HIDUP BIASA BIASA SAJA JUGA CUKUP

Living mediocre is enough

#youareenough


 

Beberapa bulan yang lalu, saya melakukan sebuah eksperimen terhadap diri sendiri.

Memulainya dengan menghapus aplikasi instagram dari smartphone.

Dengan tujuan awal untuk berhenti membandingkan diri saya dengan orang lain.

Untuk mencari tahu apakah hidup biasa biasa saja juga cukup?

Kamu tentu paham apa maksud kalimat di atas.

Karena dengan melihat hidup orang lain selama hampir berjam-jam dalam satu hari, kita merasa begitu dekat dengan mereka.

HIDUP BIASA BIASA SAJA JUGA CUKUP

Dengan melihat feed mereka yang indah dan penuh kebahagiaan, kita seperti penonton yang sedang mengagumi artis di layer televisi.

Masih ingat saat hang out bersama dengan teman dekatmu, dan menunjukkan foto seseorang dari instagram kepadanya? Masih ingat saat kamu berkata :

‘Lihat si X, she is really good now. I think her life is perfect.’

Memang sah saja kalo hidupnya memang sempurna. Dan masih sah juga kalo hidup kita masih jauh dari sempurna.

It’s okay to be mediocre. Adalah normal menjadi bukan siapa-siapa.

HIDUP BIASA BIASA SAJA JUGA CUKUP

sumber : memegenerator.net

Walopun kisah hidup para pendiri start up terdengar begitu mudaahhhh.

Dan kita berhalusinasi untuk menciptakan sebuah apps yang dapat menjawab kebutuhan setiap orang di muka bumi.

Hingga akhirnya taraaa, kita menjelma dari orang biasa-biasa saja menjadi the real crazy rich Asian.

Tetapi adalah WAJAR untuk menjadi orang biasa saja.

 

Nah, apa yang saya dapatkan dari eksperimen ini?

Ternyata saya hanya mampu bertahan 3 hari tanpa Instagram, karena saya hanya orang biasa yang butuh hiburan dan perasaan terhubung dengan orang-orang lain.

Tetapi 3 hari tersebut merupakan momen damai yang nggak menggelitik rasa sirik dalam diri.

 

Mencemburui hidup orang lain

Pernah merasakan sedikit tendangan akibat cemburu?

Dan ini bukan cemburu dalam konteks percintaan yang membara.

Yang saya maksud adalah cemburu karena melihat orang mendapatkan lebih dari kita, sementara kita masih begini-begini saja.

Cemburu alias perasaan sirik yang bodoh tetapi nggak mudah kita buang.

You Liked Her Selfie?

sumber : sayingimages.com

Mudah loh merasa sirik akan hidup orang lain, apalagi saat tahu bahwa hidup kita terasa seperti tumpukan sampah yang kita sendiri nggak paham kenapa menjadi seperti itu, atau untuk apa kita tetap hidup dalam kondisi demikian.

Dan lebih mudah lagi untuk sirik pada hidup kenalan yang kita lihat sempurna.

Saat melihat seorang rekan kerja yang berhasil mendapatkan putra konglomerat dan kini hidup di kastil indah yang terlihat oleh kita dalam perjalanan pulang pergi kantor.

Mudah untuk memiliki keinginan agar hidup sama indahnya, agar hidup sama mulusnya dan agar hidup bebas dari kecemburuan karena kitalah objek kecemburuan tersebut.

Tetapi, eksperimen menghapus instagram membuktikan kepada saya bahwa masalahnya bukan pada buruknya efek menggunakan social media dalam diri sendiri, bukan pula bahwa orang lain akan selalu hidup sempurna, bukan juga bahwa kita akan selalu hidup dalam kubangan nestapa.

Bukan semua itu.

Kesadaran baru yang timbul adalah bahwa apapun yang terjadi kita punya kesempatan untuk memilah apa yang hendak kita fokuskan. Yep!

Pay Attenion! You need to focus!

sumber : memegenerator.net “Sadar nggak sih, ini bahkan bukan attention?”

Sama seperti ketika melewati gerai KFC sewaktu hari diet, sementara cheat day masih 3 hari lagi.

Adalah hak kita untuk berhenti di depan gerai KFC, masuk ke dalam antriannya, mengorder seporsi ayam goreng pilihan, entah itu original recipe atau versi crispy dan mengupas kulit ayam yang renyah untuk disisakan di akhir nanti.

Tetapi akankah kita melakukan hal itu?

Siapapun yang pernah melalui proses panjang menurunkan berat badan, yang disertai dengan latihan berjam-jam dimana napas tersengal-sengal dan badan nggak bisa lagi berfungsi karena energi habis untuk gerakan olahraga, akan tahu bahwa ‘bahkan sepotong ayam KFC nggak layak membuat mereka kembali menjalani proses panjang itu dari awal’.

Sama halnya dengan saya yang nggak bisa perintahkan otak untuk berhenti cemburu alias sirik.

Tetapi bisa melakukan satu hal yang ternyata baik untuk kesehatan pikiran saya sendiri.

Memilah hal yang layak dilakukan atau nggak.

 

Nggak harus sempurna untuk menjadi cukup

Marilah mengaku dan berdamai dengan sebuah suara di dalam diri yang menyuruh kita untuk selalu membandingkan diri dengan orang lain yang telah mencapai sesuatu di luar sana.

Marilah menggelar tikar dan duduk, menyeruput kopi hangat atau teh panas, menggigit beberapa potong biskuit kelapa dan mulai berbicara dengan logika.

Marilah bertukar fakta-fakta baru bahwa menjadi biasa adalah anugerah.

Nggak usah mencari jauh ke kliping koran tua atau majalah bisnis ternama atau laman Wikipedia di internet.

Pokemon master? Why not pokemon PHD?

sumber : memegenerator.net

Cukup menengok pada sosok orang tua yang membaktikan setengah dari masa produktifnya bagi kita.

Cukup menengok pada mereka yang saat ini mulai renta tetapi tidak merasa gagal (bertolak belakang dengan apa yang senantiasa kita rasakan).

Mereka nggak perlu rumah semegah kastil untuk merasa cukup.

Mereka juga nggak perlu anak yang memenangkan olimpiade kalkulus untuk merasa cukup.

Pun tidak dibutuhkan pekerjaan luar biasa semacam CEO bank untuk membuat mereka merasa cukup.

Mereka merasa cukup dalam kesadaran bahwa mereka adalah orang biasa.

Sehingga menjalani hidup seperti biasa adalah cukup.

Dan cukup berarti kepuasan bahwa hidup telah dijalani penuh dengan cara mereka sendiri.

Hidup biasa biasa saja juga cukup.

Karakter ini yang nggak kita miliki sebagai anak-anak muda yang besar dengan internet.

Akses mudah pada informasi mendatangkan sebuah tekanan tak terlihat.

Sebuah tali transparan bernama ekspektasi.

Bermodal ekspektasi, nalar mulai dimainkan oleh hati.

Berpikir bahwa kalo orang lain bisa, mestinya saya pun bisa.

Bibit-bibit begini yang akan bikin kita selalu terbangun setiap pagi dengan pikiran ‘saya mau ngapain di hidup ini?

HIDUP BIASA BIASA SAJA JUGA CUKUP

sumber : pinterest.com

Seakan hidup adalah sebuah perkakas dan kita mesti menjadi pisau tajam untuk bermakna di dalamnya.

Padahal hei, bahkan palu penghancur memiliki fungsi besar dalam proses pertukangan.

Dan bahkan batu kerikil biasa pun berperan dalam proses membangun.

Menjadi diri kita sendiri yang nggak mampu, yang nggak ngerti dan yang tidak sempurna adalah hidup.

Nggak bermanfaat seperti setiap filantropis millennials yang diulas majalah jugalah hidup.

Dan menjalaninya dengan penuh tanpa perlu ragu ‘sudahkah saya lakukan yang terbaik?’ atau ‘sudahkah saya mengerahkan seluruh potensi saya untuk hidup ini?’ adalah cara terbaik untuk menghargai hidup.

 

Menghargai hidup = sadar bahwa ia layak untuk dinikmati

Terlepas dari siapa kita saat ini menurut si otak.

Maka, saya berhenti memaksa diri sendiri untuk mengejar hal-hal yang tengah bergejolak dalam hati.

Sama halnya dengan saat berhenti untuk kecewa saat nggak dapetin apa yang saya inginkan.

Dan meminta hati untuk berhenti cemburu saat melihat orang lain mendapat lebih dari saya.

Saya mencoba cara kuno yang ampuh untuk berdamai dengan hati saya. Saya memelas kepada si hati, meminta agar dia bersedia memberi saya rasa damai.

Agar saya masih bisa hidup penuh di momen ini.

Nggak ada cemburu buta tanpa arah, nggak ada rasa marah karna hidup selalu penuh kerikil, nggak ada rasa takut karna saya bukan cenayang dan yang terutama adalah nggak ada pertanyaan ‘akankah saya menyesal di akhir nanti?’

HIDUP BIASA BIASA SAJA JUGA CUKUP

sumber : makeameme.org

Jangan salah artikan proses menikmati hidup dengan pasrah pada hidup.

Ada banyak hal yang memang butuh perjuangan. Dan kita nggak menyerah untuk proses itu.

Tetapi kita memilah apa tujuan kecil kita dalam hidup dan fokus ke sana.

Kita menunjuk sebuah arah, entah itu utara entah itu arah yang kita patri dalam pikiran.

Kita fokus pada langkah-langkah kecil yang membuatnya semakin dekat.

Dibanding membuka laman social media dan melihat foodie mencoba setiap makanan lezat dan mendapatkan uang dari sana, atau melihat beauty influencer mengenakan make up cantik dan dapetin uang juga dari aktivitas itu, marilah sadar bahwa hidup biasa biasa saja juga  cukup.

Menjadi cukup di momen ini adalah cara kita menghargai hidup.

Menikmati setiap momen, kecil atau besar adalah cara untuk menghargai hidup juga.

Dan menjadi diri kita yang masih bingung, masih takut, masih gamang, masih merasa seperti keset kaki di lantai atau masih merasa seperti kambing hitam di keluarga adalah wajar.

Dan kita berhak menikmati hidup terlepas dari ketidaksempurnaan yang kita pajang di kening-kening kita yang berkerut setiap tahunnya.

Hidup biasa biasa saja juga cukup. 

Pekanbaru, 18 November 2018

PS : #girlsliftothergirlsup

Artikel ini diselesaikan dengan mendengar curhat dari adik saya.

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!


Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *