Mana Lebih Baik Deposito vs Reksadana Pasar Uang?

Lebih baik mana sih antara deposito vs reksadana pasar uang?

Bagi yang sedang galau menimbang mau deposito aja atau mau beli RDPU, baca sampai habis ya. 

Artikel kali ini akan kasih beberapa poin penting yang bikin kamu pede ambil keputusan. 

Jadi, ayok!

 

1. Deposito

Deposito adalah produk tabungan Bank dengan bunga lebih tinggi namun terikat syarat dan kondisi.

Syarat deposito biasanya adalah :

  1. Nominal minimal Rp 10 juta, sehingga jika tabungan kita masih di bawah 10 juta nggak banyak Bank yang mau menerima pembukaan deposito tersebut.
  2. Tenor / jangka waktu deposito minimal 1 bulan, tapi bisa sampai 1 atau 2 tahun.
  3. Deposito nggak bisa ditarik kapan saja. Apabila mau penarikan, nasabah bakal kena biaya penalty / bunga nggak dibayarkan / pencairan ditolak.

Cari tahu lebih banyak soal deposito di :

 

2. Reksadana Pasar Uang

Reksadana pasar uang adalah produk dari Manajer Investasi yang belanja produk deposito atau surat hutang lainnya.

RPDU – singkatan reksadana pasar uang dibentuk oleh perusahaan keuangan non-bank (Manajer Investasi)  atau biasa disebut perusahaan Asset Management.

Membeli RDPU bisa kamu lakukan di Agen Penjual Reksadana (APERD) atau Bank yang punya ijin untuk jualan reksadana.

Cari tahu soal reksadana di :

 

3. Perbedaan Deposito vs Reksadana Pasar Uang

Sekarang saatnya kita bahas beda deposito vs reksadana pasar uang secara detil.

a. Penjaminan

  • Deposito dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dengan catatan jumlahnya di bawah 2 milyar. Sehingga jika terjadi sesuatu dengan Bank tempat kamu membuka deposito, maka LPS akan membayarkan deposito tersebut ke kamu.
  • Reksadana pasar uang nggak dijamin oleh siapapun. Sehingga kalo terjadi sesuatu pada Asset Management tempat kamu beli RDPU, maka besar kemungkinan uangmu nggak akan kembali lagi.

 

b. Suku Bunga / Return

Dengan buka deposito, kamu akan dapatin bunga deposito yang dihitung secara tahunan.

Jadi kalo kamu baca bunga deposito 3 % p.a artinya 3 % per annum / per tahun. (bukan per bulan ya).

Sementara dengan beli reksadana pasar uang, kamu akan dapatin return berupa kenaikan harga unitnya.

Kalo dibandingkan, harusnya bunga deposito yang kamu dapatin akan lebih rendah dari return reksadana pasar uang.

Tapi ada juga, reksadana pasar uang yang return-nya lebih kecil dari deposito.

Sehingga kalo kamu mau beli reksadana, aturan pentingnya adalah return lebih besar dari bunga deposito. Kalo lebih kecil, mending deposito aja – karna nggak ada risiko.

 

c. Pajak Bunga / Return

Bunga deposito akan kena pajak sebesar 20 %. Sehingga bunga deposito yang kamu terima adalah bunga net yang sudah dipotong pajak 20 %.

Return reksadana pasar uang / kenaikan harganya nggak kena pajak.

Hal ini karna reksadana ini adalah instrumen investasi sekunder, yang mana saat Manajer Investasinya belanja instrumen primer / dasarnya (seperti beli saham / beli deposito) mereka sudah kena pajak.

Jadi, kamu sebagai nasabah yang megang reksadana nggak akan dikenakan pajak.

 

d. Tenor / Jangka Waktu

Tenor alias jangka waktu membuka deposito minimal adalah 1 bulan. Dan bisa maksimal hingga 1 tahun / 2 tahun.

Misalnya deposito sudah jatuh tempo, kamu pun bisa memilih mau memperpanjang deposito tersebut atau mencairkannya ke rekeningmu.

Sementara jangka waktu investasi reksadana pasar uang lebih fleksibel.

Kamu bisa membeli RDPU hari ini dan menjualnya minggu depan.

Atau kamu bisa membeli RDPU hari ini dan menjualnya setahun kemudian.

 

e. Untung / Cuan

Tadinya kan sudah ngomongin bunga dan tenor, sehingga kita ngomongin cuan yang akan kamu terima.

Bunga deposito akan kamu terima setelah tenor deposito berakhir dan dipotong pajak 20 %.

Jadi misalnya kamu buka deposito selama 3 bulan, maka bungamu akan dibayarkan setelah 3 bulan tersebut saat kamu mencairkan deposito.

Sementara return RDPU yang berupa kenaikan harga unit hanya bisa kamu terima setelah kamu menjual unit reksadanamu.

Jadi kamu harus menjual reksadana tersebut untuk menerima cuannya.

 

f. Biaya Investasi

Dalam buka deposito kamu hanya kena biaya materai.

Hal ini karna transaksinya sudah masuk dalam nilai yang wajib kena biaya materai.

Sementara dengan beli reksadana pasar uang kamu akan kena beberapa biaya berikut :

  • Fee beli dan jual reksadana. Untuk mengakalinya belanja di agen penjual reksadana online yang gratisin biaya beli / biaya jual reksadana.
  • Biaya transfer pembelian unit. Untuk mengakalinya agar nggak perlu kena biaya transfer, jangan lupa buka rekening yang gratis biaya transfer.
  • Biaya transfer pencairan unit. Jika rekeningmu beda Bank dengan rekening Bank Kustodian reksadana, maka untuk transfer dana akan kena biaya transfer (nggak bisa diakali).

 

g. Cara Mencairkan

Untuk deposito karna kamu sudah keikat dengan tenornya, maka pencairan hanya bisa dilakukan saat jatuh tempo.

Artinya sebelum tenor selesai, kamu nggak bisa mencairkan deposito tersebut.

Tapi saat mencairkan deposito, uangmu langsung masuk ke rekeningmu saat itu juga.

Sementara untuk reksadana pasar uang, kamu bebas mencairkannya kapan saja dengan cara menjual unit reksadanamu.

Namun dana hasil pencairan RDPU nggak bisa masuk di hari yang sama.

Melainkan ngikutin proses pencairan oleh Manajer Investasi dan Bank Kustodian, yang biasanya makan waktu 2-3 hari.

 

h. Tempat Berinvestasi

Untuk buka deposito, kamu cukup punya rekening tabungan di Bank.

Sementara untuk beli reksadana kamu perlu buka akun di Perusahaan Agen Penjual Reksadana.

Tapi dalam prakteknya saat kamu beli RDPU, kamu terlibat dengan 2 perusahaan lainnya selain agen penjual, yaitu :

  • Manajer Investasi / perusahaan Asset Management yang mengelola investasimu,
  • Bank Kustodian, yang mengelola uang investasi tersebut.

 

4. 10 Juta Pertama Masuk Mana?

Let’s say, saat ini kamu sudah punya 10 juta pertama-mu. Yeay!!!

Dan kamu kepengen agar 10 juta pertamamu ini menjadi sangat berarti dan bisa berkembang dengan maksimal.

Maka akan kamu tempatkan di mana, uang 10 juta itu? Deposito atau reksadana pasar uang?

Untuk bisa ngambil keputusan, jawab 2 pertanyaan di bawah.

 

a. Siap Hilang?

Ingat bahwa deposito itu dijamin oleh LPS, sementara reksadana nggak dijamin oleh siapapun.

Let’s say Bank tempat kamu buka deposito itu collaps, maka kamu tinggal tunggu pencairan deposito oleh LPS.

Sementara let’s say Asset Management tempat kamu beli reksadana itu collaps, maka besar kemungkinan mereka akan likuidasi dahulu dan selamatkan diri mereka sendiri.

Nggak ada jaring pengaman (safety net) saat kamu belanja reksadana, beda halnya dengan deposito.

Sehingga siapkah kamu kalo terjadi sesuatu? Jika nggak siap, buka saja deposito online.

 

Ohya, saya mau ngomongin satu hal yang jarang orang bicarakan, yaitu preparing for the worst.

Saya pernah ikutin kursus online tentang preparing for crisis. Nggak cuman krisis finansial, tapi apapun masalah / krisis yang mungkin terjadi dalam hidup kita.

Pembicaranya ngomongin hal yang menarik, bahwa krisis nggak akan terjadi sepanjang waktu. It won’t.

Tapi penting untuk bersiap seakan krisis akan datang hari ini juga. Dan sama pentingnya untuk membayangkan hal terburuk yang akan terjadi saat krisis itu tiba.

Supaya kita punya gambaran apa yang akan kita lakukan dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuknya.

Hal kayak gini yang bikin saya percaya bahwa mempersiapkan diri untuk hal terburuk bukan hal yang buruk.

Karna balik lagi, kamu dan saya lagi ngomongin uang.

Dan uang ini adalah hasil kerja keras yang ditabung dalam periode yang nggak sebentar.

Sehingga siapkah kamu kalo terjadi hal terburuk dan uang itu hilang?

 

b. Siap Ribet?

Jika kamu merasa siap kehilangan uang tersebut, maka siapkah kamu untuk sedikit ribet di awal?

Dengan buka deposito, kamu cukup buka aplikasi Banking-mu dan daftar deposito online. Done.

Tapi dengan beli reksadana pasar uang, kamu harus buka akun di Agen Penjual Reksadana seperti Bibit atau Agen Penjual Reksadana Online lainnya.

Saya nggak saranin belanja reksadana lewat Bank karna biasanya lebih ribet dan kena fee.

Balik lagi. Siap ribet nggak?

Kalo kamu siap ribet, maka Reksadana Pasar Uang adalah pilihan yang tepat.

***

Demikian perbedaan deposito vs reksadana pasar uang.

Semoga kamu udah punya cukup informasi untuk pede mutusin mau masuk ke yang mana satu.

Thanks sudah berkunjung ke wartadana.

REFERENSI PERENCANAAN KEUANGAN PRIBADI MILENIAL

Baca Juga :

Link Wartadana :

Punya pendapat lain tentang deposito vs reksadana pasar uang? Komen di bawah ya!

Summary
Article Name
DEPOSITO vs REKSADANA PASAR UANG - Mana Lebih Baik?
Description
Bingung antara deposito vs reksadana pasar uang untuk 10 juta pertamamu? Klik untuk cari tahu 8 perbedaan deposito vs RDPU.
Author
Publisher Name
www.wartadana.com
-

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *