NGERASA CUKUP DENGAN DIRI SENDIRI

 

Pernah menonton channel Youtube Sacha Stevenson?

Saya doyan nonton channel tersebut karena bakal ngasih hiburan dan ketawa-ketiwi.

Nah ceritanya sewaktu ngabisin waktu dengan channel tersebut, saya sampai pada vlog berjudul “Teman di Indonesia Kayak Gini Lho.”

COBA DITONTON : SACHA STEVENSON – Teman di Indonesia kayak gini loh

Kalo ada waktu lebih nonton ya! Dengan menonton vlog ini kita akan benar-benar tersadar, ‘Wow, this is happening! And it is totally wrong.’

 

Body shaming

Pernah dengar orang bikin komentar yang sifatnya baik itu positif atau nggak tentang penampilan fisik kita?

Well, I used to hear people telling me ‘how big your butt is’.

Yep. Udah biasa banget, karena tubuh saya itu pear shape yang pastinya akan besar di bokong dan paha bawah.

Pertama mendengar komentar begitu, saya dongkol dan kepengen jadi sama dengan yang lain. Komentar mereka bikin saya pengen jadi kayak orang yang nggak punya p*nt*t besar.

Komentar mereka bikin saya nggak melihat diri saya sendiri sebagai orang yang cantik. I feel ugly inside, and it was bad.

Supaya saya tetap tenang, setelah mendengar komentar soal fisik seperti itu, saya mencoba iba sama orang yang ngomong.

Yang lain sudah evolusi kemana-mana, dan situ masih jalan di tempat dengan otak sebesar ikan (maaf ikan!)

Kalo masih ada orang  yang komentar jelek soal tubuh atau wajah atau penampilan kita, marilah kita kasihani orang tersebut rame-rame.

Karena masih ada manusia purba yang belom ber-evolusi.

 

Hey! I love my body very much.

Saya tahu ini terdengar hipokrit dan munafik. Tentu saja saya masih pengen menurunkan berat beberapa kilo lagi, tentu saja saya masih punya mimpi untuk jadi lebih langsing.

Tapi, kali ini I love my body. Kalopun langsing, gua mau hidup dengan p*nt*t lebar ini. I love my b*tt. I love me.

Ya, saya tahu kedengaran kayak motivator gagal.

Tapi yang mau saya sampaikan di sini adalah saya harus mencintai diri saya sendiri, karena orang lain nggak bisa melakukannya dengan baik.

Saya terima saya, dan saya puas dengan diri gua sendiri, barulah komentar negatif atau penilaian orang lain nggak akan melukai saya lagi.

Saya pernah dengar orang ngejekin orang lain, setelah itu komentar ‘woy, sensitif banget lo!’.

Ugh man, please! Yang benar saja, Anda menghina orang dan kemudian menyalahkan orang itu karena kesal dengan kalimat Anda? Situ waras?

 

Justifikasi ngejekin orang lain

Body shaming itu adalah hal yang sangat buruk. Karena kalo kita nggak percaya bahwa diri kita berharga, buat apa kita hidup?

Saya dilahirkan begini, saya pilih jalan begini, kalo hasilnya juga begini, apa hak kamu untuk berkomentar?

Tapi saya juga sadar kita hidup di Indonesia, hanya satu jenis ‘cantik’ yang diterima.

Kulit putih halus, mata besar, wajah melankolis dan feminine, tubuh Barbie yang langsing, serta menjalankan kodrat sebagai perempuan. Halo! Halo! (sambil melambaikan bendera putih)

Dengan terlahir ‘berbeda’, saya sudah pasti jelek. Dan kalo saya jelek, maka saya boleh diejek, dihina dan dipermalukan. Justifikasi orang-orang ;

–  Gua ledekin biar elu-nya berubah jadi cantik

–  Gua ledekin karena emang lucu.

–  Gua nggak ngeledekin kok, emang fakta kan?

Serasa mau saya kasih lakban mulut itu.

Jujur saja, kita ngejekin orang lain bukan buat orang tersebut. Ngejekin fisik orang lain untuk dijadikan lelucon adalah lelucon kampungan yang ngasih hiburan buat diri kita sendiri.

Seperti ngeliatin mpok Elly di tivi dan ngejekin giginya. Atau baca komentar di Twitter soal babang tamvan.

Apa yang lucu? Kita nggak bisa tertawa keras dengan joke yang cerdas, tapi malah haha-hihi dengan komentar negatif soal tubuh seseorang. Please man, jaman sudah berubah!

 

Confidence is the new beauty!

Setelah berpikir panjang dan super lama, mari bersyukur kalo kita lahir ‘berbeda’.

Karena dengan berbeda dan jadi objek body shaming, kita tahu gimana nggak enaknya dikomentarin soal fisik dan nggak akan memperlakukan orang dengan cara yang sama.

Kalo emang kita nggak bisa nerima orang itu, nggak apa-apa, tapi jangan diejekin.

Ejekan-ejekan seperti itu melukai orang, apalagi kalo diucapkan kepada anak-anak. Luka-luka seperti itu susah sembuh.

Adalah hal yang sulit untuk belajar menghargai diri sendiri apa adanya. Buat saya sendiri, it took almost ten year to actually love my self.

Waktu yang sangat lama untuk nggak pernah puas dengan diri sendiri, 10 tahun?! Yang benar saja.

Dan saya nggak pengen ada teman-teman di luar sana yang merasa nggak senang dengan fisiknya sehingga nggak menghargai diri sendiri.

We are born unique. Embrace it. Own it. Make the best out of it, instead of putting so much more effort into changing to something that we are not.

 

Lantas apa hubungan antara body shaming dengan ngerasa cukup?

Saat kita nggak percaya diri, pasti ada satu hal yang menyebabkannya dan ingin kita ubah. Nah, apa yang mau kita ubah itu akan menjadi fokus hidup kita.

Pernah baca ya cerita soal Donattela Versace, atau lebih ekstrimnya, ‘hasil operasi plastik gagal?’

Kita lihat sendiri kalo mereka jauh lebih cantik apa adanya dibanding setelah operasi, tapi bagi mereka their original is not enough.

Saya nggak bermaksud jadi motivator di sini, no.

Saya hanya mau ngasih dengan bold dan underline : kalo kita udah ngerasa cukup, kita punya kesempatan untuk ‘save a lot of money’.

Karena saya ngerasa apa yang saya punya itu cukup, nggak perlu ditambahin lagi dengan hal-hal lain yang biayanya mahal.

 

Hitungannya begini :

Ngomong remeh ajah, misalnya A lahir dengan rambut keriting yang sering dianggap nggak enarik.

Sesuatu yang sulit banget dihargai di Indonesia, karena rambut keriting disamakan dengan ‘nggak rapi’ dan parahnya identik dengan ‘nggak cantik’.

Sebelum A bisa menyayangi rambutnya sendiri, kamu bayangin, berapa tahun dan berapa banyak uang yang A habiskan untuk ngelurusin rambut ?

Ini hitungannya :

–  Beli hair dryer karena rambut basah nggak boleh langsung dicatok Rp 200-300 ribu.

–  Beli alat catokan ‘terjangkau’ Rp 200-300 ribu

–  Beli vitamin rambut karena sering catokan Rp 50 ribu per bulan

–  Biaya listrik Rp 100.000 per bulan (setiap hari A nyatok)

Investasi awal demi meluruskan rambut saja sudah Rp 400 ribu. Bulanannya A keluar tambahan uang Rp 150 ribu lagi. Setahun saja sudah Rp 1,8 juta loh.

Kebayang nggak kalo A pengen yang lebih ajib lagi?

A pergi smoothing ke salon mahal yang harga sekali gosoknya bisa sampai jutaan dan bertahan paling banter 6 bulan, sebelum rambut A tumbuh panjang lagi.

Ugh, berapa banyak A mau habisin uang buat rambut doang?

Padahal kalo A bisa nerima rambut saya sendiri, Anggak perlu keluar uang sebanyak itu. Modalnya paling shampoo, conditioner plus mouse untuk ngatur rambut. Gitu doang.

Tapi kalo kamu berada di posisi tersebut dan merasa nyaman melakukan hal tersebut, lanjutin saja. Saya dan artikel di sini nggak berhak membuatmu membenci gaya hidup yang sudah dijalani.

 

Still look good without changing who we are

Ya sebagai cewek saya ngerti juga, kita selalu kepengen tampil cantik dan sempurna. Wajar kok.

Yang mau saya garis bawahi di sini adalah sebenarnya cantik itu relatif, tergantung mata yang ngeliat.

Bisa jadi dari 10 orang, 6 ngatain saya cantik sementara 4 lainnya ngatain saya jelek. So what?

Saya keberatan mengubah banyak dari diri saya demi mengubah pandangan 4 orang yang ngatain saya jelek itu.

Dibanding kerja keras untuk dapetin pujian ‘cantik, saya bisa buat ke-10 orang itu menilai saya rapi dan berpenampilan menarik.

Karena untuk tampil rapi dan menarik, yang dibutuhkan adalah usaha dari kita.

Pake baju yang disetrika rapi. Pake baju yang sopan tapi elegan. Rambut dalam keadaan bersih, nggak lepek atau ketombe-an. Memilih pakaian yang cocok untuk di mix-match.

Semuanya bisa saya lakukan tanpa harus mengubah ‘saya’.

Balik lagi ke Donattela Versace. Berapa uang yang harus dia gelontorkan demi bejibun operasi plastik yang hasilnya ‘parah’? Hanya karena dia ngerasa kurang menarik?

Please girls, saya percaya jaman udah berubah.

Ketimbang ngasih kesempatan bagi media dan lingkungan untuk ngubah kita, baik kita habiskan waktu untuk ngubah mindset kita sendiri.

I am totally fine and I don’t need to change who I am, in order for the society to approve me.

 

Ngerasa cukup adalah fondasi yang kokoh untuk save a hell lot of money.

Anyway girls, saya masih sadar kok kalo wartadana punya tema uang dan bank. Saya hanya nyisipin kategori ‘ngerasa cukup’ sebagai side dish-nya.

Tujuannya adalah supaya jadi pengingat buat saya, kalo-kalo nanti saya lupa dan mulai berpikir dengan cara yang sama with the society.

Dan sekaligus ngasih tau ke kamu, kalo ada orang yang masih ngejekin atau body shaming badanmu, it’s not your fault.

Komentar negatif dari orang lain adalah persepsi mereka akan diri mereka sendiri.

Maybe because it is so hard for them to accept that they are stupid, they pick on people and start to body shaming everyone.

Please bantu share kalo kamu ngerasa postingan kali ini bisa menginspirasi perempuan-perempuan lainnya.

And subscribe for more about money and bank. Thanks for visiting wartadana today.

#girlsliftothergirlsup

Pekanbaru, 21 April 2018

listening to Sacha Stevenson – Teman di Indonesia kayak gini loh

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!

Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *