Trik Rahasia Untuk Bahagia *nggak pernah diajarin di sekolah*

Sering merasa nggak cukup bahagia? Butuh trik rahasia untuk bahagia?

Okeh, meski memalukan untuk diakui, saya jarang merasa bahagia.

Konyol bukan?

Karena hidup ini ada di tangan kita masing-masing. Dan hidup bahagia adalah tujuan tunggalnya. Jadi mengapa hidup yang mampu kita setir nggak mampu menjadi sesuatu yang membahagiakan?

Apakah kamu merasa sama? Merasa nggak cukup bahagia?

 

Tersadar

Satu minggu terakhir saya habiskan di luar kota, mengunjungi sebuah negara tetangga yang secara geografis sangat dekat dengan kota kelahiran,

Momen jalan-jalan ini menjadi momen kosong yang penuh refleksi.

Karena sewaktu travelling akan tersisa banyak waktu untuk diam dan menunggu. Semisal menunggu jadwal bus, menunggu antrian panjang, hingga mengantri kamar mandi.

Kebetulan otak kita merupakan sel yang suka bekerja keras, atau biasanya otak perempuan memang doyan demikian.

Maka sepanjang proses menunggu dan mengantri, otak saya berkejaran dengan isu-isu yang teringat. Memutar banyak gambar dan kenangan bergantian secara random.

Sebuah pikiran yang tanpa sadar terlintas adalah saya ternyata nggak bahagia.

 

Adakah yang merasa sama? Adakah perempuan muda dengan pikiran serupa? Adakah kamu merasa nggak bahagia akan hidupmu?

 

Flashback hidup

Pertanyaan yang muncul sewaktu saya menyadari hal tersebut adalah mengapa saya nggak bahagia? Why?

Pikiran yang logis membuat list panjang tentang hal-hal yang seharusnya menjadi bahan bakar kebahagiaan bagi saya.

–  Saya mampu bekerja memenuhi kebutuhan hidup sendiri.

–  Saya mampu membantu orangtua untuk membiayai sekolah adik saya.

–  Saya mampu membawa ibu saya jalan-jalan.

–  Dan masih banyak lagi.

Karena kalo menengok balik ke masa lalu, akan mustahil berpikir bahwa saya bisa memiliki hidup seperti ini.

Saya nggak akan sugar coat apapun di sini.

Saya lahir dari keluarga yang pas-pasan. Buat makan dan sekolah saja sudah susah banget. Plus kita mengerti sendiri : keluarga adalah institusi yang memusingkan. Complicated. Penuh masalah.

Jadi bisa berada di titik saat ini seharusnya merupakan kebahagiaan. Tapi kok bisa sih saya nggak merasakan hal ini sebagai anugerah?

Saya juga keheranan di titik tersebut. Mengapa saya masih merasa semua ini KURANG?

Adakah kamu merasakan hal yang sama?

Mungkin nggak dalam konteks finansial saja.

Tetapi jika menilik ke belakang, ternyata telah banyak perubahan serta upgrade yang tidak pernah kita sadari tanpa membandingkan masa lalu dengan saat ini.

Mengapa sih masih merasa bahwa semua hal yang telah dijalani nggak membuat kita bahagia?

 

Because comparing myself to others

Saya akhirnya sadar apa yang membuat saya nggak bahagia.

Saya merasa nggak bahagia karena saya menghabiskan banyak waktu untuk membandingkan titik saya berdiri dengan titik orang lain berdiri.

Saya menghabiskan waktu untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Contoh :

–  Saya mampu bekerja untuk membiayai hidup sendiri vs melihat teman seusia yang sudah menjadi istri pengusaha kaya dan diberi label nyonya.

–  Saya mampu membantu orangtua vs melihat orang lain mampu mengakuisi rumah mewah dan gaya hidup yang sama mewahnya.

–  Saya mampu membawa ibu saya jalan-jalan vs melihat orang lain mampu membawa keluarga mereka jalan-jalan in a lavish style yang terpampang di feed media sosial.

Apapun itu, selama saya membandingkan diri dengan orang lain, saya akan selalu menjadi pihak yang berkekurangan. Saya akan punya lebih sedikit dari orang lain.

Apapun yang sudah saya dapetin baik dari hasil kerja keras atau dari kepedulian keluarga dan sahabat terhadap saya, akan menjadi nggak berharga.

 

Solusinya?

Dari momen refleksi tersebut, saya temukan jawaban untuk ketidakbahagiaan saya (mungkin).

Berhenti deh membandingkan diri dengan orang lain. Karena kita semua punya hidup masing-masing yang garisnya beda.

Meskipun sama-sama perempuan, pilihan dan keinginan membuat kita berbeda satu sama lain.

Jadi saya mesti sadar dan kita mesti sadar bahwa membandingkan saya dengan kamu atau membandingkan saya dengan dia adalah hal konyol.

Bener nggak?

Karena hidup ini bukan pacu kuda dimana kita harus menang menjadi yang tercepat. Hidup selow-selow juga okeh.

Dibanding ngebandingin diri dengan orang lain, lebih baik habisin waktu untuk membandingkan saat ini dengan kemarin.

Setuju? Gimana caranya? Apa trik rahasia untuk bahagia?

 

BERHENTI KEPO

Ya! Berhenti kepo!

Siapapun yang kenal saya secara personal, akan mengerti bahwa saya adalah makhluk yang super kepo. Oh my god!

Suatu sore sehabis pulang kerja, saya mantengin aplikasi line untuk mengecek timeline. Seorang lelaki kenalan yang saya duga orientasinya berbeda me-like foto seorang lelaki. Tingg!

Penasaran level 1 : Dibukain akun pemilik foto tersebut.

Penasaran level 2 : Oh my God! This is some LGBT type (maaf, do not intend to be so shallow, but this is what I felt at those moment). Klik kembali timeline-nya.

Penasaran level 3 : Menemukan foto akun yang tipe-nya sama. Cowok cakep yang rapi dan bersih. Kinclong banget. Semakin lama semakin jauh saya meng-klik dari akun kenalan saya.

Penasaran level 4 : Menemukan sebuah akun massage. Dan inilah puncak kekepoan saya. Sekitar setengah jam saya habiskan untuk melihat timeline-nya.

Fotonya selalu sama, shirtless untuk memamerkan roti sobeknya berlatar kamar hotel yang terlihat mewah. Setiap kliennya mau membayar untuk massage di hotel-hotel bintang 3 atau bintang 4 dengan rate jutaan per malam.

Apa kesimpulannya?

Kesimpulan 1 : Seseorang menjual jasanya dan mendapatkan bayaran yang layak untuk membiayai gaya hidupnya.

Kesimpulan 2 : Saya nggak dapetin apapun dari hasil stalking panjang ini, ya nggak?

 

Sering merasa seperti ini? Menghabiskan waktu untuk ngepo-in orang tanpa hasil?

Saya paham sosial media adalah hal penting dalam hidup untuk merasa tersambung dengan banyak orang.

Tetapi kadang tahu terlalu banyak nggak membantu kita dalam hidup.

Sama seperti saya yang rela menghabiskan beberapa porsi dari waktu saya untuk mencari tahu tentang hidup orang lain. Buat apa?

Setelah saya mengerti apa yang terjadi pada orang lain, lantas apa manfaatnya dalam hidup saya?

 

Peer pressure

Pernah dengar istilah peer pressure?

Tekanan sosial yang didapat dari interaksi sehari-hari yang membuat kita ingin melakukan hal-hal untuk menyesuaikan diri dengan kelompok sosial kita.

Sering merasa demikiankah? Atau hanya saya seorang yang merasakan sesuatu bernama peer pressure ini?

Setiap kali habis stalk sosial media seseorang, akan terasa beban hidup yang berat. Karena saya kepengen bisa hidup kayak mereka juga. Karena saya kepengen sama seperti mereka.

Nggak ada habisnya. Plus lingkungan sosial kita akan selalu membuat standar baru yang harus kita capai.

Tapi seperti sudah diketik sebelumnya. Hidup saya dengan orang lain nggak mungkin sama. Dan menerima hidup ini apa adanya adalah cara saya untuk menghargai waktu yang diberikan.

BACA JUGA : HIDUP BIASA-BIASA JUGA CUKUP

 

Jadi, mengapa saya yakin bahwa berhenti kepo adalah trik rahasia untuk bahagia?

Siang ini saya jumpai seorang teman lama, menghabiskan makan siang bersama dengan pembicaraan antah berantah.

Pembicaraan kami memasuki tema BPJS, karena kami sesama pekerja kantoran yang membiasakan diri pada takdir.

Teman saya mulai membuka laman saldo BPJS-nya dan merasa senang dengan angka yang tertera.

Senyumnya lebar dan merekah. Tidak menyangka tanpa sadar ternyata tabungannya sudah bernilai demikian.

Dia nggak bertanya berapa saldo saya, walopun saya sudah melihat laman saldonya dan menghapal persis angka yang tertera (karena saya yang kepo tanpa sadar sudah melihat saldonya).

Senyumnya masih sama lebar saat dia berkata : ‘Aku nggak mau tahu saldo orang berapa. Terserah orang punya berapa. Yang penting aku punya segini dan aku senang sekali.’

That’s it.

 

Demikian kali ini artikel intermezzo yang sifatnya selingan banget. Saya harap kita bersama akan berhenti kepo demi kebaikan pikiran masing-masing (terutama saya).

Dan sekalian klik laman ngerti bank wartadana yang informatif dan biasa dikunjungi secara organic oleh netijen.

Plus kalo ada waktu jangan lupa berkunjung ke instagram wartadanablog karena di sana ada sharing perihal bank dan keuangan dalam format yang lebih sederhana.

Thank you !

Pekanbaru, 6 Maret 2019

–  Mendengar playlist rock dari spotify

#girlsliftothergirlsup

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!

Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *