FENOMENA INFLUENCER FINANSIAL INDONESIA

ALERT! Artikel FENOMENA INFLUENCER FINANSIAL DI INDONESIA may sounds offensive

Wartadana akan share jujur pendapat tentang maraknya influencer finansial Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Bukan berarti influenser finansial adalah plak yang mengganggu. Nggak sama sekali.

Justru wartadana percaya akan pentingnya keberadaan influenser finansial dalam ekosistem perekonomian Indonesia.

Dan nggak cuman fin-fluencer doang, wartadana percaya bahwa influencer manapun membawa pengaruh baik (tergantung gimana kita menyikapinya).

Tapi sekedar ngingatin, atau ngasih insight baru, wartadana punya segudang unek-unek yang akan kita bahas panjang lebar kali ini.

Yuk!

1. Era Influencer Finansial

Ngomongin 2020 hingga 2021 identik dengan membicarakan fenomena influencer finansial yang bertebaran di akun sosial media masing-masing.

Untuk menyamakan pendapat :

Influencer finansial adalah figur dengan jumlah pengikut masif di sosial media yang punya karisma untuk mempengaruhi pengikutnya terutama dalam bidang finansial.

Jadi influencer financial atau akan kita singkat fin-fluencer, mayoritas berbagi tentang literasi keuangan dalam feed media sosialnya.

Kamu bisa temukan banyak influencer finansial untuk di-follow, termasuk salah satunya yang sempat ngetrend, yaitu Jouska.

Masih ingat dengan istilah finansial yang dibongkar Jouska di feed media sosialnya, yang bikin semua orang aware akan sandwich generation?

Kalo berjalan dengan benar, influenser finansial bisa jadi sumber literasi finansial untuk membuka kesadaran masyarakat luas.

Agar orang yang tadinya nggak ngerti, setidaknya tahu. It’s a good thing!

Tapi di satu sisi karna literasi keuangan di Indonesia levelnya rendah, orang dengan mudah ngomongin sandwich generation tanpa nyari solusi.

Seakan ada perasaan komunal, bahwa siapapun yang sedang berada di fase sandwich generation berada di grup yang sama dengan banyak orang lainnya.

So what, gua emang sandwich generation, so what?

Akhirnya hal-hal finansial jadi seperti pop culture yang ngetrend di satu waktu, tapi nggak bermanfaat dalam jangka panjang.

Padahal kan bukan itu yang kita mau, karna mengelola keuangan adalah pekerjaan seumur hidup.

Sehingga kalo nggak mencoba membuatnya menjadi ringan dan menyenangkan, yakin sanggup mengatur keuangan untuk bertahun-tahun ke depan?

2. Apa Sih Yang bikin Fenomen Fin-Fluencer?

Instagram menjadi wadah tempat berkumpulnya influencer-influencer finansial. Tinggal scroll saja. + Tiktok juga.

Kamu akan selalu menemukan iklan mereka, atau tag dari story temanmu (yang ngerasa so smart untuk nge-story-in post si influencer, atau story sodaramu yang cuannya luber tumpah.

Fenomena kayak gini nggak bisa kita hilangin, karna secara psikologis ada yang namanya herding behavior.

Herding behavior adalah perilaku kawanan, alias perasaan kebersamaan atau ada di momen yang sama, tapi sekaligus nggak terarah.

Jadi mengambil action berdasarkan kondisi tanpa arah, emosi yang up-down dan kadang saran dari orang yang salah.

Influenser yang selalu nge-repost story, bikin orang berlomba-lomba untuk share agar mereka di-repost. Dan begitu seterusnya.

Padahal semua orang punya motifnya sendiri. Si fin-fluencer mau exposure-nya nambah, sementara si follower mau perasaan like they belong in the same circle sekaligus pamerr!

Nggak ada habisnya.

Jadi apa sih yang bikin hal kayak gini langgeng banget ?

a. Suka Yang Shiny + Instan

Semua orang suka yang shiny apalagi soal uang.

Bayangin kamu ngeliatin feed orang dengan post uang 1.000 ratusan lembar vs post dengan uang 100.000 ratusan lembar.

Tentunya lebih menarik postingan warna merah dengan nominal jumbo.

Dan coba bayangin saat nominalnya gendut dengan embel-embel cepat!

Trading cepat kaya! Cuan miliaran sehari!

Mayoritas orang doyan yang instan dan shiny. Dua hal yang pintar banget dikemas oleh influencer, karna emang they are good at marketing.

Sehingga finfluencer tumbuh subur terutama momen orang pada WFH dan punya waktu luang lebih banyak dibanding saat normal.

b. Media Monoton

Bicarain fenomena influencer tentunya nggak bisa lepas dari peranan media besar, yang melanggengkan keberadaan influencer financial.

Dalam proses riset artikel, wartadana menemukan bahwa media pun memberikan apa yang diinginkan oleh masyarakat.

Jadi dibanding bicara efek negatif / positif dan tips memilih influencer finansial, media Indonesia nyodorin hal-hal kayak gini :

Media terlalu monoton, alias nggak nulisin kontra yang harusnya menarik – kalo berani mereka lakukan.

Sebaliknya, channel gosip justru lebih berani, di saat nggak seharusnya ngulik terlalu jauh tentang hidup personal siapapun itu.

c. Rendahnya Literasi Finansial

Rendahnya literasi finansial bukan masalah dekade ini saja.

Sudah dari jaman penjajahan, sebaran informasi di Indonesia sangatlah berjurang alias nggak merata.

Beberapa orang yang berada di lingkungan tertentu punya akses informasi lebih banyak, dibanding orang pada umumnya,

Let’s say ini emang seleksi alam. The best hang out only with the best.

Tapi pertanyaannya adalah yang masih di layer bawah, kok mau nerima begitu saja tanpa mencoba mengejar ketertinggalan informasi tersebut?

Jadi dibanding nelan mentah-mentah ajakan beli atau jual, pake atau promo, kenapa nggak lakukan riset yang membuat diri sendiri pede untuk bikin keputusan mandiri?

https://money.kompas.com/read/2021/09/27/122354626/ojk-banyak-anak-muda-alami-rugi-saat-investasi-karena-teperdaya-janji-manis

Ujung-ujungnya balik lagi, literasi finansial yang rendah akan selalu jadi masalah karna media akan selalu nyodorin hal-hal mudah, trus post-post shiny akan selalu berkeliaran liar dan ada oknum yang mengamini hal tersebut. Mutar gini terus.

Karna mudah loh make money from the illiterate.

d. Regulasi Keuangan Lagging

Berkali-kali wartadana selalu menyebutkan betapa lagging alias terlambatnya regulator dalam mengawasi industri keuangan di Indonesia.

Sehingga regulator baru bergerak saat terjadi masalah super heboh.

Contoh : per medio Desember 2021, sedang heboh investasi bodong suntik modal. Baca-baca grup tele, kerugian mencapai 2,1 triliun.

Tapi, apa yang dilakukan oleh regulator? Belum ada tuh!

Dalam riset ini, wartadana juga menemukan bahwa UU perlindungan nasabah sektor jasa keuangan super outdated, tahun 2013. Come on!

Dari 2013 ke 2021, kita menyaksikan perubahan media dari blog – twitteran – instagram – youtube – tiktok.

Dan sampai hari ini, regulator belum mampu mengejar ketertinggalan tersebut.

Jadi yakin, mau nungguin regulator buat jagain kita, dibanding belajar extra demi menjaga diri sendiri?

3. Pro and Con’s Influenser Finansial Indonesia

Wartadana percaya bahwa influencer finansial bikin hidup berwarna, kamu dapatin insight terbaru dan selalu ketemu promo yang menarik.

Tapi di saat yang sama juga punya sisi negatifnya.

Pro’sCon’s
Ngasih pengetahuan dan wawasan terbaruKena tebar fear / optimisme sesuai agenda si influenser
Dapatin mentorNggak belajar mandiri
Informasi promosiJadi objek jualan
Punya kawan segrupTernyata hanyalah kawanan domba

Di atas wartadana tuliskan pro’s dan con’s adanya influenser finansial versi wartadana.

Gimana pendapatmu? Ada tambahan lainnya? Yuk komen di bawah!

4. Kriteria Financial Influencer Layak Follow

Nggak bisa menyalahkan influencer, karna dari awal, kitalah yang ngasih mereka panggung.

Balik lagi, beda halnya dengan artis di tv yang harus casting dan punya kualifikasinya tersendiri, influencer ini hampir datang dari antah berantah.

Beberapa bahkan nggak pake nama aslinya dan masih saja punya follower masif.

Nggak pernah ada yang verifikasi mereka, nggak ada yang nanyain trusted nggak mereka.

Karna influencer punya circle-nya juga. Keliatan kok dari tag-tag-an atau event live mereka yang orangnya itu-itu juga.

Jadi siapapun yang kamu follow, akan punya segudang teman sosial media yang akan membeli bahkan saat mereka melakukan hal yang nggak tepat.

Kenapa wartadana menuliskan hal ini?

Karna 2022 bakalan jadi panggung besar bagi banyak influencer ini untuk keluar dari dunia maya. Mereka akan bikin event nyata, seiring dengan melonggarnya PPKM.

Jadi sebelum kamu benar-benar buta dan ngikutin apapun yang mereka buat, membeli apapun yang mereka jual dan merekomendasikan apapun yang mereka bilang super good, ada baiknya kamu tanyain ke dirimu sendiri.

  • untuk apa kamu beli apa yang mereka jual?
  • kenapa kamu ikutin apa yang mereka lakuin?
  • untuk apa kamu rekomendasikan mereka di sosial mediamu?

Karna, balik lagi nih. Dengan memberi mereka panggung di sosial mediamu, kamu memberikan mereka power yang belum tentu akan mereka pergunakan dengan bijak.

Not that i say, wartadana bakalan bijak saat punya power sebesar itu.

Tapi at least, kamu harus bisa memilah dan memilih influencer yang baik untuk kamu follow & rekomendasikan.

Berikut beberapa kriteria influencer finansial layak follow, versi wartadana :

a. Nggak Bluff & Fluff

Kriteria influencer finansial yang layak follow adalah orang yang apa adanya.

Boleh kok nyombong, dan wajar banget kalo beberapa influencer finansial yang kamu kenal adalah orang yang terkesan sombong.

Mereka jago loh, pintar di bidang yang mereka pilih dan pandai memarketingkan jasanya.

They deserve to brag about themselves.

Tapi, pastiinlah benaran. Jangan dengerin hal-hal yang terlalu besar dan shiny tanpa ngecek kebenarannya.

Ingat orang yang banyak omong? Bacot? Tukang tipu?

Orang-orang kayak gini masih ada, berkeliaran di media sosial mengintai mangsa selanjutnya.

Sehingga saat kamu nggak bisa bedain bluffing mereka dari kebenaran, bisa jadi kamulah santapan berikutnya.

b. Walk the Talk

Ada orang yang walk the talk, artinya emang ngelakuin apa yang dia omongin.

Dan ada juga yang talk the talk, artinya ngomong aja tanpa action.

Awalnya akan sulit membedakan mana yang walk the talk vs yang talk the talk, sehingga mungkin kamu harus follow lebih lama untuk menemukannya.

Tapi, percaya deh, orang yang talk the talk akan ngasih clue yang jelas dan mudah ditemukan. Karna mereka nggak pernah action.

Omongan mereka muncul dari pengalaman orang, kisah temannya atau kumpulan cerita yang mereka koleksi. Sehingga saat ketemu sesuatu yang autentik, mereka akan terlihat diam sejenak.

Bukan karna mereka nyobain atau ngetes, melainkan karna mereka ngumpulin wawasan untuk jadi bahan omongannya.

Sehingga di waktu yang tepat, kamu akan bisa membedakannya.

Contoh yang unrelated : skinny girls yang endorse produk diet. Orang yang nggak ngerti, bakalan berlomba-lomba belanja demi dapatin efek kurusnya.

Tapi kamu yang sudah ngerti, tentu cuman bisa ketawa dan ngeledek di balik layar ponselmu. Genetis! Ha ha!

c. Nggak Mudah Dibeli Uang

Setiap kali seorang influencer merekomendasikan sesuatu, kamu harus tahu bahwa mereka akan mendapatkan benefit, baik langsung atau nggak.

Hal ini juga bukan masalah, selama masih sesuai dengan kebutuhanmu.

Yang jadi masalah adalah saat kamu jadi objek jualan mereka, ibaratnya jadi pipeline marketing mereka. Artinya setiap ada jualan, mereka akan tawarin ke kamu.

Makanya penting untuk mastiin influenser yang kamu pilih, nggak mudah dibeli uang.

Jangan sampai setiap ada tawaran, bahkan yang nggak nyambung dengan tujuan kamu follow mereka di awal, malah mereka ambil.

Contoh : influenser saham jualan investasi lain. Atau jadi brand ambasador broker trading. Come on!

Siapapun yang ngeklaim “bisa trading dengan baik” seharusnya punya cukup uang, untuk bertahan dari tawaran berbau uang, yang nggak sejalan dengan brand mereka.

Kalo mereka masih juga tertarik sama uang tersebut, kamu harus hati-hati. Siapa yang tahu besok-besok, apa yang akan mereka tawarin ke kamu.

d. Cek Kredensialnya

Mengecek kredensial adalah cara untuk menilai apakah influencer finansial ini layak follow atau nggak.

Coba cek :

  • kegiatannya sehari-hari apakah related dengan hal-hal finansial,
  • ybs emang hobi soal uang kah?
  • screenshot yang membuktikan omongan si influenser (walopun beberapa orang bisa memainkannya)
  • jejak media sosial lainnya.

Ingat selalu bahwa influenser finansial juga orang biasa, yang kebetulan dapat panggung.

Kadang mereka bisa bluff atau ngomongin istilah kece yang sangat wow saat kamu dengar, tapi yah nggak mengubah hidupmu sama sekali.

Di saat yang sama akan selalu ada ribuan orang yang mau ngepost story mereka, agar kece dan relatable dan jadi yang paling update.

Jadi ngecek kredensial mastiin kamu dapatin wawasan dari orang yang tepat, bukan dari orang yang berani tampil doang.

Ps : wartadana suka nonton keributan yang sering muncul saat beberapa influencer saling nyindir. Lucu aja orang yang sama-sama jualan, tapi menghina gaya jualan teman seprofesinya.

e. Influencer Yang Butuh Kerja

Ada beberapa influenser yang datang dari keluarga super berada.

Ibaratnya nggak butuh kerja sama sekali. Mereka sudah punya sumber penghasilan lain yang secure dan mencoba menambahnya dengan menjadi influenser finansial.

Influenser kayak gini lebih baik nggak usah di-follow.

Karna sakitnya kita saat membuat kesalahan finansial bisa berakibat super fatal, sementara saat dia salah, paling cuman kehilangan uang arisan doang.

Jadi pastiin influenser yang kamu follow emang pribadi yang butuh kerja dan menghargai bahwa kamu adalah kliennya, bukan orang random yang minta saran gratisan.

It’s better kalo kamu punya hubungan timbal balik ke dia, seperti membeli layanannya / beli subscription-nya agar kamu bisa memanfaatkan posisimu sebagai klien untuk ask them to be accountable.

5. Pilihan Kamu, Tanggung Jawab Kamu

Di akhir artikel, wartadana nekanin bahwa uangmu = pilihan kamu = tanggung jawab kamu.

Jadi, konsekuensi dari apapun yang kamu lakuin dengan uangmu, harus kamu sendiri yang jalani.

Kalo cuan, kamu yang nikmati keuntungan tersebut.

Saat rugi, kamu pula yang harus menanggung kerugiannya.

Ingat selalu bahwa hidupmu milik kamu, jadi kamu boleh memiliki opini personal, walopun bertolak belakang dengan satu dunia.

Jadi, silahkan follow siapapun yang kamu mau! Tapi, selalu lakukan riset sebelum ngikut mentah-mentah.

Karna balik lagi, seperti wartadana sudah ocehin di atas, mayoritas fin-fluencer ini nggak punya kredibilitas jangka panjang. Note kata mayoritas di atas.

Bukan berarti nggak ada yang trusted proven selama belasan hingga puluhan tahun.

Tetapi banyakan juga baru mulai, kemudian belajar untuk mem-marketing-kan brand-nya, menangkap perhatian audiens dan monetize tanpa pengalaman panjang.

Kalo kamu tetap mau follow, silahkan!

Tapi, mau ngikutin saran orang yang baru terjun, atau baru berhasil beberapa kali entah mengelola keuangan atau trading, maka hidupmu pilihanmu.

Btw wartadana bukan influencer finansial dan nggak niat jadi influenser sama sekali. Selain itu wartadana not a fan of social media world, sehingga nggak terlalu ngikutin perkembangan dunia influencer keuangan di luaran sana.

Tapi wartadana percaya bahwa untuk dapatin ilmu, nggak cukup hanya dengan follow seseorang dan membaca feed / story wawasan mereka.

Karna wawasan kan sifatnya harus dipelajari dan disimpulkan sendiri, jadi nggak ada proses pembelajaran yang instan.

Just saying loh ya!

Link Wartadana

Punya pendapat lain tentang influencer finansial Indonesia? Komen dong!

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *