APA DEFENISI SUKSES MENURUT KAMU?

Apa defenisi sukses menurut kamu adalah pertanyaan yang super mainstream yang akan selalu ditanyakan baik oleh seorang HRD atau user sewaktu interview kerja.

Nah, baru-baru ini saya ditanyakan pertanyaan mengenai defenisi sukses dan mendadak blank.

Saya nggak bisa menjawabnya.

Apakah Defenisi Sukses Menurut Kamu?

Terlepas dari lancarnya jari-jari saya mengetik di atas keyboard, rupanya sewaktu hendak menjelaskan perihal sukses, kelu bibir saya.

Saya nggak mampu menjelaskan apa defenisi sukses menurut saya. Kenapa?

Karena saya nggak pernah berpikir mengenai sukses. Kenapa?

Ternyata ada banyak pertanyaan yang mesti kita tanyain kepada diri kita sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan yang nggak perlu nunggu orang lain nanyain dulu ke kita.

Dan salah satu dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sukses.

APA DEFENISI SUKSES MENURUT KAMU

Menariknya kalo ngomongin sukses, siapapun di sekitar kita akan dengan mudah memberi stempel pada teman yang karirnya paling cemerlang sebagai figur yang paling sukses.

Karena sukses kebanyakan hanya dilihat dari siapa yang mengganti mobilnya dengan tipe terbaru, mempunyai rumah milik sendiri, sudah menikahi ‘suami’ idaman atau sudah bekerja di kantor yang bonafide dan penampilannya kinclong selalu.

Nah, apakah semua deskripsi di atas adalah sukses?

Ada 3 aspek yang perlu diperjelas sebelum kita membicarakan perihal sukses.

Ketiga hal ini menjadi dasar bagi kita untuk menentukan nilai sukses yang mau kita anut.

 

1. Nilai-nilai yang kita pegang (Prinsip)

Prinsip adalah fondasi dasar setiap orang.

Saya pernah membaca buku The 7 habits of highly effective teen karya Sean Covey, yang menyebutkan bahwa kita sebagai seorang pribadi mesti memiliki prinsip, sebagai pedoman kita menjalani hidup.

Seorang ‘pribadi’ nggak bisa menjadikan orang lain sebagai pedoman hidupnya, nggak bisa menjadikan keluarga, nggak bisa menjadikan kekasih dan nggak bisa menjadikan uang sebagai dasar hidupnya.

 

Prinsip adalah satu-satunya yang boleh kita jadikan sebagai fondasi, karena prinsip nggak akan mengkhianati kita.

Nilai-nilai yang kita pegang dalam hidup adalah prinsip hidup kita.

Karakter yang kita bangun, gaya hidup yang kita pertahankan hingga cara berpikir yang kita gunakan dalam interaksi sehari-hari adalah prinsip kita.

Berbeda dengan keluarga yang mungkin membuat kita kecewa, atau pasangan yang nantinya membuat dongkol, prinsip nggak akan membuat kita merasakan emosi negatif seperti itu.

Karena prinsip itu sifatnya adalah janji nggak tertulis pada diri kita sendiri.
Mempertahankan prinsip berarti menepati janji pada diri sendiri. 

Sehingga saat kita mampu mempertahankan prinsip kita walopun banyak godaan, kita mampu memaknai kata ‘sukses’.

Nah, coba tanya kepada diri kita masing-masing, prinsip apa yang saya pegang dalam hidup?

– Jujur?

– Memberikan manfaat bagi yang lain?

– Bekerja keras dan cerdas?

– Loyal?

– Atau apa?

Sukses adalah saat kita mampu menjalani hidup tanpa mengkompromikan prinsip yang kita pegang.

 

2. Tujuan hidup kita

Apa tujuan kita hidup?

Masa hanya bangun setiap pagi untuk berangkat kerja?

Masa tujuan kita hanya untuk duduk menghidupkan komputer dan menghitung detik untuk melewati hari?

Masa nggak ada yang kita tunggu di masa depan?

Masa nggak ada sesuatu yang mau kita kejar?

Tujuan hidup adalah salah satu motivasi terbesar, yang membuat orang-orang sanggup melakukan apa saja. 
DEFENISI SUKSES MENURUT KAMU

 

Kita masing-masing lahir dengan keinginan dan kebutuhan yang berbeda.

Saya butuh A, sementara kamu butuh B.

Saya ingin C sementara kamu ingin D.

Tapi apapun itu, tujuan sebagai titik akhir yang mau kita capai mesti kita miliki dahulu.

Saya ngerti memiliki tujuan adalah hal yang mengerikan. Banget!

Menginginkan sesuatu adalah hal yang menyeramkan.

Makanya di luar sana kita sering lihat orang yang nggak berani berharap tinggi karena takut nggak tercapai.

Pernahkah melihat anggota keluarga kita yang ngerasa bahwa hidup itu yang penting cukup makan cukup pakai saja. Banyak kan?

Karena walopun kata mimpi atau tujuan itu terdengar menyenangkan, prosesnya nggak gampang.

Dan kita kepengen yang gampang-gampang dalam hidup.

 

Safety Player

Saya merasa tertampar beberapa hari yang lalu karena seseorang berkata bahwa saya adalah safety player, saya hanya berani maju kalo ngerasa aman.

Saya bukan orang yang berani maju untuk mendobrak dan menciptakan perubahan.

Memang benar, saya orang yang demikian.

Saya maunya main aman.

Tapi mendengar orang mengatakan itu di depan saya terasa menyudutkan sekaligus tertampar keras.

Saya menghabiskan beberapa hari mikir, kenapa gua begitu?

Hingga saya gado-gadoin isi kepala saya dan sampai pada kesimpulan bahwa saya nggak punya tujuan.

Ya! Selain saya ingin agar blog wartadana maju, saya nggak punya terlalu banyak keinginan.

Dan menyadari hal tersebut membuat saya merasa lebih takut lagi.

Seenggaknya lebih baik saya jadi seperti Dijah Yellow yang tahu bahwa dia kepengen jadi artis dan rela hidup dengan muka tebal ngaku-ngaku sudah artis.

Karena dia punya keinginan dan semangat di balik kisahnya yang sering kita tertawakan dan ‘halu’ yang nggak ingin kita tiru.

Ketimbang saya yang nggak punya tujuan.

Di sini, saya nggak bilang semua orang mesti punya tujuan yang banyak dan besar-besar.

Sebenarnya punya keinginan kecil-kecil yang menantang sudah cukup kok.

BACA JUGA : RESOLUSI TAHUN BARU 2019

 

Asalkan tujuan itu benar-benar membuat kita melangkah keluar dari zona nyaman dan ngasih adrenalin tambahan buat kita.

Tapi seenggaknya punya tujuan dulu.

Jadi, apa tujuannya?

Sukses akan datang saat kita memiliki tujuan dan bersedia melakukan apa saja demi tujuan tersebut.

 

3. Aspirasi karir kita ke depan

Sebaik apapun kata karir diucapkan, otak kita akan mengasosiasikannya dengan kata kerja.

Jadi ya, apa aspirasi kerja kita ke depannya?

Okelah, untuk memutuskan tujuan yang ingin kita capai itu terasa personal dan membingungkan.

Tapi kalo karir, kalo kerja yang sudah tiap bulan ngasih kita uang, apakah masih bingung?

Paling gampangnya, hari ini gaji kita UMR, maka aspirasi kita adalah naik gaji di atas UMR.

 

Aspirasi karir lebih mudah kita temukan dan pahami, karena sudah kita jalani.

Serta misalnya kita belum siap berhadapan dengan diri kita sendiri melalui prinsip dan tujuan hidup kita, seenggaknya karir bisa jadi arah yang membantu untuk sementara waktu.

Katakanlah saat ini kerjanya sebagai kasir, masa mau jadi kasir terus?

Nggak kepingin jadi head kasir? Dan demikian ke atasnya.

Kembali lagi kepada poin di tujuan hidup, emang mengerikan dan terasa ‘gila ya elu!’.

Enakan jadi kasir, datang pagi, kerjain kerjaan sampai selesai dan nunggu waktu pulang.

Ya, saya tahu. Enak banget.

Comfort zone, zona nyaman.

Enak banget, nggak mikir banyak.

 

Tapi, apa kita mau dikenal sebagai safety player?

Katakanlah kita punya aspirasi karir yang lebih tinggi satu level saja, kalo gagal emang kita berhenti hidup?

Kalo nggak terwujud emang dunia kiamat? Kagak.

Lantas kenapa nggak memberanikan diri untuk ngimpi dulu?

Ada sebuah quotes dari seorang penulis buku seperti ini :

Dare to dream big, it’s free!

Dan emang benar.

Berani bermimpi tinggi. Gratis kok!

Sukses adalah saat kita mencapai karir selangkah lebih tinggi dari pencapaian kita sebelumnya.

 

Ketiga poin di atas dapat menjadi acuan bagi kita untuk menentukan defenisi sukses yang hendak kita anut.

Seenggaknya kalo mendefenisikan sukses itu terlalu dalam, setidaknya sewaktu ditanyain pertanyaan apa defenisi sukses saat interview kerja, kita punya jawabannya – nggak mengambang tanpa arah.

 

Apa defenisi sukses?

Someone told me that :

Sukses itu komponennya ada 2, yaitu kesempatan dan kesiapan.

Hari ini kamu dapat kesempatan tapi saya lihat bahwa kamu belum siap.

 

Saya nggak kepengin siapapun mendengar hal yang sama.

Karena saya dengerin hal itu di saat yang sama dengan mendengar kalimat bahwa saya adalah safety player. Tamparannya dobel.

Saya percaya kita sebagai perempuan muda jarang mikir panjang soal defenisi sukses.

Kebanyakan kita hidup ngikutin arus dan maunya hidup yang tenang dan damai.

Ya, nggak ada salahnya hidup begitu. Tapi hidup aman yang tenang dan damai itu harganya murah.

Satu hari nanti mungkin kita butuh tambahan uang dan mesti mendobrak habis-habisan pikiran kita untuk nerima hidup yang keras dan mengecewakan.

Hidup yang keras biasanya akan ngasih uang lebih.

Defenisi Sukses Menurut Kamu Apa?

 

Di akhir saya berharap artikel ini membantu untuk ngasih arahan buat mendefenisikan sukses bagi kita bersama.

Please bantu share kalo artikel ini bisa membantu banyak teman dan kenalan kita. Subscribe untuk dapetin info soal uang dan bank dan kerjaan.

Dan terima kasih sudah datang ke wartadana hari ini.

#girlsliftothergirlsup

Pekanbaru, 5 Mei 2018 23.29

Listening to Jason Derulo – Tip Toe

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!

Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *