5 Alasan Investor Pemula Wajib Hindari Investasi Peer to Peer

Hindari Investasi Peer to Peer adalah topik yang hendak dibahas kali ini. Mengapa?


Hampir ½ tahun saya menggunakan pembiayaan peer to peer sebagai media investasi dan dari pengalaman tersebut inilah yang saya ingin sampaikan .

No bullshit. No tipu-tipu. Hanya logika dan hitungan bodoh yang saya pake setiap waktunya.

Disclaimer : Artikel ini bukan untuk menjelekkan pihak manapun. Saya buat artikel ini untuk investor-investor kelas teri seperti saya dan teman-teman (not that I meant it).

Buat investor yang sudah pengalaman dan make a good money dari investasi peer to peer, go on!

Tapi buat kamu yang baru tertarik, please baca artikel ini sampai selesai. Kalo nanti kamu tetap ingin berinvestasi, seenggaknya kamu sudah memahami mekanismenya. Setuju?

 

Apa sih Peer to Peer itu?

Seiring dengan perkembangan teknologi yang seringnya nggak mampu dikejar oleh institusi resmi seperti perbankan, muncullah sesuatu yang namanya Fin Tech. Financial Technology.

Financial technology merupakan improvisasi oleh perusahaan rintisan yang membuat jasa-jasa finansial di luar bank.

Jadi semisal dulunya kita hanya bisa transfer uang jika sudah memiliki rekening bank, kini ada jasa perusahaan non bank yang memungkinkan kita untuk transfer uang tanpa memiliki rekening bank.

Canggih? Banget!

Nggak hanya berhenti di sana, kini peran bank sebagai lembaga yang terasosiasi di pikiran setiap kali menyinggung perkara uang, berganti haluan. Nggak perlu bank lagi untuk transaksi keuangan, sama seperti nggak perlu kartu debet lagi untuk bayar makanan.

Mending Ketinggalan Dompet atau HP?

sumber me.me

Makanya bermunculan meme begini di internet, yang dengan tepat menggambarkan tingginya ketergantungan kita pada aplikasi fintech yang ter-install di smartphone.

Betapa canggih perkembangan teknologi membimbing kita. Hanya tinggal tap and done! Tinggal klik layar smartphone and done! Tanpa kita sadari, inilah fin-tech. Inilah kecanggihan teknologi yang merambah lini finansial.

Trus apa hubungannya dengan peer to peer?

Seperti tadi udah disebutin, teknologi menciptakan hal-hal baru di bidang finansial, termasuk dalam hal pinjaman.

Peer to peer sendiri secara hararfiah artinya adalah dari ujung ke ujung. Yang berarti tersambung dari satu objek ke objek lainnya.

Dalam laman ini disebutkan bahwa investasi peer to peer adalah skema investasi dengan pemberian hutang secara langsung kepada pihak peminjam, tanpa ada institusi keuangan yang menengahinya.

Coba lihat chart berikut :

 

Peer to Peer Kredit

sumber : www.corporatefinanceinstitute.com

Dalam skema investasi peer to peer, kita sebagai investor dihubungkan oleh perusahaan kepada peminjam.

Sebagai investor, dana akan diberikan balas jasa berupa bunga. Sementara sebagai peminjam, dana akan dikenakan bunga.

Peran perusahaan hanyalah untuk menghubungkan kedua belah pihak dan mengutip fee dari kedua belah pihak.

Sehingga secara sederhana, investasi peer to peer adalah skema investasi dimana kita menjadi bank kecil-kecilan.

 

Model Investasi Peer to Peer Gimana?

Mudah banget. Hanya ada 3 komponen dari model investasi ini, yaitu :

1.  Perusahaan Penyedia Jasa

Berupa platform yang kita pilih untuk menyalurkan dana kita. Dan silahkan ketik di mesin pencari, apa saja perusahaan penyedia layanan peer to peer di Indonesia.

Peran mereka adalah membangun sistem, menentukan tarif, membuat scoring pinjaman hingga mencari calon-calon Debitur.

Yang mereka dapatkan dari setiap kali transaksi adalah fee yang tarifnya bervariasi.

2.  Investor

Adalah orang-orang yang hendak menempatkan dananya untuk dipinjamkan ke pihak ketiga. Dalam hal ini, sebagai balas jasa dari dana tersebut, investor akan diberikan bunga pinjaman.

Bunga ini bervariasi tergantung grading dari calon peminjam serta jangka waktu pinjaman.

Rata-rata saya lihat rate-nya kisaran 14-20 %.

3.  Peminjam

Adalah calon Debitur yang membutuhkan pendanaan untuk usahanya. Kebanyakan layanan peer to peer masih membiayai fasilitas tanpa jaminan sehingga banyak diincar oleh pengusaha.

Secara prinsip, peer to peer merupakan model bisnis yang baik, karena pengusaha diberi kemudahan untuk meminjam modal tanpa jaminan dan bunga yang rate-nya sedang-sedang saja.

Secara nggak langsung, investorpun turut serta dalam memajukan perekonomian rakyat. Tapi itu kalo ekonominya lagi bagus yaaa.

Ohya, peer to peer disebut juga P2P ya.

 

Kok Banyak Pihak Promoin Model Investasi Begini?

Pertanyaan ini juga muncul di saya. Kenapa iklannya muncul dengan gesit di layar smartphone saya? Kenapa ada youtuber yang dengan pede ngomong kalo uangnya ditempatin di investasi model begini?

Kenapa teman saya yang doyan investasi juga menyarankan hal yang sama?

Satu-satunya jawaban yang tersedia adalah karena rate bunga yang lebih tinggi dari deposito.

Saya setuju banget. Rate-nya memang lebih tinggi. Tetapi jika kita bandingkan dengan risikonya, saya pikir nggak tepat bagi pemula untuk mengambil opsi ini.

 

Alur Investasi Peer to Peer

1.  Membuka akun di platform yang kita pilih

Silahkan pilih (hanya jika tertarik untuk berinvestasi) dari beberapa platform yang sudah mengantongi ijin dari OJK. Saya jamin pembukaan akun gampang, karena memang itu keunggulan fintech.

Siapkan data basic seperti KTP dan NPWP dan mulailah mengisi dengan tepat form aplikasinya.

2.  Menyetorkan dana investasi

Beberapa perusahaan fintech sudah bekerjasama dengan bank untuk pembukaan akun virtual. Jadi kita tinggal menyetorkan dana atau transfer ke rekening virtual tersebut.

Jika diperlukan, silahkan verifikasi nominal setoran dengan angka yang masuk ke dalam saldo peer to peer kita.

3.  Memilih Pinjaman

Menurut saya inilah bagian tricky-nya. Karena kita nggak punya informasi yang memadai tentang si peminjam. Bahasa kasarnya kita sedang bertaruh dengan masa depan.

Sulit sekali menilai kemampuan membayar peminjam hanya berdasarkan bunga yang ditawarkan, jangka waktunya hingga score calon Debitur tersebut.

4. Checkout Pinjaman

Setelah menemukan pinjaman yang tepat, kita diwajibkan untuk melakukan checkout. Prosesnya semacam berbelanja online. Setelah pilih maka dibayar.

Bedanya adalah di tahap ini, dana kita yang telah terpotong itu masih ditahan oleh perusahaan. Menunggu hingga mencapai nominal yang diajukan atau tenggat waktu yang disepakati.

5. Pinjaman Disalurkan

Setelah mencapai nominal yang diinginkan atau waktunya sudah sampai, maka dana yang tadinya ngumpul di perusahaan, mulai disalurkan kepada peminjam.

6. Menunggu Jatuh Tempo

Tugas kita setelah dana disalurkan adalah menunggu dengan tenang hingga pinjaman jatuh tempo. Dalam skema pembiayaan ini, kita nggak bisa berhenti di tengah jalan.

Sekali maju ya maju hingga pinjaman dilunasi.

7.  Pelunasan oleh Peminjam

Saat jatuh tempo, fasilitas dilunasi oleh peminjam beserta bunganya. Dana kembali masuk ke rekening kita dan siap untuk diputar lagi.

 

Jangan ketipu dengan cerita saya yang super smooth ini ya. Karena risiko terbesarnya yaitu gagal bayar belum diceritakan di bagian ini.

 

5 Alasan Investor Pemula Wajib Hindari Investasi Peer to Peer!

Dan sampailah kita pada inti artikel ini.

hindari investasi peer to peer

Bunga bagi Peminjam Tinggi

Katakanlah kita ingin membantu pengusaha-pengusaha kecil di luar sana untuk mengembangkan usahanya. Investasi dengan tujuan yang sangat mulia.

Memberikan uang kita untuk membantu orang membangun usaha.

Tapi pernah nggak kepikiran, kalo memang benar hendak membantu rate bunga 20 % per tahun itu nggak masuk akal.

Usaha mana sih yang hari gini bisa ngasih untung lebih dari 20 % per tahun. Kan nggak mungkin minjam uang bunga 20 % demi dapat laba 20 % juga. Buat apa mereka usaha?

Mencari capek demi uang pihak lain. Buat apa? Dan di sinilah dilemanya.

Kalo bunga rendah, buat apa ada P2P? Tapi kalo bunga tinggi, apa bedanya dengan KTA bank? 

 

Tingkat Risiko tinggi

Benerr banget! Rsikonya tinggi sekali girls. Karena sewaktu kamu memberikan uangmu pada orang yang nggak pernah kamu temui, kamu harus sudah ikhlas kalo uang itu nggak bakal balik lagi.

Risikonya adalah uang kita nggak akan kembali lagi. 

Dan saya ngerti banget, di platform tersebut kita menerima jaminan yang bikin hati lega. Seperti adanya asuransi pinjaman, atau data peminjam yang bonafide.

Percaya deh, sewaktu checkout pembiayaan nggak akan terlintas sedikitpun opsi bahwa peminjam nggak mampu bayar. Kita yakin dia mampu bayar, pasti!

Sampai nanti, setelah portofolio kita berubah warna dan jawaban dari call centre masih sama saja, barulah kita mengerti bahwa uang begitu rapuh.

Sebentar di kantung dan sebentar terbang.

Bahasa kecenya : Risiko kehilangan nilai investasi hingga 100 %. 

 

Return nggak setimpal dengan Risiko

Seperti sudah dituliskan di awal. Dengan rate hanya belasan persen per tahun, tapi risiko uang kita nggak kembali sama sekali, pertanyaan yang tersisa apakah worth it?

Beberapa orang ngomong, kan nilainya lebih tinggi dari deposito bank. Kan dengan modal kecil bisa dapat untung segitu. Kan namanya investasi, pasti ada risiko.

Sekarang, saya balikin ke contoh kisah nyata berikut :

Dengan modal Rp 1 juta untuk investasi P2P, dalam waktu 5 bulan modal saya sudah nyangkut 50 %-nya yaitu Rp 500.000. Pinjaman yang nyangkut bunganya 20 % pa selama 3 bulan. Penghasilan bunga hanya Rp 25.000

Logika sederhananya : Rela kehilangan Rp 500 ribu demi untung Rp 25 ribu?

 

Kondisi Ekonomi nggak bisa diprediksi

Siapa yang setuju dengan kalimat ini?

Lihat deh pasar saham yang harganya berjatuhan setelah Mr Donald ngoceh di internet. Lihat deh mall yang semakin lama semakin sepi. Lihat deh jambret yang semakin kesini semakin rame.

Tanpa kita sadari, kondisi ekonomi dan sosial kita sedang nggak baik. Terlepas dari masih lancarnya gaji bulanan kita, atau masih lancarnya pengisian token listrik kita.

Kaitannya dengan investasi peer to peer adalah pengusaha kecil yang menjadi peminjam seringnya berada di lapisan terbawah dalam perekonomian kita.

Sewaktu kondisi ekonomi memburuk sedikit saja, mereka terpapar risiko paling tinggi. Dan sewaktu mereka terpapar risiko tersebut, kita juga ikut terpapar risiko kehilangan nilai investasi.

Demi untung Rp 25 ribu, mikirin kondisi ekonomi? ADUH!!!

 

Likuiditas rendah

Sewaktu berinvestasi dalam format lain, kita bisa kapan saja melakukan penarikan dana. Bener ya?

Katakanlah membeli saham atau reksadana dan bisa menjualnya kapan saja dengan risiko harga turun. Bagaimana jadinya dengan investasi peer to peer?

Realistis saja, uang investasi tersebut sedang digunakan pihak ketiga untuk melanjutkan usahanya. Uang tersebut ada di pihak ketiga yang sedang memutarkan uang tersebut.

Apa yang terjadi saat kita yang masih investor pemula mendadak membutuhkan uang ?

Gigit jari dan nyariin opsi KTA dong!

Karena dana investasi peer to peer baru bisa cair setelah pihak ketiga melunasi pinjaman tersebut. Dengan kondisi pembayarannya lancar ya.

Kalo yang bersangkutan nunggak, titip salam deh sama Rupiah-Rupiah tersebut!

 

Pesan Sponsor :

Bagi yang memiliki keberatan terhadap kelima alasan di atas, feel free untuk berkomentar di sini. Opini kamu sangat dihargai di wartadana.

Sementara bagi yang hatinya ragu untuk maju, maka mundurlah dan simpan uangmu dalam format lain. Rejeki kamu nggak akan hilang hanya karena melewatkan satu skema investasi.

BACA JUGA : UANG 100 RIBU BAIKNYA DIAPAIN?

BACA JUGA : 4 JENIS INVESTASI DI BAWAH 1 JUTA UNTUK PEREMPUAN MUDA

Mohon mengerti bahwa artikel ini nggak bermaksud menjelekkan pihak manapun atau mendiskreditkan institusi manapun.

Saya share ini khusus untuk investor pemula yang belum memahami mekanisme investasi. Tujuannya agar kita paham bersama sebelum melakukan investasi apapun.

In the end, thanks for visiting wartadana. Jangan lupa follow Instagram wartadanablog dan twitter di wartadanacom. Subscribe juga buat dapetin update artikel dari wartadana.

Pekanbaru, 18 Mei 2019

#girlsliftothergirlsup #2019MestiPintar

Bermanfaat kan? Ayo di-share ke yang lainnya juga!


Charlina

Masih berkarir di bidang perbankan sejak 10 tahun silam. Masih belajar banyak untuk membangun blog tentang uang dan bank yang jujur. Masih berupaya untuk menghargai hidup yang sungguh singkat ini. Dan masih ketawa norak setiap kali gajian :D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *