RESOLUSI TAHUN BARU 2019

Tanpa terasa tahun baru hampir tiba di depan mata. 2018 akan berganti menjadi 2019. Apa resolusi tahun baru 2019 kamu?


2018 bagi saya adalah tahun yang menyenangkan. Penuh masalah? Iya! Penuh kekecewaan? Iya! Penuh rasa gagal? Iya!

Tapi selain itu saya juga membuat banyak memori tambahan yang membuat otak saya pontang panting menyesuaikan cara berpikir.

Sehingga terlepas dari komposisi memori baik dan buruk yang belum seimbang, setidaknya sebagai orang Indonesia saya masih bisa bilang ‘untungnya….’ 😀

Yang lebih menyenangkan tanpa kita sadari adalah 2018 akan berganti dengan tahun yang benar-benar baru.

365 hari yang baru dan segar. 365 hari yang bebas bagi kita, hendak dijadikan seperti apa.

Dan saya sudah ngebayangin hari-hari tidur siang yang nyenyak di weekend. Nyam nyam!

Sehingga penting untuk memulainya dengan bijak. Sehingga sama pentingnya untuk memiliki tujuan yang sering kita sebut dengan resolusi tahun baru.

RESOLUSI TAHUN BARU 2019

sumber : weknowmemes

 

Apa sih resolusi tahun baru?

Dalam konteks kata, resolusi memiliki banyak arti tergantung dalam kalimat apa ia digunakan.

Sewaktu membicarakan resolusi tahun baru kita berbicara tentang pencapaian yang hendak kita buat dalam 1 tahun ke depan yang tentunya disertai dengan tindakan.

Sederhananya resolusi tahun baru adalah daftar hal-hal yang ingin kita capai di tahun berikutnya.

Tetapi marilah mengerti kalo semua hal butuh usaha.

Sehingga sewaktu kita memutuskan untuk menginginkan sesuatu, kita telah mengerti upaya seberat apa yang harus dikerahkan demi hal tersebut.

Karena tentu saja kita nggak membuat resolusi tahun baru dalam level yang dicapai dengan aksi harian.

 

Pentingkah resolusi tahun baru?

Seseorang pernah bilang ke saya. “Jangan terlalu banyak buat guideline untuk dirimu sendiri. Let it flow.”

Nasihat yang baik dan sangat saya hargai.

Tetapi let it flow nggak ada dalam rencana saya satu atau dua tahun ini. (dan saya berharap kamu berpikir sama).

RESOLUSI TAHUN BARU 2019

Rasanya hidup terlalu singkat untuk dibiarkan mengalir seperti air. Karena saya pun pernah membiarkannya mengalir dan setiap tahun selalu merasa gagal.

Cukup deh! Saya nggak mau merasa gagal terus setiap tahun!

Sehingga saya percaya kita mesti membuat setidaknya beberapa bullet point dari hal yang ingin kita capai atau kerjakan.

Tujuannya sederhana, sebagai reminder untuk tetap mengejar hal-hal tersebut.

Karena pikiran kita ini mudah teralihkan bukan? Apalagi kalo nggak kita atur.

Mengerjakan tugas harian dari kantor saja butuh waktu berjam-jam saat pikiran kita nggak fokus.

Apalagi mengerjakan keinginan tahun baru yang butuh kerja yang lebih keras.

RESOLUSI TAHUN BARU 2019

Kebayang up and down, on and off, yang mesti kita lalui setiap kali pikiran kita kehilangan fokus? Bayangkan deh hal yang sama terjadi pada keinginan-keinginan kita. 😀

Tetapi, di luar sana juga banyak orang yang super intense.

Mereka benar-benar fokus dan terarah.

Sehingga kalo kamu masuk dalam kategori demikian, sebenarnya resolusi tahun baru nggak banyak membantu. Karena peralatan untuk mendukung keinginanmu, sudah ada dalam dirimu sendiri.

Beda ceritanya jika kamu seperti saya yang mudah teralih. Resolusi tahun baru adalah hal wajib.

 

Resolusi tahun baru

RESOLUSI TAHUN BARU 2019

Percaya nggak kalo saya adalah orang freak yang setiap tahun selalu nulisin resolusi tahun baru? Tanpa berhenti sejak tahun 2009, yang artinya 9 lembar resolusi tahun baru yang indah.

Dan tebak, berapa % resolusi tersebut jadi nyata?

Jreng jreng!

Hebatnya adalah dari 9 tahun membuat resolusi, hanya di tahun 2018 saya berhasil capai 50 % dari resolusi tersebut. Sisanya dari pengalaman yang sudah-sudah, 10 % pun nggak nyampai.

RESOLUSI TAHUN BARU 2019

Apakah kamu pernah merasakan hal serupa? Wajarkah hal demikian?

Saya bukain lagi file-file lama, tentang resolusi tahun baru yang indah-indah itu.

Satu hal yang serupa dari setiap tahunnya adalah betapa nggak realistis saya menempatkan diri terhadap resolusi tersebut.

Yang artinya sewaktu nulisin bullet point tersebut saya nggak menempatkan diri saya + upaya = hasil. Saya gunakan mimpi yang terdalam dan terindah untuk dijadikan resolusi tahun baru.

Apakah hal ini wajar?

Saya nggak tahu wajar atau nggak, tetapi saya bisa pastikan kalo menuliskan mimpi sebagai resolusi adalah hal yang nggak normal.

Berekspektasi adalah bagian dari hidup. Menempatkannya terlalu tinggi atau terlalu rendah akan berdampak banyak bagi pikiran kita.

Makanya kita perlu belajar berekspektasi. Yang realistis saja.

There is a certain thing a certain person could do.

Dan menuliskan resolusi tahun baru butuh pandangan realistis. Bukan kita menurunkan standar agar upaya kita sedikit.

Tetapi membuatnya bisa dicapai sewaktu kita memang berupaya. Beda loh.

 

Dreams 

Mimpi adalah kata penuh dampak magis yang mengubah hidup banyak orang.

Kita liatin kisah sukses yang mustahil tetapi nyata. Kita dengerin mimpi yang jadi sama nyatanya. Kita tonton film documentary dari sumber nyata.

Tetapi nggak ada yang bicara jujur mengenai harga yang mesti dibayarkan untuk sebuah mimpi. Kegilaan yang mesti ditanam sewaktu bermimpi.

Saya mengambil sebuah kesimpulan : ‘Berhentilah mengira 120 menit dari film berbasis kisah nyata bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi.’

Karena tangis dengan durasi nggak sampai satu menit nggak bisa menggambarkan sakit yang harus ditahan demi keinginan yang belum tentu bisa kesampaian. Bener nggak?

Mereka di posisi bermimpi sewaktu mengerjakan sesuatu. Mereka di posisi berjudi, karena nggak tahu apa hasil akhirnya.

Dan mereka di posisi berkhayal tentang hal yang masih jauh dari nyata.

Mereka percaya dan yakin. Itulah defenisi dari pemimpi. The dreamer.

Bukan bio di instagram yang ngaku ‘dreamer’ hanya karena dengerin lagu EDM terbaru.

 

Mimpi bukan resolusi tahun baru

Sementara dalam konteks resolusi tahun baru, yang hendak kita kejar adalah hal-hal yang emang dapat dituntaskan.

Semisal banyak orang menuliskan perubahan gaya hidup, berhenti mengkonsumsi alkohol, atau bangun pagi di waktu tertentu.

Dan perubahan-perubahan ini merupakan bagian mimpi dalam jangka panjang, tetapi mimpi itu sendiri nggak bisa kita jadikan resolusi tahunan.

Banyak orang yang berpikir dengan menuliskan hal besar, kita bisa mencapai hal besar. Dan mungkin bagi beberapa orang, hal ini terjadi.

BACA JUGA : KONSEP SMART GOAL

Tetapi kembali lagi, saya lebih suka dengan pendekatan yang realistis. Dan realistis bukan berarti kita sengaja nurunin goal sehingga mudah dicapai.

Karena seperti saya tulis di atas, seringnya sewaktu kita nggak realistis kita nggak menghitung elemen upaya.

Padahal upaya adalah elemen yang mudah dikonversikan.

Dalam contoh paling sederhana, sewaktu beresolusi ingin memiliki body goals maka kita sudah gambarkan berapa kilo berat badan ideal serta proporsi tubuh kita dalam berat tersebut.

Kita menimbang untuk tahu berapa berat saat ini.

Kita lakukan pengurangan sederhana, untuk mengetahui jumlah kilo berat badan yang harus diturunin.

Nah, angka ini kita bagi dengan waktu yang diberikan. Misalnya 10 kilo dalam 12 bulan maka per bulannya 1 kilo.

Kita akan hitung lagi, metode apa yang harus dilakukan agar berat turun.

Seorang nasabah pernah bilang ke saya : ‘Adalah kegilaan saat mengharapkan hasil yang berbeda sewaktu menjalankan proses yang sama.’

Jadi, tentunya kita sudah bisa gambarin diet macam apa atau olahraga macam apa yang secara teratur mesti kita jalani dalam kurun 1 bulan untuk mendapatkan penurunan 1 kilo.

Inilah resolusi.

Jadi sewaktu kita memutuskan untuk menginginkan sesuatu sebagai orang dewasa kita nggak bisa pake pendekatan fairy tale.

Berharap suatu pagi ibu peri datang dan membereskan semua tantangan.

Kita mesti sadar apa tantangannya dan gimana cara melewatinya.

Misalnya nih, kita nggak kepikiran sama sekali, menurut saya mending nggak usah habisin waktu untuk membuat resolusi tahun baru.

Waktunya lebih baik dipake buat nongkrong dan bakar-bakar jagung bersama keluarga, pasangan atau teman.

Jadi sudah tergambarkah apa resolusi tahun baru 2019 kamu?

 

BACA JUGA : 5 KRITERIA CERDAS RESOLUSI TAHUN BARU 2019

Pekanbaru, 9 Desember 2018

PS : #girsliftothergirlsup


Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 9 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

RESOLUS…

oleh Charlina waktu membaca : 5 min
0
%d blogger menyukai ini: