6 CARA BERTEMAN DENGAN AMARAH

Pernah sangat marah pada dunia? Pernah merasa sangat muak akan hidup kita? Pernah membenci pekerjaan dan semua hal yang terkait dengannya?


Saya sering banget ngerasa demikian,

Nggak ada satu orang pun yang bisa luput dari perasaan-perasaan negatif seperti marah, muak, benci, kesal, menyesal hingga ingin melarikan diri dari hidup yang kita jalani.

Tapi apa bisa kita melarikan diri dari hidup dengan modal satu jentikan jari?

Pernah ada titik dalam hidup, dimana saya benar-benar membenci hidup saya sendiri, berharap hidup cepat selesai, jam kerja di kantor cepat berakhir dan mengutuk diri karena sewaktu pulang dari kantor malah nggak jelas mau ngapain.

Pernah saya nggak mengerti buat apa saya hidup dan terutama adalah apa yang saya kejar. Pernah juga saya sangat marah pada hidup saya dan kemarahan itu membuat saya sulit untuk menjalani hidup dengan maksimal.

6 cara berteman dengan amarah

Dan semakin saya pikir, semakin saya tersesat dalam pikiran-pikiran itu. Semakin saya ingin menyelesaikan amarah tersebut semakin larut saya di dalamnya.

Hal ini menyadarkan saya bahwa amarah itu adalah hal yang sangat berbahaya dalam kehidupan kita. Apalagi marah yang kita pendam dan nggak terselesaikan.

Di sini saya akan share hal-hal yang biasa saya lakukan untuk temanan sama amarah itu.

Hey, actually we can make friends with our anger loh. Berikut adalah 6 cara berteman dengan amarah yang biasa saya coba, check it out…

6 Cara Berteman dengan Amarah

 

1. Jangan dibawa tidur

Amarah adalah satu-satunya hal yang nggak boleh dibawa tidur, dengan anggapan dengan membawanya tidur memberi kita kesempatan untuk istirahat dan memikirkannya kembali esok hari.

Amarah harus selesai di hari yang sama, entah kita selesaikan dengan cara yang baik-baik atau kita lampiaskan pada sesuatu. 6 cara berteman dengan amarah

Salah satu alasan amarah nggak bisa dibawa tidur adalah karena dengan membawa rasa marah dalam tidur, kita membiarkan amarah itu untuk masuk ke dalam alam bawah sadar kita.

Semua hal yang masuk ke diri kita lebih dalam keadaan belum selesai, akan bangkit di kemudian hari.

Jadi, gimana caranya untuk nggak membawa amarah itu hingga tidur? Satu-satunya cara adalah dengan menyelesaikannya.

Di sini kita punya pilihan, masing-masing kita punya pilihan dan berhak memilih cara apa yang kita mau.

Kita mau ambil cara yang messy, melukai banyak orang, membuat kita menyesal di kemudian hari, menurunkan nilai diri kita sendiri?

Atau kita mau pilih cara yang elegant, cara yang nggak menyakiti siapapun, cara yang nggak bikin kita menyesal dan cara yang nggak bikin kita kayak orang yang nggak tamat SD?

 

Cara yang messy

Cara ini paling gampang dikenali, karena biasanya kalo kita marah, mood pasti akan menjadi jelek. Jika mood jelek, semua orang kena getahnya.

Dalam proses bekerja ‘adalah hal yang sangat sulit untuk memisahkan emosi dari pekerjaan dan nggak membawanya pulang ke rumah’.

Duh, suer, susah banget.

Biasanya apapun yang terjadi di kantor, akhirnya kebawa pulang dan bikin kita jadi kayak landak. We hurt people around us.

Bukankah ironi banget bekerja untuk menyenangkan keluarga tapi dalam prosesnya karena pekerjaan itu justru kita menyakiti keluarga kita sendiri?

That kind of life is not worth living. Antara kita buang kerjaan tersebut atau kita mesti buang amarah tersebut.

Sebisa mungkin hindari opsi ini.

Kalopun saya marah sampai nggak bisa tertahankan lagi, saya akan kabur. Saya keluar dulu kemana, menghilang dulu kemana, nyari waktu buat mikir sendiri.

In solitude we find a different kind of peace, and that peace brings us our mind back.

Kalo sudah tenang, pikiran jernih, barulah muncul kembali.

 

Cara yang elegant

Cara terbaik yang benar-benar sulit untuk kita terapkan setiap saat.

Woi, gua lagi marah banget, gimana bisa lu suruh gua tenang?

Ya, pengennya nggak usah ngomel-ngomel lagi, nggak usah marah-marah lagi, udah bawa santai aja, ngomongnya baik-baik aja. Tapi memang susah banget.

Cara yang elegant ini butuh kontrol diri yang tinggi. Hanya orang yang benar-benar dewasa yang benar-benar mampu mengontrol dirinya yang mampu melakukan hal ini.

Kalopun kita belum sampai ke tahap itu, kita masih bisa mempelajari gimana caranya.

Teknik setiap orang pasti beda, tapi intinya adalah dengan cara yang elegant ini, nggak akan banyak hati yang berceceran di lantai.

 

2. Tuliskan saja dan bakar atau koyak

Cara ini adalah cara yang paling banyak dituliskan di buku-buku self help ya.

Banyak aliran di luar sana yang bilang kalo we as a person should write a journal. Sebagai media untuk lebih mengenal diri sendiri.

Nah, sama seperti proses menjurnal hidup, amarah itu baiknya kita tuliskan ke dalam secarik kertas untuk kemudian dibuang.

Tulisan-tulisan tentang amarah jangan disimpan karena kalo ke depannya dibaca pasti akan membangkitkan emosi lama. Mengungkit-ngungkit hal buruk bukanlah hal yang bermanfaat juga.

Dengan menuliskan masalah tersebut kitabisa jujur pada diri sendiri.

Kadang ya kita sebal karena A, tapi belum tentu hanya A penyebabnya. Kalo digali-gali dan jujur barulah kita paham bahwa B adalah penyebab sebenarnya.

Dengan mengenali sebab amarah, kita lebih gampang menyelesaikannya.

Dan menuliskan amarah kita itu adalah trik yang magical.

 

Amarah mesti selesai

Setiap saya benar-benar marah, setelah saya tulis dan buang, amarah saya jauh berkurang.

Saya seperti jadi papan tulis yang habis dihapus, bersih. Setelah itu saya mampu berpikir lebih jernih, nggak moody lagi seperti sebelumnya dan pikiran jernih itu membuat saya bisa fokus pada hal lain yang lebih penting.6 cara berteman dengan amarah

Pernah sewaktu muda, saya marah banget sama seseorang. Amarah itu bikin saya marah sampai berminggu-minggu dan isi otak saya hanya orang tersebut.

Duh, kalo dipikir sekarang bodoh banget.

Tapi, waktu itu, dengan kusutnya pikiran saya, dengan kabut-kabut amarah, maka memikirkan orang tersebut adalah satu-satunya hal yang masuk akal.

Bahkan puncaknya adalah suatu malam saya nggak bisa tidur karena saking marahnya.

Ya, dalam proses nggak bisa tidur itu saya sampai pada satu pengertian baru.

Betapa bodohnya saya menghabiskan waktu saya untuk memikirkan orang tersebut tengah malam, sementara dia di atas tempat tidurnya sudah pulas, nyenyak tanpa beban. See?

Percayalah amarah harus selesai.

One way or another, it should be finished.  No excuse.

Salah satu cara paling cepat untuk menyelesaikannya  bagi saya adalah dengan menuliskan amarah itu dan membuangnya jauh. Coba deh sesekali, karena cara ini sangat ampuh.

 

3. Olahraga

Ini adalah hal yang sering saya lakukan kalo lagi marah. Rasanya lompat-lompat olahraga kayak lagi mijak-mijak sumber masalah saya. Benaran loh, who cares?

Berbeda dengan aktivitas fisik lainnya, olahraga bikin fokus kita teralihkan.

Kalo melakukan aktivitas fisik lain, semisal beresin rumah, badan itu otomatis kerja sementara pikiran jalan terus. Otak mikir terus soal A-B-C hingga ZX.

6 cara berteman dengan amarah

pexels.com

Tapi kalo olahraga, fokus kita kembali pada proses berhitung di setiap gerakannya.

Misalnya mau squat 10 kali, pikiran kita itu isinya hanya angka 1-10, hanya tentang menurunkan badan hingga sejajar dengan kaki, hanya tentang mengunci otot-otot di badan.

Pikiran kita nggak lari kemana-mana dan lebih tenang.

Kita nggak bisa dalam keadaan panas sewaktu mau mengambil keputusan – terutama yang sifatnya krusial.

Kita mesti dingin sejenak, untuk clear, untuk paham, untuk jernih, dan barulah mengambil keputusan tersebut.

Sama kayak pas marah, kita nggak bisa membuat keputusan dengan amarah di dalam kepala kita. Karena berpikir ditemani amarah adalah hal yang sangat buruk.

Dengan olahraga, kita ngasih stopper buat amarah tersebut. Kita ngasih pengalihan bagi amarah kita.

Ohya, olahraga juga ngerilis hormon bahagia, makanya kalo orang habis olahraga bawaannya happy loh. Kalo kita habis olahraga dan ngrusuk, pasti ada yang nggak tepat dalam proses olahraga kita.

Selain merilis hormon bahagia, olahraga bikin jantung bekerja dan darah jalan dengan lancar ke wajah sehingga kita jadi awet muda juga.

Rupanya olahraga waktu marah itu manfaatnya bejibun ya, 😀

 

4. Share ke teman atau keluarga yang kamu dapat percaya

Sama kayak dituliskan ke kertas, share amarah adalah cara yang baik.

Makanya kalo lagi butek baiknya nggak usah sendiri. Cari teman lama, ngobrol santai dan curhat. Atau share dengan keluarga dekat.

Intinya adalah amarah itu nggak kita pendam sendiri.

Cuman sharing itu mesti benar-benar ke orang yang kita bisa percaya. Jangan share ke orang yang mulutnya bocor.

Buat apa? Karena kalo orang nggak cukup dewasa, besok-besok curhat kita diungkit lagi, atau jeleknya malah tersebar kemana-mana.

Marah gua udah ilang, tapi beritanya masih beredar dimana-mana. Cape deh!

Jadi, pilih orang yang benar-benar akan tutup mulut. Orang yang nggak akan jadikan kita sebagai bahan pembuka untuk ngobrol sama orang lain.

Misalnya saya temanan dengan A, dan A kepengen temanan dengan Z yang glamor itu. Kalo saya lagi ada masalah, saya adalah objek paling bagus bagi A untuk dekat dengan Z, apalagi kalo saya curhat all out sama dia.

A ke Z : Hey, kamu dengar nggak si C begini-gini?

Z ke A : What? Really? How come? Coba dong ceritain ke gua, kok bisa?

dan mengalirlah curhat saya yang bak air terjun itu.

Seperti kata orang tua, bijaklah dalam memilih teman, karena kita itu gampang banget meniru siapapun di sekitar kita. Baiknya tentu we imitate a better person, ya?

 

5. Berdoa untuk ikhlas dan bersyukur

Ini adalah teknik dewa, karena butuh rasa percaya yang tinggi kepada Yang Maha Kuasa untuk mampu melakukannya.

Tapi ikhlas dan bersyukur adalah duo kombinasi yang mematikan amarah dengan cepat.

Dan sekaligus sulit untuk dilakukan. Amarah kita biasa timbul karena hal yang benar-benar besar dan nggak mampu kita ubah. Maka saya percaya berdoa adalah jawaban yang tepat.

I think God loves us enough to give us exactly what we need, when we really need it.

Jadi, dengan berdoa kita bisa share pada Tuhan yang nggak akan betrayed us. Tenang kan rasanya setelah berdoa?

Apapun agama yang kita anut, kita punya sesosok figur yang menjadi Tuhan, even sebutannya beda-beda antara satu kepercayaan dengan kepercayaan lainnya.

Dengan berdoa kita udah ngasih kuasa dan ikhlas bagi Yang Esa tersebut untuk ngasih yang terbaik buat kita menurut-Nya.

 

6. Memaafkan

Ugh, another level dewa. Ya, memaafkan adalah pekerjaan paling mulia di dunia.

How come you forgive people whom once brought you sorrow and anger?6 cara berteman dengan amarah

Ini adalah tahap tertinggi yang memang sulit sekali untuk dipahami, jauh-jauh untuk kita lakukan.

Tapi kalo mampu melakukan level ini, marah itu nggak pernah datang lagi. Karena kita sudah legowo, kita sudah ikhlas, kita sudah memaafkan.

Mungkin nggak banyak orang yang bisa kita maafkan, and that’s okay. Mungkin untuk beberapa orang kita butuh waktu puluhan tahun untuk memaafkannya and that’s okay too.

Ada juga orang yang nggak pengen kita maafkan and that’s okay too.

Tapi selagi masih bisa, mencoba untuk memaafkan harus dilakukan karena by forgiving people you choose to let go of all of the past between you too. Nothing there, no anger, no feeling.

———————————

Di antara beberapa cara di atas, semoga mampu membantu untuk mengurangi sedikit beban yang memberati hati.

Kalo emang membantu, bantu komentar dong di bawah ini. Subscribe juga ke wartadana yah.

Dan bantu share kalo artikel ini dirasa bermanfaat dan bisa membantu teman-teman favorit kita.

#girlsliftothergirlsup

Pekanbaru, 20 Maret 2018

listening to the greatest showman – this is me

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!


Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *