CUMAN KULIT BAYI YANG MULUS, HIDUP KAGAK

Bener nggak?


Pernah ada masa, dimana saya merasa hidup sangatlah buruk. Please God! Enough! Saya berteriak seperti itu kepada Yang di Atas, bertanya kepada Beliau mengapa hidup saya konyol dan mengecewakan?

Sementara sepanjang mata melihat, hidup orang terlihat gampang, terlihat enteng dan terlihat muluss seperti kulit bayi. Dan mata kembali pada tubuh sendiri, melihat bayangan yang terpatut di cermin. Sorot penuh amarah yang membesar oleh dengki. Sosok yang hampir babak belur dihajar kehidupan.

Sah dong, saya berpikir bahwa sebagai korban dari kehidupan yang kejam. Seperti judul artikel di majalah ibu-ibu yang sudah nggak terbit lagi. Gadis muda korban kehidupan yang hendak menyerah pada takdir.

KITA SAMA SAMA SUSAH

sumber : bettermeme.com

Siapa juga yang akan marah kalo saya bermain sebagai korban? Siapa juga yang akan protes dan mengatakan bahwa hidupnya lebih buruk dan bahwa apa yang terjadi pada saya adalah level yang lebih baik daripada yang terjadi kepadanya? Siapa?

Kita yang berlomba susah dalam ucapan

Ngerasa nggak sih demikian? Setiap kali kita bicara pada seseorang, membuka hati pada mereka, membiarkan suara menjelma menjadi kata yang mampu dicerna dan menguraikan setiap bimbang yang menjerat, setiap kali pula akan ada orang yang berada di titik lebih buruk dari kita.

“Duh, bos gua nih, killer banget! Bla bla bla”

“Ya ampun! Elu belum kenal bos gua. Dia jauh lebih killer.”

Okay?, jawab kita dengan anggukan konyol, seperti gerakan otomatis saat bos bicara dan kita harus mengangguk untuk ngasih tahu beliau bahwa kita mendengar.

Manut-manut mengiyakan dan bertanya mengapa kita selalu punya kecenderungan untuk menjadi superior?

Maksudnya wajar dong kalo suatu kali kita berjumpa dengan kenalan lama dan saling pamer siapa yang lebih tajir, tas siapa yang lebih mahal atau mobil siapa yang lebih mewah. Tetapi masa untuk hal-hal susah begini kita masih mau saingan?

Duh!

Tetapi, inilah yang terjadi di lapangan. Setiap orang akan punya kisah sedihnya masing-masing. Setiap orang akan punya momen di mana mereka juga jadi tong sampah. Setiap orang juga akan menangis dalam diam saat berhadapan dengan sesuatu yang nggak bisa mereka terima.

Dan setiap orang yang kita temui punya luka-luka yang nggak tergambar di wajah mereka, tetapi masih basah dalam pikiran.

Semua orang punya kesulitan masing-masing dalam hidup. Everybody struggle with their own problem.

Namun jika dibalik ceritanya, setiap kali orang bicara tentang kesulitan mereka, bagi kita itu pun adalah hal biasa. Sehingga di kesempatan itu pula, setiap duka kita menjadi begitu berat untuk ditanggung. Level susah kita LEBIH BERAT dari mereka.

KITA SAMA SAMA SUSAH

sumber : makeameme.org

Karena kita terlalu spesial bukan?

BACA JUGA : APA SIH HIDUP BIASA BIASA SAJA?

Sama seperti pesanan martabak spesial dengan mentega wijsman dan adonan plus telur. Kita ngerasa kita sangatlah spesial, sehingga setiap KESULITAN yang kita alami terasa demikian intens.

Luar biasa intensnya, hingga kita merasa ‘Apa salah saya yang Maha Pengasih? Mengapa hanya hidup saya yang terasa buruk seperti ini? Mengapa hidup mereka bahagia? Mengapa saya nggak diijinkan untuk mengecap kebahagiaan macam itu?’

Wow! Doa yang intens untuk pribadi yang sama intensnya.

Intensitas hati = hak spesial untuk jadi korban

Topeng bernama korban adalah kegemaran banyak orang. Karena mudah mengenakannnya untuk meraih simpati. Tinggal memoles sedikit kisah dan menjualnya dengan ekspresi terluka.

Saya nggak bisa mencari justifikasi bagi orang yang gemar bermain demikian. Karena emang nggak ada alasan baik yang terpikir untuk dijadikan alasan bagi mereka. Karena emang nggak ada satupun pikiran yang mampu saya temukan untuk membenarkan topeng korban yang mereka pakai dengan bangga.

Maka, saya pun nggak ingin KITA memainkan peran ini.

Menggunakan intensitas perasaan yang memuncak karena terluka sebagai pembenaran untuk menjadi sosok yang teraniaya oleh hidup, adalah hal terkonyol yang mampu orang normal lakukan.

Karena hidup semua orang susah! Karena kita sama sama susah! Karena semua orang terluka!

KITA SAMA SAMA SUSAH

sumber : makeameme.org

Semua orang pernah dimarahi, semua orang pernah dicaci, semua orang pernah ditolak! Sebutkan apa lagi! Semua orang pernah mengalaminya, setiap kesulitan yang memang diciptakan oleh hidup yang usil ini.

Masih ingat dengan doa khusyuk yang kita panjatkan pada Yang Esa? Meminta ini dan itu. Meminta banyak atau sedikit. Meminta bijak atau dangkal.

Berapa persen yang jadi nyata? Berapa persen yang terjadi sebaliknya? Berapa persen yang harus didahului dengan proses memanjat gunung hingga mengayuh sampan kayu menyeberangi sungai ? Berapa persen hal yang demikian pasti tetapi mesti terjadi setelah berputar-putar layaknya ikan mas koki di dalam akuarium?

Kita sama-sama susah kok! Ngaku deh!

Nggak ada orang yang nggak susah. Semua orang punya hidup yang sama buruknya. Semua orang ngerasain setiap penolakan, setiap hinaan dan setiap kekecewaan dalam level yang sama.

Tetapi karena kita begitu sensitif dan demikian spesial, di setiap langkah pertama, kita berpikir bahwa hidup mestilah mulus untuk menjadi bahagia. Hidup semulus kulit bayi yang baru dibedaki.

Dan saat terjadi hal-hal yang nggak menyenangkan, setiap kali terjadi benturan dan gesekan, setiap kali hal yang pasti mengabur menjadi kotak-kotak sensor, kita mulai masuk dalam fase penolakan akan apa sebenarnya hidup.

Salah sendiri, terlalu banyak membaca cerita dongeng untuk percaya bahwa hidup haruslah selalu berakhir sempurna. Salah sendiri dari jaman ke jaman, setiap orang tua percaya kisah Grimm yang original terlalu berbahaya untuk dikisahkan pada putri mereka yang polos.

KITA SAMA SAMA SUSAH

sumber : google.com

Sehingga setiap derita kita jadikan alasan untuk nggak bahagia dan mengutuk hidup. Padahal nih, hidup bukan soal menderita atau bahagia. Hidup bukan perihal siapa yang hidup lebih baik dari orang lain. Hidup juga bukan perihal siapa yang lebih menderita dari orang lain.

No. Life is not about the other. Life is about us.

Hidup itu tentang kita. Hidup itu tentang gimana kita bangun setiap pagi, untuk duduk dan berpikir. Tentang mimpi yang menjauh dan tentang kerja yang menyiksa.

Tetapi terlepas dari kekecewaan yang menumpuk, pernahkah kita mundur? Nggak. Karna dalam hidup nggak tersedia tombol mundur untuk reset.

Hidup juga bukanlah titik dimana karena suatu hal buruk terjadi, bom atom meledak di kota kecil tempat kita tinggal. Hidup nggak berjalan kayak gitu.

Tetapi seringnya kita membuat setiap kesulitan menjadi hiperbola kelas tata surya, membiarkan masalah kecil menjadi besar karena terlalu semrawut di dalam pikiran, dan membiarkan setiap hal yang harusnya kita selesaikan malah jadi sulut sebagai alasan untuk marah dan mengutuk.

Hidup saya kok begini sih? Kenapa nggak bisa mulus-mulus saja?

Dan Seseorang di langit sana memutar bola mata-Nya dengan perasaan nggak percaya. Hei! Pasti Dia ingin memanggil agar kita mendengar. Pasti Dia ingin agar kita diberi kacamata laser yang mampu membaca gelisah setiap orang. Pasti Dia ingin agar kita semua telanjang dalam hati.

Hingga kita akhirnya tersadar bahwa kita nggak spesial amat kok. Hingga akhirnya kita sadar bahwa gelisah kita itu gelisah orang-orang pada umumnya.

Hingga akhirnya kita mengerti bahwa di tempat ini ada milyaran jiwa, hak apa yang kita miliki untuk merasa bahwa hanya kita yang bersusah payah di bawah sinar matahari?

Kita sama sama susah!

Pekanbaru, 24 November 2018

#girlsliftothergirlsup

Dengerin lagu Alexa – Jangan Kau Lepas


Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 9 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: