungkinan beberapa pengeluaran kamu masuk dalam latte factor.
Tapi untuk mendeteksinya dalam pengeluaranmu adalah pe-er kamu selanjutnya.