5 KRITERIA CERDAS RESOLUSI TAHUN BARU 2019

Seminggu sebelum tahun baru dan seminggu setelah tahun baru (01 Januari) seringnya menjadi hari-hari yang mendung-mendung gimana gitu.

Karena pikiran kita tengah sedih memikirkan setahun yang sudah berlalu (yang rasanya tanpa hasil dan pencapaian apapun),

Setengahnya lagi pikiran kita khawatir memikirkan setahun yang akan datang.

Hari-hari baru bukan berarti hari-hari yang baik, demikian kata si pesimis di otak.

Hujan yang datang dengan petirnya nggak juga bikin kita merasa baikan.

Karena awal tahun yang selow sudah berubah menjadi roller coster tanpa suara yang mengantarkan kita pada detik-detik menjelang pergantian tahun.

Adakah yang merasakan hal serupa?

 

Resolusi yang selalu menjadi resolusi

Seperti saya tulis di sini, saya termasuk tipikal freak yang setiap tahun selalu membuat resolusi tahun baru.

Resolusi tahun baru-nya  pun beragam, mulai dari aspek karakter, aspek hidup pribadi, aspek penghasilan dan banyak lagi.

Setiap tahun, saya pikir hampir usang setiap poin yang di tulis, itu-itu saja yang terpikir.

Bosan, sekaligus mengecewakan. Buat apa berencana kalo nggak bisa dikerjain?

KRITERIA CERDAS RESOLUSI TAHUN BARU

sumber : memegenerator.net

Kesadaran ini melekat dengan kenyataan bahwa saya nggak juga tambah muda dan nggak juga tambah happy.

Saya nggak mau lagi menulis poin konyol yang nggak terjangkau dan menimbun amarah pada diri sendiri. Saya ingin setidaknya ada bagian dari resolusi itu yang terjadi.

Saya nggak mau jadi gadis muda naïf yang berpikir dengan kerja keras saya bisa menggenggam dunia.

Karena untuk kerja keras saja, otak malas banget bekerja sama.

Butuh pemanasan luar biasa untuk bikin si otak panas dan mau jalan.

Karena….

 

Melarikan diri kepada hiburan lebih mudah

Ya nggak?

Contoh paling mudah adalah sewaktu malam hari menjelang tidur. Semua orang tahu smartphone itu adiktif dan membuat waktu tidur berkurang.

Tetapi siapa yang cukup kuat untuk meletakkan smartphone di luar kamar dan fokus tidur?

HA HA! Not me!

Karena keseharian kita itu penuh masalah (terutama drama kantor yang nggak ada habis-habisnya).

Dan karena sebagai perempuan kita sering baper untuk hal-hal nggak penting dan ngabisin waktu mikirin hal-hal yang sama nggak pentingnya.

Guna melarikan diri dari frustasi sejenis, smartphone menawarkan hiburan instan.

Kita bisa baca novel cinta online, kita bisa tonton film horor online, kita bisa main game online dan kita bahkan bisa chat-chat tanpa arah dengan bule-bule cakep di dating site.

Dan semakin sering kita melarikan diri pada hiburan-hiburan instan ini, semakin pintar otak kita melakukan fungsi auto pilot-nya.

Ngerasa nggak, begitu diam tanpa kegiatan, hal pertama yang kita ambil adalah smartphone.

Ikon pertama yang kita klik kebanyakan adalah messaging atau instagram atau facebook. Otomatis banget!

Jadi???

Kesimpulannya adalah balik ke kita lagi.

 

Inginkah kamu melakukan sesuatu di 2019?

Misalnya jawabanmu adalah tidak, skip artikel ini. Mending lakukan hal lain yang membuat hatimu senang, semisal tidur siang.

Tetapi jika jawabanmu adalah iya, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.

Karena kalo kita nggak bisa fokusin energi pada hal yang kita inginkan, mending nggak punya keinginan sekalian.

 

Jadi apa keinginanmu?

Awalnya saya percaya keinginan adalah landasan segala hal. Bahasa kecenya passion. Hasrat hati.

Tetapi terjadi sesuatu dalam beberapa bulan ini yang mengubah cara pikir saya.

Mudah untuk memupuk karakter romantis yang berjuang mengejar mimpi.

Tetapi, marilah realistis dan sadar kalo bahan bakar hidup adalah penghasilan.
KRITERIA CERDAS RESOLUSI TAHUN BARU

Dan jika pekerjaanmu saat ini bisa ngasih penghasilan yang memadai, bisa ngasih jenjang karir yang baik di masa depan, bisa ngasih kesempatan untuk belajar banyak dan yang terutama adalah bisa membuatmu merasa baik dan buruk (naik turun), maka passion-mu bisa dikesampingkan dahulu.

Karena di akhir hari, kita tetap butuh uang untuk setiap hal.

Perempuan boleh jadi pribadi yang baik tapi nggak boleh naïf!

 

Gimana menggali keinginan hati dengan jujur?

Kembali pada topik keinginan, untuk tahu apa keinginan terdalam biasanya saya tanyakan 3 pertanyaan berikut :

1.  Apa yang membuatmu merasa paling bangga sepanjang tahun ini?

Dalam beberapa hal, hidup emang membosankan. Boringly amazing.

Sehingga seringkali kita nggak sadar akan kontribusi besar yang sudah kita lakukan yang ternyata mendatangkan sedikit kegembiraan di hati.

Menurut saya kita perlu gali hal-hal yang membuat bangga, karena mereka nggak datang begitu saja.

Butuh usaha untuk menyelesaikannya.

 

2.  Apa aktifitas remeh yang sedari dulu selalu ingin kamu lakukan?

Tetapi kamu nggak pernah punya waktu atau cukup motivasi untuk melakukannya?

Come on! Jangan bingung! Jujur saja!

There is something.

 

3.  Apa hal yang sudah setengah jalan kamu lakukan sepanjang tahun ini?

Mudah membuat keinginan yang benar-benar baru. Brand new goal.

Tetapi kalo ada sesuatu yang sudah setengah jalan, yang sudah kamu upayakan sebelumnya, yukk dilanjutin.

Agar effort yang sudah keluar nggak sia-sia.

Apapun jawabanmu, bisa jadi merupakan keinginan yang patut diupayakan di 2019.

 

Jadi, apa  saja 5 kriteria cerdas resolusi tahun baru 2019?

 

Fokus

Fokus artinya benar-benar meng-highlight poin-poin yang ingin kita kerjakan.

Gimana kita bisa memahami apa arah fokus kita?

Balik ke tulisan di atas terkait menggali keinginan terdalam diri kita. Yang penting kita menjawabnya dengan jujur.

Setelah tahu, buat bullet point terkait keinginan tersebut.

Yang penting adalah membuat tujuan menjadi kerucut kecil yang bisa dicapai setelah mengerjakan setiap layer-layer besarnya.

 

Jangan banyak maunya

Banyak banget orang punya resolusi tahun baru yang sepanjang kertas double folio.

Duh! Yang panjang itu to do list mbak, kalo resolusi mah cukup beberapa poin saja.

Karena kebanyakan resolusi nggak membantu otak kita.

Ini berlaku bagi orang-orang yang mengerti apa yang dia mau dan menyadari bahwa ternyata keinginannya banyak sekali.

Sehingga yang harus dilakukan adalah memilah apa yang paling penting. Karena resolusi tahun baru itu diharapkan selesai dalam tempo 1 tahun.

Jadi kita ngasih diri sendiri spare time untuk melakukan hal-hal lainnya di tahun depan.

No No! jangan kebanyakan!

Masa kita bisa menunda banyak hal dengan pertimbangan bahwa besok masih bisa dikerjakan, sementara untuk resolusi harus digegas seakan tahun depan bakalan berpindah dunia -.-?

 

Realistis

Salah satu kriteria wajib yang seringkali terabaikan.

Terutama dalam keseharian kita, dimana ekspektasinya kita mengerjakan banyak tanpa menghitung elemen istirahat atau jeda untuk memenuhi kebutuhan lain kita.

Contoh sederhana : siapa yang sewaktu memperpanjang paket gym bulanannya berpikir untuk olahraga 5-7 hari seminggu?

Agar badan cepat bagus dan agar uang yang dibayarkan menjadi maksimal?

Padahal kan kita butuh waktu dengan keluarga, waktu dengan teman, spare time untuk nyantai-nyantai serta me time.

Hal yang sama berlaku bagi resolusi tahunan kita.

Jangan maksa bikin resolusi dengan kali-kali maksimal.

Misalnya resolusi tahunan nabung 10 juta dengan gaji 2,5 juta dan kebutuhan hidup wajib 1,5 juta.

Secara hitungan kita bisa nabung 10 juta, karena ada spare 1 juta bulanan. Tetapi itu kan hitungan di atas kertas.

Kasih cadangan 50 %, karena menyenangkan diri sendiri di waktu ini juga penting. Dan untuk berjaga saat ada kebutuhan dadakan yang urgent.

 

Aspek finansial wajib dipertimbangkan!

Aspek keuangan wajib masuk dalam resolusi tahunan kita.

Karena kita perlu upgrade nilai tabungan, kita perlu upgrade nilai aset dan yang terpenting adalah kita perlu upgrade nilai penghasilan rutin kita.

Sekedar sharing ya : Saya nggak pernah mikir mengenai aspek finansial, sampai di akhir bulan kemarin sewaktu ditawari perusahaan lain dan ditanyain expected salary.

Kebingungan saya.

Angka berapa?

Sebulan setelahnya, barulah saya mikir berapa angka ideal saya di tahun depan.

Angka penghasilan demi menabung maksimal dan menikmati hidup dengan maksimal.

Bodohnya adalah expected salary yang saya minta itu disetujui oleh pihak pemberi kerja, padahal saya mintanya dibawah angka ideal.

Duh! Coba kalo saya sudah mikirin angka ideal ini di awal!

Jadi selalu tentukan angka finansial yang kita inginkan. Kalo soal uang, minta lebih baik.

 

Mengerti upaya yang mesti dikeluarkan

Semua orang mengerti bahwa pengorbanan adalah mutlak. Tapi tak jarang yang pamrih akan pengorbanannya.

Jadi kita berpikir dengan upaya keras, hasil akan selalu baik. Padahal yang benar adalah upaya maksimal dan menyerahkan ke Yang di Atas.

Saya bukan orang yang religius, tetapi saya sadar banget kalo kita nggak bisa dapatin semua hal.

Bahkan setelah kita usaha luar biasa, belum tentu keinginan kita bisa terwujud.

Sederhananya juga bukan karena kita nggak layak mendapatkannya.

Bisa jadi kita mikir dalam tempurung kecil, sehingga apa yang kita inginkan sebenarnya nggak sejalan dengan nilai diri kita secara general.

Atau bahasa pasarnya : mungkin itu bukanlah yang terbaik bagi kita.

Tetapi hal itu nggak harus menjadi alasan kita nggak berupaya.

Karena upaya itu sifatnya ikhlas.

 

PRO TIP

Rumus orang dewasa yang sering saya lihat dipraktikkan oleh teman-teman yang sedang mengejar sesuatu adalah :

FAKE IT TILL YOU MAKE IT

Banyak gol keliatan masih jauh dari harapan? Nggak masalah. Biarin aja!

Nggak ada yang tahu selain diri kita sendiri. Jadi fake it!

Kenapa?

Karena kita juga mesti me-maintain citra diri di luar sana. Jangan sesekali play small when you want to play big. 

Jadi jangan menampilkan sikap rendah diri kalo kita masih mau dapetin peluang besar di luar sana.

We can fake it like we make it.

 

Demikian sharing kali ini terkait resolusi tahun baru.

Artikel ini sengaja dikejar sebelum tahun baru, agar kita bisa manfaatkan di awal tahun nanti.

Terima kasih ya sudah datang ke wartadana hari ini.

 

Pekanbaru, 16 Desember 2018

ps : #girlsliftothergirlsup

Dengerin my top 100 playlist di spotify. New Light by abang John di urutan no 1 😀

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!

Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *