WHEN LIFE IS ABOUT TO CRUSH YOU DOWN

When life is about to crush you down.


Saat hidup meminta terlalu banyak hal dari kita, termasuk meminta untuk tetap bertahan saat dia mengayunkan pukulan demi pukulan.

Kapan terakhir kali kita bercermin dan menemukan adanya kerutan baru di wajah?

Atau adanya uban baru di kepala?

Satu tahun terakhir, dengan beban pekerjaan, dengan beban akan target dan segala macam drama kantor, saya sendiri menemukan lebih banyak kerutan di wajah.

Nggak berhenti di sana, saya temukan juga uban-uban baru di kepala.

Penemuan yang membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa :

Corporate career adalah pembunuh nomor satu dalam masa muda perempuan.”.

WHEN LIFE IS ABOUT TO CRUSH YOU DOWN

sumber : www.cheezburger.com

Mestinya sewaktu hidup meminta lebih kepada kita, di saat yang sama dia juga mempersiapkan sesuatu yang lebih bagi kita.

Tapi, sering timbul perasaan ingin menghilang dan menemukan jalan hidup yang lain.

Melarikan diri dari hidup ini sebentar saja. Dan menemukan identitas sejati kita.

BACA JUGA : KONSEP SMART GOAL

 

Karena kita ini manusia biasa, kita doyan yang bebas stres dan bebas drama.

WHEN LIFE IS ABOUT TO CRUSH YOU DOWN

sumber : hercampus.com

Tapi muncul realita lain yang menampar kita dengan keras.

‘Kalo kamu nggak mampu menghasilkan penghasilan rutin, kepada siapa beban finansial-mu bisa kamu alihkan?’.

Realita inilah yang membuat kita tetap bertahan, walopun hati sudah tercabik-cabik oleh corporate career.

Nah, di kesempatan kali ini saya akan share 4 kondisi nggak diinginkan yang sering terjadi secara langsung dalam proses kerja.

Ke-4 hal ini sering kali membuat capek, kepengen mundur, sebel, hilang semangat dan kepengen mengubur diri dalam-dalam.

Tapi karena nggak mungkin mundur, maka mesti kita hadapi.

 

1. Dikritik

Katanya orang yang memberikan kritik bertujuan agar kita berubah menjadi lebih baik. Masa iya sih?

Karena seringkali orang yang mengkritik adalah orang yang nggak ada hubungan langsung dengan kita.

Membuat kita bertanya-tanya :

Kenapa lu ngritik gua dengan tujuan agar gua menjadi lebih baik?

Kita bahkan nggak bersentuhan secara langsung dalam hidup?

Elu bahkan nggak dapat keuntungan apa-apa dari gua.

 

Maka sebagai bagian dari mekanisma bertahan hidup, kita akan memandang kritik sebagai pedang tajam yang dihujamkan tepat di jantung, sakit dan membunuh.

Saya pikir kritik kamu bukan dengan tujuan agar saya menjadi lebih baik.

Saya hanya ngerasa bahwa kamu meng-kritik untuk bicara, untuk nunjukin bahwa kamu lebih baik dari saya. 

 

Mekanisme seperti ini bertahan lama di dalam kepala. Bercokol di dalam hati.

Dan saat penutupan hari, saat berjalan pulang keluar dari kantor, kita akan marah.

Kita kepengen teriak kepada orang yang berani-beraninya mengkritik.

Kamu nggak lebih baik dari saya. Kamu nggak kenal saya.

Kalo kamu ditempatkan di kaki saya juga belum tentu kamu bisa lakukan lebih baik dari saya.

 

Seiring dengan berjalannya waktu, kita mencoba mengabaikan kritik tersebut dan melanjutkan hidup.

Tapi sakit hati akan selalu bercokol. Membuat kita masih mencari-cari pembenaran untuk setiap tindakan.

Katanya saja sudah move on tapi masih kepikiran juga. Pernah ngerasa seperti ini ?

Saya juga pernah, malah sering banget merasa begini kalo dapet kritikan.

Maka di sini digaris bawahi 2 opsi yang tersedia sewaktu menghadapi kritik :

 

a. Kita menerima kritik tersebut

Bersihkan kepala dari segala prasangka, termasuk saat kita menilai bahwa orang yang melakukan kritik itu nggak layak memberikannya.

Maksudnya adalah dengan ‘ego’ di dalam diri, ada segelintir orang yang nggak kita lihat opininya.

Seperti bawahan atau rekan kerja yang nggak satu tim dan yang kita nggak butuh persetujuan mereka untuk apapun.

Nah, terlepas dari dongkol dan muaknya, kalo emang kritiknya membangun dan benar, kita mesti mengubah cara pikir kita.

Yep, susah banget.

Dengan menerima kritik kita seakan membenarkan orang lain yang nggak perlu didengar opininya.

WHEN LIFE IS ABOUT TO CRUSH YOU DOWN

sumber : www.makeameme.org

Tapi di satu sisi, kita juga mesti punya kelapangan hati untuk jujur sama keadaan.

Kalo emang kritiknya membangun, walopun disampaikan dalam format yang menyakitkan, ya coba kita pikir ulang.

Karena semua orang cenderung egois.

Orang yang berani mengkritik pasti sangat egois, sampai nggak peduli kalimatnya menyakiti asalkan dia bicara.

Jadi kenapa nggak manfaatkan keegoisan dia, cara dia melihat ada yang kurang dalam diri kita, untuk dijadikan fokus berubah?

Kita nggak perlu bayar tim assessor human capital yang mahal.

Ada orang kepo yang dengan senang hati ngasih tau kekurangan kita.

Kekurangan yang dengan mudah, bisa kita ubah (seandainya kita mau).

Mendengar kritik orang tersebut bukan membenarkan tindakannya.

Mendengar kiritik menunjukkan betapa lapang hati, betapa terbukanya pikiran dan menunjukkan betapa beruntungnya kita.

Orang mesti belajar dengan harga yang mahal.

Sementara kita bisa belajar untuk berubah dengan harga ‘mendengarkan kritik’ saja.

Tidakkah terasa beruntung?

 

b. Kita nggak menerima kritik tersebut 

Setelah mendengar kritik tersebut dan otomatis kepala kita langsung mengkategorikannya sebagai kritik sampah.

Dipikirkan kembali pun tetaplah menjadi kritik sampah.

Maka sampah dibuang ke tong sampah.

Move on!

Seberapa besar keinginan untuk mengulang kembali kritikan tersebut di kepala, alihkan kepada hal lain.

Sebagai perempuan muda yang gampang kebawa perasaan, baperan, semua hal akan kita pikir berulang-ulang.

Sama halnya dengan kritik juga doyan diulang-ulang sampai sakitnya bergores-gores gitu.

Tapi, di satu sisi kita mesti sadar juga.

Kalo nggak ada manfaatnya, cuman nyakitin diri sendiri, cuman nambahin beban pikiran, apa lagi yang mau diulang-ulang?

Kritik yang nggak membangun itu dibuang ke tong sampah.

Kritik yang nggak membangun itu dihapus dari memori kita.

WHEN LIFE IS ABOUT TO CRUSH YOU DOWN

sumber : www.tenor.com

Nggak ada gunanya menyimpan sesuatu yang membuat kita sakit sendiri. 

 

2. Disalahkan

Menyalahkan orang lain adalah salah satu mekanisme pertahanan dalam diri.

Itu adalah apa yang otak perintahkan saat kita merasa terancam.

Dan tentu saja dunia korporasi besar adalah dunia persilatan yang penuh blame, excuse and justify. BEJ.

Dimana-mana ada saja orang yang cuci tangan dari kesalahan yang dia buat.

Dimana-mana mudah sekali ngomong. ‘Kan sudah gua bilangin kemarin? Elu ngeyel sih!’

Atau ngomong :

‘Si A yang buat keputusan yang bikin tim kita gagal tahun ini. Manajer kita yang nggak becus memimpin. Atau tim sebelah yang nggak bisa membantu’.

WHEN LIFE IS ABOUT TO CRUSH YOU DOWN

sumber : makeameme.org

Tapi, coba bayangin kalo posisi kita adalah sebagai orang yang disalahkan?

Ya! Tim kita dapat penilaian jelek dan akar-akar yang ditarik menunjuk kepada kita sebagai penyebabnya.

Bayangin berdiri seorang diri dan menjadi satu-satunya penyebab dari semua kegagalan.

Sakit banget.

Bikin pengen resign.

Dan pengen menyerah dalam pekerjaan ini.

Belum kebayang ceramahan dari bos dan kemarahan dari seluruh anggota tim yang membabi-buta.

Pengen rasanya ngomong, kan ini tim kok gua sendiri yang disalahkan?

Ujung-ujungnya, kita merasa pekerjaan kayaknya sudah dalam tahap terancam ini.

Lantas apakah bisa resign begitu saja hanya karena kita ngerasa terancam.

 

Merasa terancam-tertekan-stres

Ini adalah dunia nyata dimana pekerjaan di korporasi besar lebih menjanjikan daripada karir sebagai ibu rumah tangga (no offense ya!) dan demi bertahan hidup kita mesti mengabaikan banyak hal.

Yep! Abaikan saja!

Siapapun yang bicara dengan frontal dan menyalahkan kita adalah orang yang nggak punya keberanian barang secuilpun.

Karena kalo dia berani, dibanding nyari siapa yang salah, dia akan habisin waktunya untuk mencari solusi.

Mencari solusi tentu saja butuh keberanian, karena mesti mengakui kesalahan dan mendobrak stigma negatif yang sudah terlanjur ada karena kesalahan tersebut. 

Trus, kalo orang-orang yang menyalahkan kita adalah pengecut, kenapa kita mesti dengerin mereka?

Bahasa sinetronnya :

 

Persetan dengan mereka semua!

Abaikan saja!

Kalo disalahkan dalam tim, disalahkan dalam pekerjaan, rumusnya hanya satu yaitu ABAIKAN SAJA!

Mengabaikan mereka adalah untuk menjaga hati kita sendiri, agar perasaan down di dalam diri nggak berlarut-larut.

Jadi perempuan itu emang mesti menguatkan diri sendiri, karena kalo nggak diri sendiri, siapa yang bisa bantu kita?

Maka mengabaikan mereka dan cara mereka menyalahkan kita adalah tindakan yang tepat.

Tapi bukan berarti kita menutup diri pada kemungkinan untuk berkembang.

Kalo emang ada poin yang membangun, ambil dan gunakan untuk berbenah (kembali lagi ke poin 1 tentang kritik).

 

3. Dijadikan kambing hitam

Bahasa kece-nya adalah difitnah. Masih ingat kalimat ini?

‘Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.’

 

Dan tentu saja drama di kantor nggak akan lengkap tanpa fitnah.

Ada-ada aja yang terjadi.

Bahkan saat kita duduk dengan tenang saja, bisa jadi disangka lagi berkonspirasi untuk melakukan sesuatu yang jahat.

Ngerasa nggak sih kalo ucapan orang adalah produk dari otaknya?

Orang yang selalu ngomong jahat tentang orang lain adalah cerminan dari isi otaknya yang jahat.

 

Karena orang cenderung berpikir dalam garis lurus.

Mereka cenderung berpikir bahwa mereka tahu segala hal.

Mereka cenderung menilai orang lain dalam perspektif mereka.

Jadi kalo mereka mikirin sesuatu yang jahat, dengan sok polos, otaknya akan berpikir bahwa orang lainlah yang sedang berpikir jahat.

Dalam kondisi ini pas pula kita yang jadi sasaran tembak.

Padahal pastinya kita nggak punya niat macem-macem.

Niatnya murni membantu. Niatnya baik.

Tapi karena berinteraksi dengan orang yang isi kepalanya sudah jahat, maka niat baik kita disalahpahami oleh orang tersebut.

 

Apa boleh buat, nggak semua orang berevolusi.

Dan sebagai ‘bagian kecil’ dari populasi yang sudah berevolusi maka tugas kita adalah kembali mengabaikan mereka.

Nggak ada cara lain untuk berurusan dengan orang yang masih barbaric, selain dengan mengabaikan mereka.

Cuman nih, selain mengabaikan mereka saat menjadi kambing hitam, ada satu tambahan hal yang perlu dilakukan.

Yaitu membuktikan pada otoritas kalo kita bukan orang yang dituduhkan pada kita.

 

Karena mengabaikan mereka saja nggak cukup.

Kalo disalahkan saja besar kemungkinan nggak akan berpengaruh besar ke karir di masa depan, karena kesalahan-kesalahan masih bisa diperbaiki.

Tapi kalo sudah dijadikan kambing hitam atau menjadi objek fitnah, besar kemungkinan karir kita akan stuck.

Nggak berkembang.

Petinggi di atas nggak ngeliatin kita-kita di garis bawah yang dianggapnya sebagai keset kaki.

Mereka punya lebih banyak meeting untuk dihadiri ketimbang ngurusin satu persatu anggotanya.

Jadi mereka akan bergantung pada opini-opini supervisor untuk mengenal karryawan level bawah.

Maka kalo kita mau survive di karir yang sekarang, mau nggak mau kita mesti membuat terobosan untuk menunjukkan kalo kita lebih baik dari cerita miring yang beredar.

Tapi bukan berarti ngejilatin atasan ya!

 

BTW BACA JUGA : 7 TANDA SUDAH WAKTUNYA UNTUK PINDAH KERJA

 

Istilahnya jadi bekerja lebih keras dalam kerjaan.

Karena kalo karir nggak berkembang, pastinya penghasilan nggak berkembang.

Gimana mau ngelanjutin hidup kalo gaji nggak naik-naik?

 

4. Dianggap remeh

Dipandang sebelah mata, dilihatin kayak beban sepanjang masa.

Jangan heran. Semua orang punya masa-masanya.

Siapa aja pernah ngalamin waktu mereka dilihat kayak benalu.

Nggak bermanfaat banget elu buat company!

Idih, buang-buang gaji aja!

 

Saya juga pernah berada di posisi itu.

Saya jadi anak ayam yang kehadirannya nggak dibutuhkan, bahkan kalo lebih cepat resign akan lebih baik lagi.

Saya akan jujur, kalo pengalaman itu membuat saya merasa kehilangan arah.

Bayangin hampir setiap harinya dimarahin, diteriakin dan dianggap kayak sampah oleh seseorang yang levelnya cuman manajer doang.

Emang sejauh apa kamu lebih baik dari saya?

Teriakan saya yang terbungkam di dalam hati.

 

Kalimat kasar, ocehan panjang dan label-label yang orang tersebut berikan membuat saya terjatuh dalam banget.

Saya habisin hari-hari dengan nangis, menyesal kenapa saya memilih jalan tersebut?

Saya habiskan waktu merasa was-was akan kehadiran manajer saya, menebak-nebak mood-nya lagi baik atau nggak?

Karena saya adalah sasaran empuknya.

 

We are not born to be everything. We are not born to do everything.

Ada titik dimana kita mesti legowo untuk mengakui bahwa kita nggak terlahir untuk mengerjakan semua hal.

Dalam kondisi begini, kita mesti berani mengakui bahwa mungkin pekerjaan ini bukan untuk kita.

Kita mengaku demikian bukan karena nggak berharga sebagai seorang pribadi.

Kita juga bukan orang yang nggak punya passion.

Kita hanya nggak terlahir untuk pekerjaan itu.

 

Di masa seperti itu, sulit untuk mengakuinya.

Sulit untuk mengatakan bahwa ‘pekerjaan ini bukan untuk saya’.

Jadi kita berupaya bertahan dan makin tersiksa.

Menjadi bantalan pukul itu nggak enak loh.

Stres dan ngerasa rendah diri adalah hasil akhirnya.

 

Dan kita berpikir orang lain akan berlaku serupa.

Orang lain akan melihat rendah kita, orang lain akan nganggap kita sebagai benalu hingga orang lain nggak akan suka berurusan dengan kita.

Pertanyaan yang muncul adalah mau sampai kapan kita biarin cara orang memperlakukan kita, menjadi satu-satunya input yang kita terima?

 

Kita lupa siapa kita.

Kita lupa semangat yang kita punya.

Kita lupa pada suatu masa kita pun memiliki hidup yang menyenangkan.

Tapi semua itu hilang, digantikan dengan pikiran bahwa kita nggak berharga.

Mau begitu terus?

Jadi gimana dong caranya untuk menghadapi kondisi ini?

Gimana melewati masa-masa diliatin kayak benalu ini?

Jika berada di titik ini, coba pertimbangkan ulang karir yang saat ini tengah digeluti. 

 

Karena kalo sampai sudah dilihat remeh oleh tim dan atasan, besar kemungkinan struktur pekerjaan kita nggak akan bisa support apapun lagi.

Sistem yang berjalan hanya akan membuat kita makin tertekan dan makin terjerembab .

So, leave must be the only way out.

SMART GOAL

sumber : pinterest.com

 

When life is about to crush you down

Sebagai perempuan, kita nggak bisa menyenangkan semua orang.

Kita nggak akan punya kesempatan dan kelapangan hati untuk menyenangkan setiap orang.

Maka, kita mesti fokuskan energi kita untuk menyenangkan satu orang ini terlebih dahulu.

Dan orang itu adalah diri kita sendiri.

Ya, dirimu sendiri!

Apapun yang kamu lakukan adalah untuk menyenangkan dirimu terlebih dahulu.

 

Nggak peduli deh, di luar sana mau terjadi badai apa, atau topan beliung atau apapun itu, kamu harus tetap senang.

Dan sebagai perempuan kita mesti jadi pribadi yang egois.

Kita adalah pusat alam semesta kita sendiri.

Peduli orang mau ngapain, kita nggak butuh persetujuan dari mereka untuk melakukan apapun.

Satu-satunya persetujuan yang kita butuhkan adalah dari diri kita sendiri.

Maka apapun yang terjadi, apapun yang datang, datang saja!

 

Pekanbaru, 30 Juni 2018

PS : girlsliftothergirlsup

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!


Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *