8 PERTANYAAN UMUM SAAT WAWANCARA KERJA

Sedang mencari pekerjaan? Atau sedang deg-degan menunggu jadwal wawancara kerja? Atau sedang menghabiskan waktu nyariin tipe pertanyaan umum saat wawancara kerja?

Kali ini kita akan bahas 8 tipe pertanyaan umum saat wawancara kerja disertai dengan tips & trik untuk menjawab ke-8 pertanyaan itu dengan terstruktur.

Yuk, land our dream job!

Menjual Diri

Satu hal yang saya pahami dari pekerjaan sebagai marketing bank adalah bahwa orang dewasa itu nggak mudah percaya kepada orang asing. Nggak mengejutkan ya?

Setiap kali kita buka mulut, orang-orang akan mempertanyakan apa tujuan kita bicara? Motif ekonomikah? Atau ada yang lain? Dan banyak prasangka yang nggak akan kepikiran oleh kita.

PERTANYAAN UMUM SAAT WAWANCARA KERJA

pict : makeameme.com

Trus, gimana dong agar kita bisa menunjukkan bahwa kita emang tulus, bahwa jawaban dan informasi yang kita berikan memang benar adanya?

Di sinilah yang namanya ilmu menjual diri itu diperlukan.

Jujur apa adanya

Menjual diri itu identik dengan menunjukkan the best version of ourself. Di sini kita mesti bedakan antara pretending to be something we are not dengan mengakui the best version of us.

Kebanyakan perempuan Indonesia susah banget mengakui the very best of us. Kita percaya menjadi humble dan membumi lebih baik daripada jadi orang yang arogan.

Alasan ini yang membuat kita belajar untuk nggak nyombong dan sok kece.

PERTANYAAN UMUM SAAT WAWANCARA KERJA

sumber : memegenerator.net

Namun sewaktu wawancara kerja, sifat inilah yang mesti kita kikis. Karena orang nggak peduli kita ini membumi atau nggak.

Mereka mau tahu kita cocok atau nggak dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya.

Untuk itu, kita mesti berani melepas sosok RENDAH HATI dalam diri dan menggantinya dengan sosok yang percaya diri.

Karena kita akan ngomong jujur kali ini. Kita nggak nyombong. Kita nggak bohong. Kita jawab pertanyaan demi pertanyaan dengan jujur. Jadi kenapa nggak percaya diri?


PERTANYAAN UMUM SAAT WAWANCARA KERJA

 

1. Bisa jelaskan sedikit tentang dirimu?

Setiap kali muncul pertanyaan ini kita mulai kebingungan, apa yang mau dijelaskan ya?

Ada beberapa pewawancara yang emang sudah ahli banget, mereka mengerti gimana caranya untuk mengorek-ngorek informasi dari kita. Berhadapan dengan tipe seperti ini, tugas kita hanya untuk menjawab dengan jujur.

Tapi gimana kalo ketemu dengan pewawancara yang hemat kata? Uhm! Yang hanya mengucapkan sepatah dua kata, dan berharap kita menyambungnya untuk menjadi pidato presiden dekade ini. Gimana?

Di sinilah, kita mesti berani buka mulut untuk berani bicara, dengan catatan :

1. Bicarakan latar belakang profesional yang disertai dengan penjelasan singkat tentang fungsi kerja kita.

Misalnya : Saya adalah staf pembelian di perusahaan XX selama berapa tahun, yang bertugas untuk melakukan deal pembelian sparepart untuk menunjang operasional pabrik. Dalam pekerjaan ini saya banyak bekerjasama dengan perusahaan sparepart besar seperti XX, XX dan XX.

2. Nggak usah ceritakan hobi atau passion yang nggak sejalan dengan pekerjaan yang diincar.

3. Ceritakan kenapa kita bisa melakukan wawancara kerja hari ini.

Saya masih menyukai pekerjaan saat ini, namun karena melihat adanya peluang baru di perusahaan ini, saya bersedia mengambil tantangan tersebut.

Hindari selalu kata coba. Nggak ada orang yang mau ngasih sesuatu untuk orang yang nyoba-nyoba. Buang waktu.

 

2. Apa yang kamu tahu mengenai perusahaan ini?

Percaya nggak sih kalo sekarang dunia ada dalam genggaman kita?

Yup! Tentu saja!

Apa yang kita mau tahu? Apa yang menarik perhatian kita? Apa yang ingin kita dengar? Justifikasi macam apa yang ingin kita temukan di luar sana? Semua ada di dalam satu genggaman.

Modalnya pun murah.

Cuman kuota internet, yang kata salah satu media elektronik : harga kuota internet di Indonesia adalah yang kedua termurah di bawah India. Plus modal lain adalah kedua jempol gemuk di tangan kita.

Sisanya adalah apa yang kita semua sudah tahu.

Ribuan, ratusan ribu hingga jutaan hasil pencarian Google terpampang di depan mata. Semuanya menyediakan informasi yang membantu kita, tinggal dipilah saja.

Jadi, kalo kita emang menginginkan pekerjaan ini, kita pasti sudah mencari tahu segala hal. Mulai dari company profile-nya, berita-berita tentang penghargaan atau isu lainnya, hingga melihat-lihat profile orang HRD-nya di LinkedIn. Bener nggak?

Informasi-informasi kecil kayak gitu yang akan membantu untuk menunjukkan antusiasme kita.

Karena pewawancara mau tahu seberapa siap kita akan momen wawancara kerja ini, seberapa paham kita akan perusahaan yang kita incar dan seberapa kepengen kita untuk gabung di perusahaan tersebut.

Menjawab pertanyaan ini dengan baik adalah cara untuk menunjukkan betapa antusiasnya kita untuk join bersama tim mereka.

1. Perusahaan ini bergerak di bidang XX

2. Perusahaan didirikan sejak tahun XX oleh XX

3. Saat ini fokus usahanya adalah XX

Nggak mesti informasi detil yang kita hapal luar kepala. Cukup potongan-potongan kecil yang bermakna.

 

3. Mengapa kamu melamar pekerjaan di sini?

Di antara banyak pertanyaan dasar, jujur saja ini adalah pertanyaan yang paling bikin saya sebal.

Karena tujuan orang-orang melamar kerja adalah demi gaji dan karir. Kita percaya perusahaan tempat kita melamar kerja bisa memberikan kedua hal itu.

HRD yang sedang bertanya pasti berpikir demikian, sehingga dia masih betah duduk di kursi HRD di perusahaan itu. Jadi, kenapa bertanya?

Pengen rasanya dijawab : karena informasi range gajinya cukup tinggi dibandingkan perusahaan sejenis yang lain.

Tapi tentu saja pewawancara butuh jawaban lain yang lebih meyakinkan, sehingga kita akan menjawabnya dengan :

1. Memberitahu bahwa pekerjaan yang diincar sejalan dengan pengalaman dan pendidikan kita.

2. Memberitahu bahwa perusahaan ini merupakan perusahaan dengan reputasi baik yang sudah dikenal khalayak luas.

3. Antusiasme yang tinggi agar pewawancara tahu bahwa kita serius untuk bekerja dan berkembang bersama perusahaan tersebut.

 

4. Apa kelebihan kamu?

Nah, hayoo!

Seharusnya ini adalah pertanyaan yang mudah dijawab.

Kembali lagi pada cara menjual diri, di sinilah kita mesti berani mengakui diri terbaik kita. Pewawancara ingin tahu skill dan kelebihan lain yang kita miliki. Jadi jangan malu mengakuinya. Tapi jangan juga nyombong!

1. Saya punya kelebihan di bidang xxx

2. Saya pernah ambil kursus  di bidang xxx

3. Saya memiliki pengalaman di bidang xxx selama berapa tahun.

Kalo punya, sekalian perlihatkan portofolio online kita. 

Tunjukkan postingan yang bersifat profesional, misalnya tulisan yang sempat dimuat di media cetak, atau program-program yang berhasil diciptakan dan banyak lagi.

Tunjukkan pada pewawancara bahwa kita adalah sosok yang kompatibel dan memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk pekerjaan ini.

Apa yang dicari melalui pertanyaan ini adalah :

1. Sisi positif yang dapat menjadi tambahan nilai bagi tim perusahaan ;

2. Kemampuan dan pengalaman yang sejalan dengan pekerjaan yang kita incar.

Jadi jangan malu untuk menjual diri setinggi mungkin sewaktu menjawab tentang kelebihan yang kita miliki.

 

5. Apa kekurangan kamu?

Pertanyaan ini sering membuat saya berdebar-debar.

Karena nggak siap untuk share kekurangan saya pada orang asing yang saya nggak kenal. Dan rasanya seperti mengupas kulit bawang. Satu persatu layer tersingkap dan membuat air mata berceceran di lantai.

Tapi gimanapun pertanyaan ini mesti dijawab, karena :

1. Orang yang nggak paham apa kekurangannya berarti nggak mengerti diri sendiri. Siapa yang mau kerja bareng orang seperti itu?

2. Orang yang nggak mau mengakui kekurangannya berarti nggak cukup percaya diri. Siapa yang mau kerja bareng orang yang nggak punya self confidence?

3. Orang yang menjawab ‘kekurangan yang terlalu sempurna’ seperti workaholic atau segala macam berarti dia masih melihat kekurangan sebagai kelebihannya. Siapa yang mau kerja bareng orang se-narsis itu?

Jadi gimana dong menjawabnya?

Kuncinya adalah jawab dengan jujur dan disertai upaya kita untuk memperbaikinya.

Semisal : saya masih bermasalah dengan fokus dan saat ini sedang berusaha untuk nggak melakukan banyak hal di waktu yang bersamaan.

Pewawancara akan nanya lagi nih : “Coba jelasin masalah fokusnya gimana?’

‘Saya masih sering multi tasking, dan sekarang sedang mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan satu per satu, agar beres tepat waktu dan benar’.

Apapun pertanyaan lanjutan dari pewawancara, selalu sisipkan upaya kita untuk melakukan sesuatu atau memperbaiki kekurangan tersebut. 

 

6. Apa pencapaian terbesar kamu?

Percaya dengan saya, begitu ditanyakan pertanyaan ini besar kemungkinan kita akan berpikir keras dan pusing. Apa pencapaian terbesar kita?

Apa ya? Apa ya? Kok nge-blank ya?

Pencapaian terbesar yang ingin diketahui oleh pewawancara adalah gimana dalam karir profesional kita, terdapat masalah yang mampu diselesaikan dan berbalik menjadi prestasi.

Saya paling pusing menjawab pertanyaan satu ini, karena saya bingung sendiri. Apa hal terbesar yang sudah saya capai?

Trik untuk menjawabnya adalah menuliskan beberapa kondisi yang memang membuat kita merasa bangga.

Apakah itu momen dimana pencapaian kinerja kita melebihi target, atau momen dimana bisa goal-in klien besar, atau saat menerima penghargaan-penghargaan dari kantor.

Dari poin itu kita menjelaskan :

1. Kondisi membanggakan dalam karir kita

2. Kesulitan untuk mencapai hal tersebut.

3. Mengapa mampu mencapai hal tersebut?

Sarannya adalah untuk menuliskan beberapa opsi momen pencapaian terbesar ini. Karena kita punya pilihan untuk diceritakan bagi pewawancaranya.

 

7. Dimana kamu lihat dirimu sendiri 5 tahun depan?

Saya melihat diri saya bangun jam 10 pagi dan langsung mencari sarapan pak!

Beberapa tahun yang lalu, sewaktu saya masih muda dan hijau, saya pernah melakukan interview HRD dengan bank swasta terbesar di Indonesia. Pewawancara bertanya banyak hal, hingga pertanyaan ini.

Saya yang masih hijau menjawab dengan jujur dan apa adanya. Saya menjawab bahwa saya ingin memiliki bisnis di sebuah bidang yang nggak berhubungan dengan bank 10 tahun ke depan.

Nggak heran kalo saya nggak dipanggil untuk wawancara lanjutan.

Kenapa? Karena tujuan jangka panjang saya adalah nggak berada di perusahaan tersebut.

Siapa sih yang mau dijadikan bus stop, sebagai tempat persinggahan untuk rute selanjutnya?

Poinnya adalah :

1. Jawab secara umum, semisal saat ini melamar menjadi marketing. Maka 5 tahun ke depan ingin peningkatan karir menjadi manajer.

2. Jangan jawab ‘masih belum saya pikirkan’ atau sejenisnya.

3. Jangan jawab dengan spesifik. Detil adalah untuk kita bukan untuk pewawancara.

Ingat bahwa dalam menjawab pertanyaan wawancara kerja mestilah jujur. Tapi kita pun sudah cukup dewasa untuk paham batasan jujur yang dimaksud.

Kalo goal jangka panjang kita nggak related dengan pekerjaan yang saat ini dilamar, lebih baik nggak usah menjelaskan goal jangka panjang tersebut kepada pewawancara.

BACA JUGA : KONSEP SMART GOAL

 

8. Mengapa kamu meninggalkan pekerjaanmu saat ini?

Saat wawancara untuk pekerjaan kedua dan selanjutnya, akan timbul pertanyaan ini.

Mengapa kita resign dari pekerjaan saat ini?

Jawaban kita akan bervariasi, bisa jadi masalah gaji, bisa jadi masalah jarak tempuh ke kantor atau masalah lainnya.

Nah apapun isu yang kita rasakan dalam pekerjaan saat ini, penting untuk :

1. Nggak menjelek-jelekkan perusahaan yang saat ini

2. Nggak mengobral-obral terlalu banyak sisi positif perusahaan saat ini, kemudian ditambah dengan kata tapi.

‘Bu, gaji saya di sana sudah tinggi banget, pekerjaannya sudah santai banget, tapiiii…’

3. Menjawab dengan jujur dalam koridor profesional.

Misalnya : Saya meninggalkan pekerjaan saya sebagai banker karena saya memiliki passion di bidang menulis dan ingin fokus pada passion tersebut. Di saat bersamaan, saya melihat adanya potensi di perusahaan ini, sehingga saya ingin bergabung dan mengembangkan karir dan passion saya di sini.

Jawab sejujur mungkin sesuai keadaan kita.

 

Tips menjawab 8 pertanyaan umum saat wawancara kerja :

1. Cari tahu banyak soal perusahaan tempat kita melamar kerja

2. Jangan malu untuk stalk media sosial atau situs resmi perusahaan dan key person di dalamnya

3. Baca postingan wartadana kali ini 🙂

4. Tuliskan kemungkinan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Evaluasi jawaban mana yang paling baik dan sesuai untuk pekerjaan yang kamu lamar.

Jangan sesekali WAWANCARA kerja tanpa persiapan. Namanya suicide mission!

5. Mengenakan pakaian yang rapi dan menarik

6. Kunyah permen karet untuk meredakan deg-degan (jangan lupa buang permen karetnya sewaktu dipanggil masuk untuk wawancara)

7. Senyum dan menjabat tangan pewawancara terlebih dahulu

8. KEEP AN EYE CONTACT

9. Tanamkan di kepala bahwa mereka adalah teman untuk membantu kita mendapatkan pekerjaan, bukan sosok momok yang mesti kita takuti (supaya debaran di dalam hatinya berkurang ya)

10. Jujur selalu sama diri sendiri sekaligus tahu batasan jujurnya.

 

Kesemua pertanyaan umum saat wawancara kerja ini bertujuan untuk mengenal karakter kita, menilai kecocokan kita dengan pekerjaan yang akan kita lamar dan dengan budaya perusahaan tersebut.

Kalo sudah best effort, sudah mengeluarkan jawaban yang baik dan jujur, sudah mempersiapkannya dengan sepenuh hati, dan ternyata hasilnya kita nggak jebol, ya jangan berkecil hati.

Nggak semua pekerjaan di luar sana adalah rejeki kita.

Semua wawancara kerja yang belum goal sebagai kerjaan, sedang mempersiapkan kita untuk wawancara goal berikutnya. Karena dengan bicara terus menerus, kemampuan kita bicara akan meningkat.

Jadi, keep up the hope!

Pekanbaru, 30 Juni 2018

PS : #girlsliftothergirlsup

Sumber : BIG INTERVIEW

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!

Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *