SMART GOAL – 5 TAHUN MENDATANG KAMU DIMANA?

Smart Goal

Siapa yang nggak kenal Thomas Alva Edison?

Siapa yang nggak kenal sang penemu bola lampu yang berjasa besar dalam hidup kita sehari-hari? Nggak ada orang yang sudah bersekolah dan nggak tahu siapa bapak Thomas Alva Edison sebenarnya.

Tetapi kok bisa hari ini kita masih mengenal orang yang sudah meninggal hampir seratus tahun yang lalu?

Hampir semua motivator selalu mengambil kisah hidup Thomas Alva Edison sebagai materi kisah sukses, bagaimana bocah yang tidak pintar bersekolah akhirnya menjadi penemu paling produktif selama hidupnya, bagaimana demi menemukan bola lampu tersebut, Thomas Alva Edison mengalami ribuan kegagalan dan tidak pernah berhenti sekalipun.

Kenapa Thomas Alva Edison nggak berhenti mencoba?

”When I have fully decided that a result is worth getting I go ahead of it and make trial after trial until it comes.”

– Thomas Alva Edison

Saya percaya hari ini kita mengenal Thomas Alva Edison berkat kekeraskepalaan-nya. Saya yakin karena dia memiliki tujuan dan nggak berhenti berupaya, hari ini kita mengenal namanya. Nama orang yang hidup di benua lain, padahal nama kakek kita sendiri aja bisa jadi terlupakan oleh kita.

Nggak hanya berhenti di kita, mungkin nanti anak dan cucu kita semua akan mengenal namanya. Dan hal itu terjadi karena dia nggak sekalipun berhenti mencoba.

BACA JUGA : APA DEFENISI SUKSES-MU?

Kita sudah mikir untuk menentukan tujuan hidup, supaya bisa menjawab pertanyaan ‘apa defenisi sukses menurut kamu?’ di postingan sebelumnya. Apa yang dilakukan oleh Thomas Alva Edison adalah contoh mimpi / goal yang baik.

Punya goal juga dong!

Tapi kita yang realistis saja, nggak semua orang punya gift berupa pikiran yang cemerlang yang mampu menciptakan banyak hal baru. Saya akui itu bukan bagian saya. Biarkan saja mereka di luar sana yang punya goal untuk menemukan hal-hal baru yang bermanfaat.

Kalo jatahnya kita mah, lebih baik fokus pada mimpi / goal yang benar-benar membuat kita selangkah lebih maju. Fokus pada mimpi / goal merupakan arah yang paling mudah kita tentukan.

Karena saya percaya hidup ini di tangan saya, mau dibawa maju atau mundur saya yang putuskan. Siapapun nggak berhak ikut campur dalam hidup saya, kecuali saya minta.

Goal kita itu kebanyakan adalah hal-hal yang sebenarnya remeh bagi orang lain. Misalnya,  goal saya adalah untuk memiliki rumah sendiri. Di luar sana, orang yang sudah punya rumah sendiri pasti dengan mudah meremehkan goal saya. Tapi bukan itu poinnya.

Pikiran orang adalah milik mereka. Kita atur pikiran kita sendiri. Kalo emang memiliki rumah adalah goal saya, maka memiliki rumah adalah hal besar dalam hidup saya. Itu yang mesti saya upayakan sampai dapat.

Nah, di sinilah dibutuhkan konsep goal yang SMART. Konsep goal yang SMART ini akan membantu kita untuk mendekripsikan dengan jelas goal yang kita punya, mendeskripsikan dimana kita 5 tahun ke depan. Pertanyaan klasik yang selalu ada setiap kali interview kerja dan kita perlu mempersiapkan jawabannya dengan baik.

Dimana kamu 5 tahun mendatang?

Pertama kali mendengar pertanyaan seperti itu, tanpa persiapan apalagi, kita akan bengong-bengong. Apa ya? Dimana ya? Ngapain ya? Mau ngarang juga nggak tahu mau mulai dari mana.

Padahal kalo sudah kita pikirkan sekali aja, sebenarnya akan mudah menjawab pertanyaan ini. Karna dasarnya adalah dari mimpi-mimpi atau goal yang kita punya. Hanya tinggal dikembangkan dengan menggunakan konsep SMART GOAL.

Konsep SMART ini sebenarnya textbook, sangat ala-ala motivator, tapi mudah diterapkan. Karena konsep mimpi / goal yang SMART ini rinci dan menunjukkan bahwa mimpi / goal kita itu bisa dicapai.

S = Specific. Rinci.

M = Measurable. Terukur.

A = Achievable. Dapat dicapai.

R = Realistic. Nggak ngaco.

T = Time. Ada batasan waktu.

Emang sepintas kayaknya ribet ya, tapi nggak. Konsep SMART ini seperti ngasih kotak border dalam tujuan kita. Misalnya saya punya goal : memiliki rumah.

Saya ingin punya rumah tipe 70 di tahun 2019 VS Saya mau punya rumah.

Mana lebih enak dilihat?

Saya mau bekerja di bank VS Saya mau bekerja di bank A bagian X di tahun 2018.

Mana yang bikin kita mendapatkan desakan untuk cepat mengerjakannya?

1. Spesific

Goal harus rinci karena otak kita itu ribet. Otak kita itu suka nyampur-nyampurin banyak hal seperti gado-gado. Nah kalo goal saya nggak rinci, otak saya dengan mudah nambahan micin berbentuk pengalihan (tanpa saya sadari).

Misalnya saya kepengen jumlah pengunjung blog naik, tapi kalo nggak jelas siapa pengunjung yang saya harapkan, apa sasarannya buat saya? Untuk membuatnya menjadi rinci, saya tuliskan bahwa goal saya adalah membuat jumlah pengunjung blog yaitu para perempuan millennials meningkat.

2. Measurable

Goal mesti bisa diukur. Kalo nggak terukur, gimana kita tahu kalo goal itu sudah dicapai atau belum? Butuh berapa lagi untuk mencapainya?

Saya kepengen kurus. Waduh. Itu ajah nggak cukup.

Saya kepengen kurus, turun 10 kilo dalam waktu 6 bulan. Dengan begini, jika di bulan ke 3 saya baru turun 3 kilo maka saya harus berpikir ulang mengenai metode penurunan berat badan yang saya gunakan, karena dalam 3 bulan saja baru 30 % goal yang tercapai, sementara idealnya sudah 50 %.

3. Achievable

Dapat dicapai. Saya punya gaji hanya Rp 2 juta per bulan. Goal saya adalah menabung Rp 50 juta per tahun.

Come on! Buat goal yang kita tahu dapat dicapai. Bukan menurunkan goal supaya mudah dicapai, tetapi tentukan batas dimana kita harus berkorban untuk mencapainya.

Life is all about sacrifices.

If we don’t sacrifice for what we want. What we want become the sacrifices.

4. Realistic

Realistis. Nggak mengada-ada. Goal saya kepengen sekaya Warren Buffet.

Come on! Mimpi boleh tinggi, tapi yang realistis dong. Bukan berarti nggak boleh ngimpi untuk jadi sekaya Warren Buffet, tapi apa poinnya kalo kita sadar bahwa mimpi itu tetap jadi mimpi?

SMART GOAL
PINTEREST.COM

Saya yakin kita paham kemampuan masing-masing, tahu batasannya sampai mana. Kalo goal-nya terkait uang, masih sah saja untuk membuat angkanya lebih tinggi dari penghasilan kita. Tetapi kalo membuat goal yang membandingkan diri dengan Warren Buffet saran saya nggak usah capek-capek membuat goal tersebut.

5. Time

Ada batasan waktunya dan menurut saya ini yang paling penting. Batasan waktu itu membuat kita mendapatkan desakan untuk langsung mengerjakannya. Tanpa batas waktu yang jelas, kita bakalan sering snooze goal ini.

Karena dalam hidup selalu saja ada keluarga untuk diurus, teman untuk bergaul dan pekerjaan yang bikin minggu kita hectic senantiasa. Masa mau ngurusin yang lain terus sampai melewatkan goal kita sendiri?

 

Nah, meng-highlight ke-5 poin di atas akan membantu kita untuk menjelaskan ‘5 tahun mendatang kamu dimana?’. Jawaban yang timbul akan terstruktur dan bermanfaat buat kita sendiri. Nggak hanya untuk menjawab pertanyaan interview kerja, konsep SMART goal ini bisa kita aplikasikan untuk goal lain yang kita punya.

Membaca banyak artikel maupun mendengarkan banyak podcast motivasi nggak akan membuat goal kita terwujud. Langsung mengeksekusinya justru meningkatkan peluang yang ada.

SMART GOAL
pinterest.com

Demikian tentang SMART GOAL. Please bantu share kalo kamu mendapati bahwa artikel ini bermanfaat. Subscribe untuk selalu dapetin update-an soal uang, bank dan kerjaan. Jangan ragu untuk saling menyapa di laman sosial media. And last but not the least, terima kasih sudah berkunjung ke wartadana hari ini.

#girlsliftothergirlsup

Pekanbaru, 6 Mei 2018

listening to Ed Sheeran – Photograph

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!

Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *