7 TANDA SUDAH WAKTUNYA PINDAH KERJA

Kepikiran Sudah Waktunya Pindah Kerja ?

Mungkin emang sudah waktunya pindah kerja atau karena ada tawaran yang lebih baik di luar sana.

Pindah kerja adalah hal yang wajar.

Sama seperti mencoba-coba tempat makan dimana kamu akan nyari tempat makan yang paling murah dan paling enak di lidah.

Makanan yang sekali habis aja dipilih-pilih, gimana dengan pekerjaan yang mesti kamu hadapi selama 26 hari dalam sebulan?pilih pilih kerjaan

Adalah hal yang wajar jika satu hari nanti atau ‘saat ini’ kamu memutuskan untuk banting setir dan pindah kerja. Wajar banget.

Tapi dari pengalaman pindah tempat kerja 3 kali saja, saya ‘mesti’ mengakui bahwa pindah kerja itu bukanlah hal yang mudah.

Setiap kali pindah kerja, hidup saya digodok-godok kayak tepung bakwan yang siap digoreng. Panasss.

aku harus berhenti kerja

sumber : quickmeme.com

Tahap penyesuaiannya itu loh. Berat banget!

Dari yang tadinya sudah senior di tempat lama, kembali menjadi junior di tempat baru.

Tadinya uda deket dengan teman di tempat lama, mesti mencoba mendekati teman di tempat baru.

Plus banyak hal yang nggak pernah kamu pikirkan sebelumnya, yang akan maksa kamu untuk belajar kembali.

Syukur-syukur dalam proses belajar ini ketemu teman-teman baru yang menyenangkan.

Kalo nggakpun, ya mau gak mau harus dijalani. Hidup sejatinya adalah pilihan.

 

Setelah memilih, saya dan kamu wajib menjalaninya.

Disclaimer 1 : Di sini saya nggak ngajakin kamu untuk buru-buru nyari kerjaan baru di jobstreet atau jobsdb atau masih banyak platform lainnya.

Saya cuman mau share :

  • 7 tanda-tanda yang kadang nggak disadari,
  • 7 tanda-tanda yang ngasih tau kalo kamu sudah harus pindah kerja,
  • 7 tanda-tanda untuk mulai menjajaki kembali pekerjaan yang dijalani saat ini.

Mungkin nggak harus sampai ke-7 tanda itu terjadi kepadamu.

Tapi satu tanda saja sudah bisa jadi lampu merah agar kamu berhenti sebentar dan mikir lagi deh…pertanda waktunya pindah kerja

Nah, kalopun semua tanda di atas sudah terjadi padamu, tetapi kamu belum menemukan keberanian atau rasa nekat untuk melompat keluar dari pekerjaanmu saat ini, well it’s okay.

Saya hanya orang asing yang sok tau.

Perihal hidupmu kamu yang paling tahu.

Jangan biarin opini orang asing, membentuk opinimu dan membuat kamu wajib bertanggungjawab atas pilihan tersebut.

Disclaimer 2 : Artikel ini ditujukan bagi kamu yang emang butuh penghasilan dari pekerjaanmu.

Misalnya kamu bekerja untuk aspek lain, seperti pencapaian atau sekedar status, silahkan close saja, artikel ini bukan untukmu.

Dan berikut adalah 7 tanda yang menurut saya nunjukin bahwa sudah waktunya nih kamu berpikir untuk pindah kerja. tanda sudah waktunya pindah kerja

 

Menemukan Passion-mu di Tempat Lain

Passion adalah hal yang penting. Passion itu hasrat, kehendak hati dan gairah yang nggak bisa diabaikan begitu saja.

Ada beberapa tipe orang terkait passion :

  1. Orang yang tahu apa passion-nya dan siap berjuang untuk itu.
  2. Orang yang tahu apa passion-nya tapi belum siap berjuang
  3. Orang yang nggak bisa menemukan apa passion-nya.

Jika kamu adalah tipe 1 yang tau apa keinginanmu dan siap berjuang untuk itu, go on! Jangan biarin apapun membuatmu meragu.

Tapi jika saat ini kamu adalah tipe 2 & 3, embrace that!

Mengertilah bahwa ada harga dari setiap tindakan yang akan kamu ambil. WHAT A WAY TO MAKE A LIVING

 

Mungkin kamu merasa kecewa, menghabiskan waktu dengan pekerjaan saat ini kala kamu masih mampu mengejar mimpimu.

Mungkin kamu merasa kecewa, menukarkan waktumu untuk karir yang nggak kamu suka dan nggak pernah menemukan dirimu sendiri. TINDAKAN YANG BENAR

Adalah tindakan yang tepat saat kamu nggak gegabah memutuskan untuk pergi mengejar mimpimu dan meninggalkan karir saat ini.

Adalah tindakan yang tepat saat kamu nggak gegabah memutuskan meninggalkan karir saat ini untuk mencari jati dirimu sendiri.

Karena saya dan kamu butuh uang untuk menjalani hidup. Nggak cukup modal keyakinan doang.

 

Kadang Passion Is Not For Everyone

Saya berharap setiap dari kita punya passion yang mungkin belum kita sadari.

Saya berharap kita punya gift, punya talenta, punya kelebihan yang bisa ngasih kita uang, yang mungkin belum disadari.

Makanya saya berharap kita dapetin waktu dan proses untuk mengenal diri kita lebih baik, dengan mencoba lebih banyak hal baru.

Tapi kalo emang belum ada, ya nggak apa-apa.

Passion is not for everyone. Kadang hidup damai saja sudah cukup kok.

BACA JUGA : HIDUP BIASA-BIASA SAJA JUGA CUKUP

 

Ada Tawaran Yang Super Dari Tempat Kerja Lain

Biasanya tawaran ini datang tanpa diduga.

Dan tentu saja bikin kelabakan antara mau ngambil tawaran ini atau nggak?

Memang, pindah kerja akan bikin capek menyesuaikan diri dengan tempat kerja baru dengan SOP dan segala macam kawan-kawannya.

Tapi kalo tawaran gaji dan benefitnya luar biasa, apakah nggak layak dilakoni?KESEMPATAN NGGAK DATANG BERKALI KALI

 

Kamu harus selalu ingat bahwa kesempatan yang hari ini nggak kamu ambil, belum tentu akan datang keesokan harinya.

Kamu juga harus paham bahwa kesempatan yang hari ini nggak kamu ambil, belum tentu nggak akan diambil orang lain. NGGAK KEPENGEN NAIK LEVEL

 

Di kepala saya rumusnya itu begini.

Dengan adanya tawaran super, pasti ada kenaikan gaji yang memadai.

Dan dengan kenaikan gaji, kamu bisa alokasikan untuk keinginan yang belum tercapai, atau untuk ditabung buat masa depan.

A little extra money won’t hurt 😀

Sebagai rule of thumb, biasanya salary increase di atas 50 % sudah cukup untuk menjadi alasan kamu untuk mempertimbangkannya.

Kalo baru naik hanya 10-20 %, rasanya belum worth it.

menemukan kerjaan yang lebih baik

sumber : imgflip.com

2 alasan tadi adalah alasan positif,  dimana pindah kerja karena ada sesuatu yang mau dikejar.

Tapi di bawah ini ada 5 tanda negatif yang patut kamu pikir-pikir lebih jauh.

 

Gaji Nggak Naik & Gak Cukup

UMR setiap tahunnya naik.

Kalo gaji bisa naik setidaknya seperti UMR, mungkin kamu masih merasa nyaman dengan angka tersebut.

Tapi kalo kondisi nggak bagus dan sudah 2 tahun atau bertahun-tahun nggak naik gaji, apa lagi yang mau dipertimbangkan?

Karena sejak awal, tujuan kamu bekerja mayoritas adalah demi penghasilan.kerja buat nyari uang

Nah, kalo kamu bekerja demi penghasilan, tapi angkanya nggak pernah mampu membantumu, apa gunanya lanjut?

Jika saya bekerja di tahun 2016 dengan gaji Rp 2.100.000.

Katakanlah entry job, masih fresh graduate, ngikutin standar perusahaan. 

Dengan penghasilan segitu, tentu saya berharap tahun depan ada kenaikan gaji.

Tetapi ketika di tahun 2017 gaji nggak naik juga artinya penghasilan saya masih tetap Rp 2.100.000 per bulan.

Penghasilan tetap padahal harga barang udah naik kemana-mana. 

Jika di tahun 2018 nggak naik gaji lagi, artinya penghasilan saya selama 3 tahun berturut-turut tetap Rp 2.100.000 per bulan.

Pake nalar saja, setiap tahunnya harga barang pokok mengalami kenaikan harga yang disebut dengan inflasi.

Kalo dari kajian ekonomi nasional, inflasi rata-rata di angka 4-5 % selama 2 tahun terakhir.

Jika di 2016 saya mampu hidup dengan angka itu, akankah saya mampu hidup dengan angka yang sama dua tahun setelahnya, di 2018?

 

Bisa! Kalo Saya Hidup Lebih Melarat Lagi.

Saya mungkin nggak perlu sarapan, hanya makan siang saja.

Tapi jika saya kepengen mempertahankan gaya hidup saat ini, apakah bisa?

Bagian mana yang mesti saya kurangi untuk mencukupkan budget-nya?

Hitung deh dengan kenaikan 5 % per tahun, maka di 2017 kebutuhan saya naik menjadi Rp 1.050.000. Yah, 50 ribu saja masih bisa kita sesuaikan.

Di tahun 2018 naik 5 % lagi menjadi Rp 1.102.500 (Rp 1.050.000 + 5%)

Dengan gaji Rp 2.100.000 yang nggak berubah, pastinya tabungan saya akan berkurang, jatah untuk orangtua saya berkurang atau ada keinginan lain yang terpaksa saya tunda dulu.

Trus, apa yang saya pertahankan dari pekerjaan saya saat ini?

Kalo ngomong realistis mending saya pindah kerja ke tempat lain.

Dimana-mana kerja kantoran baru masuk awal saja sudah dapat gaji UMR.

Setidaknya kalo UMR sekarang Rp 2.500.000 gaji saya naik 400 ribu, masih bisa ngalahin inflasi-lah.

Ketimbang tetap di kerjaan lama yang nggak ngasih penyesuaian gaji.

Tapi ingat selalu untuk nggak sembarangan pindah kerja tanpa mikir panjang.

Apalagi sampai berada di titik dimana kamu nganggur sambil nyari kerja.

That’s a big no! hidup melarat tanpa gaji

 

Tapi akan lain ceritanya saat gaji kamu emang nggak naik-naik, tapi angkanya sudah memadai.

Ada beberapa tipe profesional yang sekali pindah bisa nego luar biasa dan tentunya dapat raise yang sama luar biasanya.

Kalo kamu ada di posisi ini, dimana gaji emang nggak naik-naik, tapi angkanya masih memadai buat hidupmu, mungkin nggak bisa langsung mikir mau pindah kerja saja.

 

Nggak Cocok Dengan Atasan Langsung

Menurut survey 90 % pekerja berhenti karena nggak cocok dengan atasan langsung mereka, bukan karena nggak suka dengan pekerjaan mereka.

Dan hal ini emang benar.

Atasan langsung aka supervisor adalah satu-satunya perpanjangan tangan manajemen yang lihatin kamu kerja sepanjang waktu.

Kalo nggak cocok, gimana komunikasi bisa berjalan?

BACA JUGA : INGAT FOKUS BEKERJA!

 

Nggak cocok di sini maksudnya dari cara kerja, cara ngomong, cara menyelesaikan masalah, hingga kecocokan emosi.

Emang sih orang banyak ngomong biarin ajah deh, atasan emang begitu, nggak perlu dimasukin ke hati dan kamu fokus kerja saja.

Well, nice thought. Kalo sudah bisa begitu ya keep going on.

Tapi saya sendiri nggak bisa kerja bareng orang yang nggak cocok sama saya.

Karena kalo nggak cocok, pertama pasti saya ngeliatin dia negatif mulu dan diapun memandang saya dengan cara yang sama.

Apa gunanya kata tim kalo kita saja nggak saling menghargai satu sama lain?

 

Alasan kedua karena kalo nggak cocok artinya saya akan bersikap pamrih untuk segala upaya saya.

Menurut saya perasaan pamrih itu adalah hal yang buruk dan merampas setiap kesenangan yang kita punya.

Sewaktu saya nggak senang sama atasan saya, maka saat dia mendapatkan penghargaan karena angka tim, saya akan marah pada manajemen dan si atasan.

Hasil kerja saya dan teman-teman sebagai anak buah malah si atasan yang menikmati. Nggak fair.

Gaji atasan naik banyak, masa gaji saya dan teman yang kerja nggak naik cukup? Nggak fair.

Lantas apa poinnya?

Ketidakpuasan kayak gitu akan numpuk dan hanya nunggu waktu yang tepat untuk meledak dan blarrr.mampu menutup mulut

 

Hancur deh karir yang sudah susah payah dibangun. Hanya karena perasaan pamrih tadi.

Padahal kalo saya cocok dengan atasan, saya pasti dukung yang bersangkutan dan pencapaian dia adalah pencapaian kami bersama.

Dengan mindset kayak gitu saya nggak akan menimbun pamrih yang nyakitin diri sendiri.

Ini kalo atasannya waras. Kalo atasan sudah nggak waras?

Yang sifatnya negatif, yang nggak pernah ngasih kita kesempatan untuk berkembang, yang sirik-sirikan, yang tipe orde lama, hingga yang nggak bisa menghargai effort kita sama sekali.

Gimana? Yakin masih mau bertahan?

 

Lingkungan Kerja Membentuk Emosi Negatif Tiap Hari

Saya sendiri susah paham mengapa budaya kerja di sebuah perusahaan dikategorikan ‘tidak baik’.

Tapi memang ada beberapa perusahaan yang budaya kerjanya sangat nggak sehat.

Politik jilat menjilat, politik yang pake kubu-kubu, hingga senioritas yang kental adalah ciri-ciri dari lingkungan kerja yang nggak baik.

Belum ditambah dengan adanya orang-orang tertentu yang berfungsi sebagai kompor. kompor manusia berjalan

 

Nah, karena hal ini adalah faktor eksternal, di luar diri saya dan kamu.

Akan sulit bagi kita untuk mencoba mengubah apa yang sudah ada selama ini.

Saya sendiri nggak akan lakukan hal itu, karena untuk apa mengurus orang lain?

Mengurus diri sendiri saja, belum tentu saya super becus. 

Jadi saya akan abaikan lingkungan kerja saya itu.

Mau bagus mau enggak, saya nggak akan ikut campur dan bersikap seperti pahlawan yang ingin ‘membantu’.

Yang ada saya akan berusaha agar nggak menjadi seperti mereka.

Karena saat lingkungan kerja nggak baik, saat lingkungan kerja jelek, maka orang-orangnya akan jadi jelek juga.

 

Lingkungan Kerja Mampu Membentuk Karakter Seseorang

Karena mayoritas waktu seseorang dihabiskan di sana. Saya kasih hitungan deh :

Seminggu kamu dan saya dikasih waktu 168 jam. 7 x 24 jam.

 

Hari kerja 6 hari x 9 jam (8-5 sore) = 54 jam.

 

Tidur 8 jam (7×8) = 56 jam.

 

Waktu sadar dalam seminggu = 168 jam – 56 jam = 112 jam.

 

Waktu bekerja = 54/112 jam = 48 %.

Sisanya waktu dibagi-bagi dengan keluarga, dengan teman, dengan relasi-relasi yang lain.

Tapi 48 % sudah dikasih ke lingkungan kerja.

Coba bayangin, anak bayi yang tiap hari lihatin sang mama bisa dengan mudah ngikutin tingkat laku mamanya.

Apalagi kamu dan saya yang 48 % waktunya berada dalam lingkungan kerja kita.

Pasti mudah untuk terpengaruh dengan pola lingkungan kita.waktunya pindah kerja

 

Coba pikirin sendiri, setelah 48 % waktu dihabiskan untuk bersikap defensif, apakah sifat defensif ini nggak kebawa sampai di luar kantor ?

Kalo saya sudah berada di tempat yang saya rasa bisa narik saya turun, saya mending pergi saja.

 

Setiap Malam Sudah Malas Mikirin Besok

Saya pernah berada di titik ini.

Kalo bisa nggak mau bangun pagi.

Sengaja bergadang supaya tidur lebih malam dan akhirnya malah nggak kebangun besok pagi.

Malamnya mikirn mau kerja saja sudah lemesh.

Lelah hayati, bang!

 

Nggak Ada Pekerjaan Yang Sempurna

Kamu nggak mungkin dapetin kerjaan mudah dengan gaji tinggi dan fasilitas yang kinclong.

Nggak mungkin.

Yang ada justru besar kemungkinan kamu emang nggak dapat kerjaan yang gaji tinggi, tapi kamu senang dengan pekerjaan kamu.

You keep telling yourself that this is your dream job.

Ya kalo gitu kamu nggak punya alasan untuk berhenti kerja.

Ada juga kemungkinan kedua dimana kamu puas dengan penghasilanmu tapi nggak senang dengan pekerjaanmu.

Sehingga akan kembali pada dirimu sendiri. hidup adalah nalar

 

Apa yang kamu cari sekarang?

Pengorbanan macam apa yang siap kamu jalani?

Ingin penghasilan yang memadai? Then stay!

Ingin pekerjaan yang menyenangkan? They walk away!

Tapi ingat, sejauh mana kamu bisa senang sama pekerjaan favoritmu, kalo gajinya nggak memadai buat hidupmu?

Ada juga kemungkinan ketiga dimana kamu nggak puas dengan penghasilanmu dan kamu nggak senang dengan pekerjaanmu.

Setiap hari serasa berat banget mau berangkat ke kantor.

Please, saya mau lanjut tidur saja.kamu capek kerja

Nggak fair banget karena kamu jadi nggak menghargai hari-hari yang sudah kita didapetin.

Padahal kamu dan saya sendiri nggak nyadar hari-hari yang kita anggap sebagai pemberian gratis itu satu hari akan habis.

Nah, waktu habis apa nggak nyesal, ngabisin waktu kamu untuk ‘nggak puas’ sama hidup sendiri?

 

Pekerjaan Nggak Ngasih Ruang Berkembang

Saya letakin alasan ini paling bawah karena ini alasan yang masih bisa dinegosiasikan.

Misalnya kerjaan kamu emang membosankan dan nggak ngasih peningkatan karir apapun.

Tapi kamu dapat bayaran yang lumayan dan fasilitas yang lumayan. Kamu bebas stress.

Maka kamu bisa saja tetap bertahan di pekerjaan tersebut.waktunya pindah kerja

 

Ketimbang mutar-mutar nyari kerjaan yang belum tentu cocok, mending kamu coba menikmati apa yang ada di hadapan kamu.

Toh, aspirasimu bukan untuk karir dan sejenisnya.

Tapi kalo kamu adalah orang yang ambisius, zona aman seperti ini adalah zona pembunuh.

Maka kamu harus segera keluar dan mencari tantangan dan hal-hal baru.

Kamu harus segera menemukan pekerjaan baru lain yang bisa ngasih kamu ruang untuk berkembang, kesempatan-kesempatan baru yang besar.

Kamu harus mempertimbangkan untuk pindah kerja.

 

Pesan Sponsor :

Kenapa saya dengan lantang ngajakin kamu mikirin soal pindah kerja?

Karena saya sering lihat orang-orang yang punya begitu banyak potensi, anak-anak muda yang bisa dapetin apa yang dia mau dan nggak punya dorongan untuk mengejar semua itu.

Saya lihat orang-orang kerja di tempat yang buruk dan memutuskan untuk tetap bertahan, dengan pertimbangan takut di luar sana nggak akan ada yang mau menggaji mereka.

Saya lihat orang-orang yang sudah jelas nggak bahagia dengan kerjaannya dan memutuskan untuk tetap bertahan.

COME ON! WAKTUNYA PINDAH KERJA

Hidup ini singkat dan cuman sekali ini saja.

Apa mau habisin hidupmu, masa mudamu, dengan cara seperti itu?

Dari banyak alasan di atas, memilih untuk pindah kerja atau nggak adalah salah satu langkah besar dalam hidup kita.

Mungkin ada yang bilang ‘ah, apanya yang langkah besar, sama-sama kerja doang.’

Tapi saya mau kasih bold dan underline bahwa pekerjaan adalah hal yang nggak bisa pisahkan dari hidup kita.

Dan memutuskan untuk pindah kerja atau tidak adalah salah satu kesempatan untuk hidup dengan format terbaik dalam momen ini.

Pesan sponsor adalah selalu bijak dalam menghitung untung rugi saat mau pindah kerja ke perusahaan lain.

Hitungan mesti pas, semangat juga mesti di-gas.

————

LINK DI WARTADANA :

  • Instagram wartadanablog => sharing perihal perbankan dan kredit dalam format yang lebih sederhana.
  • Twitter wartadanacom=> sharing artikel menarik atau video menyenangkan dari internet.
  • Sitemap wartadana=> melihat artikel-artikel yang sudah diterbitkan di blog ini.

Terima kasih sudah main ke wartadana.com 

REFERENSI PERSONAL FINANCE KAUM MILLENNIALS

Pekanbaru, 16 April 2018

Listening to Wonderwall by Oasis.

Waktunya pindah kerja adalah topik besar dalam hidup, jadi pertimbangkan dengan matang kawan!

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!

Summary
7 TANDA SUDAH WAKTUNYA PINDAH KERJA
Article Name
7 TANDA SUDAH WAKTUNYA PINDAH KERJA
Description
Sedang kepikiran untuk pindah kerja? Lanjut baca artikel ini untuk tahu 7 tanda bahwa sudah waktunya kamu untuk pindah kerja.
Author
Publisher Name
www.wartadana.com
-

Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *